Komunitas Rabbi Israel Ancam Putus Hubungan dengan Vatikan [image:
Print]<http://indonesian.irib.ir/index2.php?option=com_content&task=view&id=8548&pop=1&page=0&Itemid=47>
[image:
E-mail]<http://indonesian.irib.ir/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=8548&itemid=47>
  Wednesday,
28 January 2009  [image: Sample Image]Komunitas Rabbi Israel memutuskan
hubungannya dengan Vatikan. Koran Italia, La Stampa, mengutip Koran
Jerusalem Post menulis, komunitas Rabbi Israel menyatakan memutuskan
hubungan diplomatik dan keagamaan selama Paus Benediktus XVI tidak meminta
maaf kepada komunitas Yahudi dan para korban Holocaust.

Komunitas Pendeta Yahudi Israel memprotes sikap Paus Banediktus yang
memaafkan Uskup Inggris, Richard Williamson, penolak tragedi Holocaust.
Uskup Williamson bersama sejumlah pendeta gereja katolik lainnya, 20 tahun
lalu, dikucilkan karena menentang modernisasi acara ritual keagamaan.
Williamson baru-baru ini menyatakan banyak hal terkait holocaust dan
kamar-kamar gas di kamp-kamp adalah fiktif. Dalam satu pernyataannya di
sebuah televisi Swedia, Richard Williamson mengatakan, "Saya tidak percaya
ada kamar-kamar gas dan hanya sekitar 300.000 orang Yahudi yang binasa dalam
kamp konsentrasi Nazi, bukan 6 juta orang."

CRIF, payung organisasi Yahudi Prancis, menyebut sang uskup sebagai "seorang
pendusta tercela yang hanya ingin membangkitkan kebencian berabad-abada
terhadap Yahudi." Williamson membalas: "Saya percaya bahwa bukti sejarah
menyangkal klaim 6 juta orang  telah dibinasakan dalam kamar gas sebagai
sebuah kebijakan penghapusan Yahudi oleh Adolf Hitler."

Saat ditanya mengenai pernyataan-pernyataan Richard Williamson, Kepala Juru
Bicara Vatican Pastor Federico Lombardi mengatakan bahwa semua pernyataan
sang uskup sepenuhnya tidak bisa dikaitkan dengan pencabutan sanksi
pengucilan padanya.

Elan Steinberg, Wakil Presiden American Gathering of Holocaust Survivors and
their Descendants (Kumpulan Warga Amerika Korban Selamat Holocaust dan Garis
Keturunannya), sebelum Vatikan mengumumkan dekrit, sudah menyebut keputusan
itu melukai bangsa Yahudi. Dikatakanya, "Untuk orang Yahudi dan semua orang
yang kesakitan melewati tahun-tahun Shoah (malapetaka, istilah resmi Yahudi
untuk "holocaust") yang penuh marabahaya, perkembangan dari Vatican ini
menandai satu ledakan berbahaya terhadap dialog antaragama dan mempersubur
para penjual kebencian dimanapun."
 Last Updated ( Wednesday, 28 January 2009 )


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke