Harian Duta Masyarakat

Selasa, 03 Februari 2009
Ansor Lahir dari NU
GERAKAN Pemuda Ansor (GP Ansor), kelahirannya, diwarnai semangat
perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor
terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda
pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus
spirit keagamaan. Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan
Ansor, dan Barisan Ansor Serbaguna sebagai bentuk perjuangan Ansor
nyaris melegenda. Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan
penumpasan G30S, peran Ansor sangat menonjol.

Dalam buku Gerak Langkah Pemuda Ansor: Sebuah Percikan Sejarah
Kelahiran, karya Choirul Anam disebutkan, Ansor dilahirkan dari rahim
Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi �konflik�� internal dan
tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh
tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan,
organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan
mubaligh, dan pembinaan kader. KH Abdul Wahab Chasbullah, tokoh
tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya
menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat
untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.

Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung
KH Abdul Wahab ,yang kemudian menjadi pendiri NU membentuk wadah dengan
nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi
cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami
perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan
Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Nama Ansor ini merupakan saran KH Abdul Wahab (ulama besar sekaligus
guru besar kaum muda saat itu), yang diambil dari nama kehormatan yang
diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa
dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO
dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap,
perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat
predikat Ansor tersebut.

Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada
nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan
bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran
Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO
(GP Ansor).

Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris
belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU
saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar
NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24
April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda
NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua
Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam (tanggal 24
April itulah yang kemudian dikenal sebagai tanggal kelahiran Gerakan
Pemuda Ansor).

Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang
mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut BANOE (Barisan
Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna).
Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di Kongres ini, BANOE
menunjukkan kebolehan pertama kalinya dalam baris berbaris dengan
mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua
ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor
TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namanya tetap dikenang dan bahkan
diabadikan sebagai salah satu jalan di kota Malang.

Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah
didirikannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan
Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe.

Pada masa pendudukan Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh
pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945
� 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, melempar
mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat
sambutan positif dari KH. Wahid Hasyim � Menteri Agama RIS kala
itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun
kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda
Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).

GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi
organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak
kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat
ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di
bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Propinsi) hingga ke
tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus
BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan
tersendiri di tengah masyarakat.

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan
tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam
perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan
eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik
dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran
maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap
episode sejarah perjalanan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran
yang stategis dalm setiap pergantian kepemimpinan nasional. (rn)





Harian Duta Masyarakat

Selasa, 03 Februari 2009    Apa Maksud Saiful?    SURABAYA �
Munculnya komentar Ketua Umum PP GP Ansor Saifullah Yusuf yang
mengatakan �Ansor tanpa NU masih bisa berdiri� menyita
perhatian segenap jajaran PWNU Jatim.

Meski rata-rata enggan mengomentari dan lebih memilih no comment. Namun
kata-kata yang diungkapkan Gus Ipul - panggilan Saifullah Yusuf -
seakan-akan tidak memahami sejarah berdirinya Gerakan Pemuda (GP) Ansor.
Karena asal mula berdirinya GP Ansor adalah Anshoru Nahdlatul Oelama
(ANO).

Sekretaris PWNU Jatim, H Masyhudi Muchtar menilai persoalan tersebut
masih multi tafsir, karena maksud dari perkataan yang dilontarkan Gus
Siful masih perlu diperdalami lagi. �Kalau urusan ini no
comment-lah. Karena masih belum jelas apa maksudnya,� kata Cak Hudi
- panggilan akrab Masyhudi Muchtar - saat dihubungi Senin (2/2).

Lebih lanjut, Cak Udi menolak kalau persoalan ini dikait-kaitkan dengan
NU. Meski keberadaan GP Ansor dalam organisasi NU merupakan salah satu
Badan Otonom (Banom) yang terdiri dari kalangan anak muda NU. �Saya
kira itu adalah emosional anak-anak muda,� tutur Cak Udi.

Sementara itu, Katib Syuriah PWNU Jatim KH Abdurrahman Navis Lc,
mengatakan perlu dilihat dulu kedudukan Gus Iful ketika melontarkan
komentar tersebut. Namun ketika dimintai komentar terkait pernyataan Gus
Ipul, Kiai Navis lebih memilih diam. �Biar ini menjadi urusan
internal NU saja,� ungkap Kiai Navis yang tidak mau berkomentar
lebih jauh terkait persoalan ini.(sir)

http://dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=10372
<http://dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=10372>






Harian Duta Masyarakat     Senin, 02 Februari 2009    Gus Ipul: Tanpa
NU, Ansor Tetap Berdiri
MOJOKERTO � Nahdlatul Ulama (NU), yang pada 31 Januari lalu genap
berusia 83, telah melahirkan Gerakan Pemuda Ansor. Badan otonom ini,
dilahirkan sebagai elemen pemuda. Meski demikian, Ketua Umum Pengurus
Pusat (PP) GP Ansor, Saifullah Yusuf, berharap agar Ansor tidak terlalu
tergantung kepada NU.

Sebab, menurut Saiful, tanpa NU Ansor tetap sebagai benteng ulama. Tanpa
NU, Ansor tetap bisa berdiri. Calon Wakil Gubernur Jawa Timur ini
menyentil, selama ini embel-embel NU tidak pernah ada di belakang GP
Ansor. Hal itu sangat berbeda dengan banom NU lainnya. Cawagub Jatim
yang akrab disapa Gus Ipul ini mencontohkan, kata-kata Muslimat yang
selalu diberi embel-embel NU.

�Kalau Ansor ya cukup GP Ansor, tidak ada GP Ansor NU. Tapi kalau
Muslimat selalu ada tambahan di belakangnya, yakni Muslimat NU. Itu
artinya, tanpa NU sekalipun Ansor tetap berdiri. Dan tanpa NU, Ansor
tetap sebagai benteng ulama,� kata Gus Ipul setengah menyindir saat
memberikan sambutan dalam acara pelantikan Satkorcab Banser GP Ansor
Kabupaten Mojokerto, Ahad(1/2).

Agaknya, Saifullah Yusuf lupa akan sejarah berdirinya organisasi yang
dipimpinnya. GP Ansor, semula bernama Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO),
yang dalam berjalanan sejarahnya kemudian berubah menjadi GP Ansor.

Khusus kepada ratusan Banser yang hadir, Gus Ipul berpesan agar mereka
selalu siap jika dibutuhkan tenaganya. �Sejarah bangsa ini telah
mencatat, baik Ansor maupun Banser, punya andil besar dalam membangun
negeri ini. Semua itu harus tetap kita jaga,� tegasnya. (van)



http://dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=10341
<http://dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=10341>



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke