Semen Gresik
Kampung Samin Menolak Semen
Masyarakat Sukolilo menolak pembangunan pabrik semen. Bentrokan penduduk dan 
polisi.

RANTAI besi kini memasung Sarilah, menjerat kakinya ke tempat tidur kayu di 
rumahnya. Dipasang keluarganya sejak Selasa pekan lalu, rantai ini menghalangi 
niat perempuan 55 tahun itu terjun ke sumur di halaman rumah. Ia hanya bisa 
duduk di ubin. 
Perilaku penduduk Desa Kedumul­yo, Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, itu 
berubah sejak tiga pekan lalu. Ia tak henti berteriak, ”Tanahku ojo dijaluk…. 
Tanahku ojo dijaluk….” Ia histeris setelah mengikuti demonstrasi menentang 
proyek pembuatan pabrik PT Semen Gresik di kawasan itu, pada 21 Januari. 
Bersama ratusan penduduk desanya, Sarilah awalnya mempertanyakan kabar 
penggunaan tanah bengkok untuk pendirian pabrik. Spanduk dibentangkan, di 
antaranya berbunyi: ”Menolak Pembebasan Tanah Bengkok untuk PT Semen Gresik!!” 
Mereka hendak menemui Kepala Desa, tapi gagal. Esoknya, demonstran kembali 
berkumpul. Pada saat yang sama, 13 petugas lapangan Semen Gresik dengan enam 
mobil berusaha masuk Desa Kedumulyo. 
Massa menghadang rombongan dengan tumpukan batu dan kayu. Aksi ini dilakukan 
hingga petang. Pasukan Brigade Mobil datang berseragam hitam-hitam, hendak 
membebaskan rombo­ng­an. Bentrokan pun pecah. 
Empat mobil rombongan hancur dilempari batu. Sembilan penduduk ditangkap. 
Polisi sempat menarik dan melempar Sarilah hingga terjatuh. 

l l l
PABRIK semen senilai Rp 3,5 triliun itu akan mengambil bahan baku batu gamping 
dari pegunungan di ­Kendeng Utara. Mengeruk 2,5 juta ton batu kapur, Semen 
Gresik berencana berope­rasi selama 35 tahun. 
Diperlukan 1.025 hektare untuk pa­brik serta penambangan kapur dan tanah liat. 
Dari 700 hektare tanah kapur, 430 hektare milik PT Perhutani dan sisanya milik 
rakyat. Proyek ini meliputi empat desa: Kemisik, Gadudero, Kedumulyo, dan 
Sumbersoko.

 
Begitu mengetahui rencana pembangunan pabrik, dua tahun lalu, masyarakat 
menolak. Gunretno, penduduk Sukolilo, paling bersemangat meng­ajak para 
tetangganya menolak pembangunan pabrik. 
Gunretno keturunan Samin—komunitas yang muncul sebagai penolakan terhadap 
kolonialisme Belanda—yang mengandalkan kehidupannya pada pertanian. Ia 
mengharamkan penjual­an tanah. ”Prinsip itu sudah turun-temurun,” katanya. 
”Kalau tanah dijual, anak-cucu kami bisa apa?” 
Gunretno merupakan keturunan kelima dari Samin Surosentiko, penyebar ajaran 
Saminisme. Pada masa penjajah­an Belanda, Samin menyebarkan perjuangan melawan 
perampasan tanah penduduk dan menentang pembayaran pajak. 
Pemeluk ajaran dan keturunan Samin biasa disebut Sedulur Sikep. Menurut 
Gunretno, ada 1.200 pengikut Samin di Pati. Tapi, belakangan, penolakan 
pembangunan pabrik Semen Gresik tak hanya menyebar di kalangan Sedulur Sikep. 
Warga Sukolilo lain pun khawatir pembangunan pabrik dan penambang­an akan 
merusak pegunungan Kendeng Utara. Selama ini, Kendeng Utara merupakan sumber 
mata air mereka. 
Menurut Gunretno, warga tak segan mengeluarkan uang setiap kali melakukan aksi 
penolakan pembangunan pa­brik. Untuk keperluan transportasi, misalnya, warga 
siap mengeluarkan Rp 10 ribu. Mereka menyewa truk untuk berdemonstrasi ke Pati. 
Pada saat demo di Kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang, warga tak keberatan 
”bantingan” hingga Rp 20 ribu per orang. Ribuan orang biasa mengikuti aksi ini. 
Menurut Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, Sapari, penolakan 
meluas karena masyarakat sadar dampak buruk pembangunan pabrik. Beberapa 
lembaga swadaya masyarakat pun aktif menggiring penolakan pendirian pabrik 
semen. Di antaranya Pemuda Tani, Society for Health, Education, Environment and 
Peace (SHEEP) Jawa Tengah, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, 
Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air, dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. 
Sejak pertengahan 2008, SHEEP membuat rekaman kehidupan masyarakat yang tinggal 
di sekitar pabrik Semen Gresik di Tuban, Jawa Timur. Dalam format cakram padat 
berdurasi 10 menit, video menayangkan dampak buruk pembangunan pabrik semen.

 
Rekaman ini menyebar dengan cepat ke warga Desa Sukolilo. ”Masyarakat 
menyalinnya sendiri,” kata Gunretno. Selain oleh rekaman, penolakan warga 
diperkuat oleh hasil penelitian dari Universitas Pembangunan Nasional 
Yog­­yakarta yang bekerja sama dengan ASC Yogyakarta. 
Hasil penelitian menyebutkan ka­wa­san karst Kendeng Utara memiliki 143 sumber 
air yang bersifat pare­nial atau terus mengalir dalam debit yang konstan 
meskipun pada musim kemarau. Hampir 90 persen suplai air dari kawasan karst 
Kendeng Utara dinikmati masyarakat di tiga kecamatan di Pati, yakni Sukolilo, 
Kayen, dan Tambakromo. 
Kompleks perguaan kawasan karst Kendeng Utara memiliki potensi sumber daya air 
untuk kebutuhan dasar lebih dari 8.000 rumah tangga serta lebih dari 4.000 
hektare lahan pertanian. Menurut peneliti ASC, A.B. Rodial Falah, kawasan karst 
berfungsi juga sebagai zona penyerap air dengan kedalaman 10-30 sentimeter. 
Jika pembangunan pabrik dilanjutkan, kata Falah, daerah Pati akan rawan banjir. 
Selain sumber mata air, katanya, ditemukan gua-gua aktif di bawah tanah dan 
fauna langka. 
Sesuai dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1456 Tahun 
2000, seharusnya kawasan karst Kendeng Utara masuk kelas -1 atau daerah yang 
harus dilindungi dan bebas dari area penambang­an. Hanya daerah kelas 2 dan 3 
yang dapat dijadikan area penambangan. 
Di samping itu, kata Falah, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 
2008 tentang Rencana Tata Wilayah Nasional, ”Semua kawasan karst dilindungi.” 
Dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Diponegoro, bekerja sama 
dengan Badan Lingkungan Hidup Jawa Tengah, datang hasil berbeda. 
Setelah melakukan kajian dampak lingkungan, mereka memberikan lampu hijau atas 
pendirian pabrik semen. Menurut salah satu anggota tim, Dwi P. Sasongko, 
kegiatan penambang­an, pembangunan, dan pengoperasian pabrik semen serta 
pembangunan dan pengoperasian jalan produksi berpotensi membawa dampak terhadap 
lingkungan. ”Namun dampak ini tidak sampai mengubah skala kualitas lingkungan 
secara drastis,” ujarnya.

 
Dampak lingkungan, kata Dwi, diminimalisasi selama proses pertambangan memenuhi 
kriteria dan persyaratan. Syarat pembangunan pabrik, di antaranya, tetap 
mempertahankan zona tangkapan dan resapan air serta menyediakan daerah 
penyangga 50 meter ke arah sisi dalam. 
Menurut Manajer Umum Persiap­an Proyek Semen Gresik Sofyan Heri, dari 
penelitian Universitas Diponegoro hanya ditemukan enam titik sumber mata air 
dalam keadaan kering. ”Sebaliknya, pembangunan pabrik akan memberikan dampak 
positif dengan meningkatkan ekonomi rakyat lewat penyerapan tenaga kerja.” 
Untuk menghindari konflik berke­panjangan, kata Sofyan, perusahaannya juga 
memutuskan tak menggunakan tanah milik Sedulur Sikep seluas 250 hektare di 
kawasan Kasian, Batu­rejo, dan Gadudero. 

l l l
BATALNYA pembebasan tanah di lahan warga Sedulur Sikep tak mempe­nga­ruhi sikap 
Gunretno. Ia tetap mengkhawatirkan kelestarian mata air. Begitu juga Sarilah 
dan Ngatmo, suami­nya, yang khawatir kehilangan sumber penghasilan. 
Mereka memiliki sawah 250 meter persegi dan ladang 500 meter persegi. Dari 
lahan itu mereka selama ini memanen padi dan palawija. Tak kuat menahan beban, 
Sarilah mengalami stres. Penyakit jiwa yang dideritanya sembilan tahun lalu 
kambuh. 
”Tanahku ojo dijaluk,” ia berteriak. Ia pun terjun ke sumur sedalam lima meter 
di depan rumahnya, Selasa pekan lalu. Beruntung, suaminya segera menyelamatkan 
Sarilah—walau kini ia terpasung di rumah sendiri. 
Yuliawati, Rofiuddin (Pati)
 
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/02/09/NAS/mbm.20090209.NAS129470.id.html

 
http://media-klaten.blogspot.com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke