Arkilaus sent [email protected], 
[email protected], Ita Wahab, 
[email protected], [email protected], Wilis Arif Afandi, 
[email protected], [email protected] and 
[email protected] a message on Facebook.

Jakarta, 01 Februari 2009. Struktur teritori militer mendominasi pedalaman dan 
perkotaan di Papua. Kewenangan Militer dianggap solutif bagi pengamanan wilayah 
dan juga pengamanan aset negara \" Tambang \". Legitimasi Papua dengan bayangan 
militer sudah membosankan, bahkan sejumlah kalangan menilai keberadaan prajurit 
TNI-POLRI selama di Papua tidak menjamin keaman rakyat.

Dalam tahun 2008 tiga dari seluruh wilayah di Papua masih rawan sering terjadi 
tindak kesewenangan menimbulkan kekerasan bagi rakyat ( Baca; Kontras ) dalam 
analisisnya selama 2008 fakta kekerasan masih ada. Selain data yang di paparkan 
kontras Papua, situasi sebeanrnya tak menentu. Kebayakan dari data Kontras, 
korban tindak kekerasan yang terjadi dari Desember 2008 hingga Januari 2009, 
antara lain Wilinus Kogoya, warga Kampung Yugumbut Distrik Gamelia. Ia adalah 
korban tewas akibat salah tembak oknum polisi, Jhon Rumbiak di Pos Polisi Pasar 
Jibama, Wamena pada 28 Desember 2008.

Setiap tahun publik pasti di hebohkan dengan hiruk pikuk konflik. Freeport dan 
Timika, satuan konflik yang tak ada obat penyelesaian sampai sekarang. Walaupun 
Timika dan Freeport sampai seluruh Papua di Jaga Militer malah kondidi tidak 
aman, dan membuktikan harus dikeluarkan militer dari Papua.

Belum kuat kontrol publik di Papua memberi ruang bagi militer untuk jaya. 
Bayangkan, di tengah kontrol Papua dikendalikan oleh Militer, otomatis ruang 
kebebasan pasti terbungkam. Dengan kekuatan teritori militer yang dominan 
inilah, tidak salah jika Para Calon Presiden ataupun GUbernur dan Bupati harus 
menyepakati sebuah MOU dahulu untuk mendapat suara menang.

Embrio konflik di Papua hampir bernuansa proyek militer. Operasi pengembalian 
senjata di Tingginambut punya dana juga. Begitu juga, konsentrasi aparat dari 
berbagai satuan untuk memblokade kota-kota seperti pembubaran posko di Taman 
Makam They. Sebelumnya, Timika yang pusatnya konflik selama ini kembali 
terjadi. Dinamika konflik memang sebuah lahan basah yang tidak bisa di atasi, 
hanya dengan berunding dang menarik semua pasukan dari Tanah Papua menuju 
kondisi stabilitas sosial yang di dambakan.
Diposkan oleh MEJA PAPUA BARAT 

To reply to this message, follow the link below:

http://www.facebook.com/p.php?i=1405811001&k=55LY6WR4RZXMXDDHYAZXV



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke