http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/14/opi01.html


Dampak Resesi terhadap Pertanian Indonesia   
Oleh
Viktor Siagian

Krisis keuangan global di Amerika Serikat yang berimbas pada resesi di sebagian 
belahan dunia juga berimbas pada dunia pertanian Indonesia. Resesi yang 
ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat bahkan negatif dan melemahnya 
daya beli masyarakat. Selanjutnya menurunkan permintaan sebagian besar 
komoditas barang dan jasa termasuk komoditas pertanian. Komoditas andalan 
ekspor yang melemah permintaannya itu antara lain karet, kelapa sawit, kopi, 
cocoa, teh dan komoditas perikanan seperti udang beku, tuna dan cakalang, dan 
komoditas kehutanan yakni pulp dan kertas.

Akibatnya melemahnya permintaan komoditas pertanian ini harga bergerak turun. 
Perbandingan harga sejumlah komoditas pada Januari 2008 dan Desember 2008 
(berdasarkan data FAO 2009): beras Thailand jenis A1 super (medium) turun 15% 
dari US$ 365/ton menjadi US$ 310/ton, harga jagung turun 28% dari US$ 204/ton 
menjadi US$ 147/ton, harga kacang kedelai turun 30% dari US$ 541/ton menjadi 
US$ 378/ton. Demikian juga harga komoditas ekspor perkebunan seperti CPO sudah 
turun 54% dari US$ 1.059/ton pada Januari 2008 menjadi US$ 488/ton pada 
November 2008, harga kopi turun 35% dari US$ 2.300/ton pada Januari 2008 
menjadi US$ 1.500/ton pada Desember 2008. Harga karet kering (crumb rubber) 
turun 33% dari Rp 23.700/kg pada September 2008 menjadi Rp 16.000/kg pada 
November 2008, dan sebagainya. 

Lantas apakah petani masih untung dengan harga di atas? Jawabannya ya! Hanya 
marginnya menurun tajam. Karet rakyat biaya produksinya kurang lebih Rp 2,5 
juta/ha/tahun dengan produksi rata-rata 1.200 kg/tahun, jadi sekalipun harga di 
tingkat petani Rp 6.000/kg, petani masih untung Rp 4,8 juta/tahun/ha. 
Keuntungan itu sudah tidak layak untuk hidup normal. Juga kelapa sawit, biaya 
produksi lebih rendah kurang lebih Rp 2,0 juta/ha/tahun dengan rata-rata 
produksi 1.500/kg Tandan Buah Segar (TBS). Jadi, jika harga di tingkat petani 
Rp 600/kg TBS, petani masih untung Rp 8,8 juta/ha/tahun. Biaya hidup normal 
dibutuhkan sedikitnya Rp 1,1 juta/bulan atau Rp 13,2 juta/tahun. 

Pasar Dalam Negeri
Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah agar petani mampu bertahan di tengah 
krisis seperti ini. Pertama adalah meningkatkan produktivitas komoditas 
pertanian. Masih banyak petani kita yang kurang optimal dalam penggunaan pupuk, 
berbagai alasan dikemukakan seperti harga pupuk mahal, pupuk sulit didapat, 
modal kurang atau tanah masih subur. Peranan aparat penyuluh pertanian sangat 
diperlukan di sini. Subsidi pupuk kepada pekebun rakyat, swasta dan negara 
perlu dipertimbangkan. Harga jual kepada pelaku ekonomi ini sebaiknya disamakan 
saja dengan petani tanaman pangan. Ini adalah salah satu stimulus fiskal dari 
pemerintah. Hal ini juga untuk mengurangi kelangkaan pupuk dalam negeri. 

Kedua adalah memperluas lahan pertanian, pemanfaatan lahan-lahan telantar di 
seluruh tanah air atau lahan kritis yang layak dibudidayakan sangat diperlukan 
terutama bagi petani berlahan sempit/gurem. Petani pekebun yang sudah memiliki 
lahan milik 2 ha tidak perlu diberikan, tapi yang memiliki 1 ha ke bawah layak 
diberikan, sehingga mampu hidup dengan taraf normal. Hal ini juga sekaligus 
untuk menjalankan reformasi agraria di Indonesia. Reformasi agraria terutama 
land reform ini dapat dijalankan secara terbatas sesuai dengan ketersediaan 
lahan dan dana. 

Ketiga adalah memperkuat pasar dalam negeri. Konsumen domestik saat ini masih 
belum dapat menikmati harga terjangkau dari komoditas perkebunan seperti kopi, 
minyak goreng, cokelat, dan jagung. Mungkin pedagang masih menggunakan stok 
lama dengan harga pembelian yang lama. Penurunan harga ini akan dapat 
meningkatkan daya beli masyarakat. Apalagi pemerintah sudah menurunkan harga 
BBM. Agar lebih berdampak pada penurunan harga pemerintah dapat membuat 
peraturan dan menekan Organda agar ongkos transportasi segera turun. 


Menstabilkan Harga Beras
Keempat, menurunkan tingkat suku bunga. Suku bunga saat ini relatif tinggi dan 
tidak akomodatif bagi dunia usaha pertanian, apalagi investasi di bidang 
perkebunan yang memiliki grace period 4-5 tahun. Amerika Serikat misalnya 
menurunkan tingkat suku bunganya sampai hanya 0,25%/tahun agar masyarakat dan 
pelaku usaha bergairah untuk berinvestasi. Karena resesi ini melanda sebagian 
dunia maka untuk menarik investor dari luar negeri dan mencegah larinya mata 
uang dolar sangat tidak mungkin untuk saat ini. Apalagi tingkat inflasi kita 
relatif rendah. Pemerintah sudah menurunkan BI rate 50 basis poin lagi menjadi 
8%/tahun. Suku bunga kredit juga diharapkan turun agar daya beli masyarakat 
meningkat.

Kelima, mempertahankan nilai dan volume ekspor dengan kondisi yang ada saat 
ini. Sekalipun jumlah dan nilai ekspor pertanian kita mengalami penurunan, tapi 
kita harus dapat mempertahankannya dengan melakukan berbagai strategi 
pemasaran, seperti peningkatan daya saing melalui peningkatan mutu termasuk 
standardisasi, packaging, dan kesinambungan produksi. Depresiasi rupiah 
terhadap dolar AS harus dimanfaatkan sebagai peluang pasar dengan menurunkan 
harga jual. Petani atau produsen primer umumnya menjual dalam bentuk rupiah. 
Keenam, mengurangi jumlah impor kita agar daya beli masyarakat dapat 
ditingkatkan dan peluang pasar produk dalam negeri lebih terbuka. 

Bagaimana dengan produksi beras kita yang tahun ini diperkirakan 63,5 juta ton 
gabah kering giling atau surplus 5 juta ton beras? Dengan harga jual di pasar 
internasional yang lebih rendah dari harga di dalam negeri, lebih baik jika 
surplus itu dibuat untuk operasi pasar untuk menstabilkan harga daripada 
diekspor. Harga beras medium di tingkat eceran saat ini Rp 5.500-6.000/kg, 
perlu diturunkan sampai harga yang terjangkau misalnya Rp 4.000- 4.500/kg. Dana 
puluhan triliun untuk penanggulangan kemiskinan perlu dialihkan untuk 
mengembalikan fungsi Bulog sebagai lembaga penyangga pangan, sehingga harga 
yang diterima petani tetap menguntungkan dan harga jual ke konsumen tetap 
terjangkau. 

Penulis adalah alumnus IPB. Magister Sains Ilmu Ekonomi Pertanian dari Sekolah 
Pascasarjana IPB. Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) 
Sumsel, Badan Litbang Deptan, Palembang.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke