Suara Merdeka 02-02-2009,
Pemerintah Indonesia: Boneka Kapitalisme Asing Ditulis Oleh Bagus Tri Wasono Putro Tapi, tunggu dulu. Meski sedemikian besar kandungan sumber daya yang ada, tapi negara kita ini masih miskin! Negara kita ini banyak hutang! Kesejahteraan rakyat di negara kita ini masih sangat jauh dari nirwana. Maksudnya, masih sangat jauh di bawah garis kesejahteraan, atau mungkin memang pemerintahan kita yang tidak peduli dengan kesejahteraan rakyatnya. Bukan saya berpikir negatif, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Globalisasi yang digagas para kaum kapitalis atau biasa disebut orang-orang neo-liberal dengan dalih perkasanya "Menciptakan Kemajuan Perekonomian secara Global" sebenarnya hanyalah kebohongan belaka. Kenyataannya kesejahteraan itu hanyalah dinikmati oleh segelintir orang-orang yang berkuasa saja. Maka, hanya negara-negara majulah yang pada akhirnya akan berjaya dan berkuasa, dan semakin menginjak-injak negara-negara berkembang seperti negara kita ini. Dengan semakin dermawannya IMF (Dana Moneter Internasional) dengan segudang iming-iming dana pinjaman yang diberikan khususnya pada negara-negara berkembang, semakin besar pula peluang mereka untuk mengatur serta mengendalikan kebijakan-kebijakan sebuah negara yang telah menjadi mangsanya, seperti Indonesia. Semua itu juga tidak lepas juga dari tunduknya pemerintahan kita terhadap kebijakan-kebijakan berat sebelah yang ditetapkan oleh Organisasi Perdagangan Internasional atau WTO. Kenapa di India pernah terjadi krisis pangan besar-besaran beberapa waktu lalu? Yang pasti waktu itu semua petani di India merasakan betapa ganasnya arus globalisasi. Waktu itu, India memiliki stok beras lokal yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun, yang terjadi bukannya India mengekspor beras besar-besaran, tetapi justru malah mengimpor beras secara besar-besaran akibat sejumlah tekanan-tekanan dari WTO. Akibatnya, produksi beras lokal gulung tikar dengan datangnya beras impor tersebut. Jelas, beras impor bisa langsung mencaplok keberadaan beras lokal. Sekarang yang perlu kita amati adalah keadaan negara kita Indonesia. Sudah bertahun-tahun sumber daya alam kita dieksploitasi besar-besaran oleh pihak asing dengan pembagian keuntungan tidak seimbang. Kita yang punya sumber daya alam, kenapa harus kita yang tunduk kepada mereka? Kenapa mereka yang harus mengatur kita? Seharusnya kita lah yang harus mengatur keberadaan mereka jika memang mereka masih ingin bekerja sama dengan kita. Tapi kenyataannya, sampai saat ini pun rakyat belum merasakan setetes pun hasil bumi tanah airnya dan menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Sekarang lah saatnya kita, rakyat Indonesia, harus bersikap tegas dan berani mengambil langkah dalam menentukan masa depan dan kesejahteraan bangsa. Jika selama ini para pemimpin-pemimpin negara kita cenderung lembek dan kompromis dengan pihak asing dalam menentukan kebijakan-kebijakan terkait SDA (Sumber Daya Alam), maka sudah saatnya kita menyadari bahwa kita membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki komitmen terhadap kesejahteraan bangsa Indonesia terkait Sumber Daya Alam di tanah air kita. YAkinlah, selama pemerintahan negara kita masih tunduk terhadap kebijakan-kebijakan IMF maupun WTO, maka sampai kapanpun negara kita tidak akan pernah makmur dan sejahtera. [Non-text portions of this message have been removed]

