Skandal CIA
Pudarnya Sinar Rising Star CIA

Nama Andrew Warren belakangan menjadi buah bibir. Ini terjadi setelah situs ABC 
News mengungkapkan kasus pemerkosaan yang dituduhkan kepadanya. Andrew Warren 
adalah Kepala Perwakilan Central Intelligence Agency (CIA) di Aljir, Aljazair. 
ABC News membeberkan pengakuan tertulis Warren ketika diperiksa Departemen Luar 
Negeri Amerika Serikat.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Robert A. Wood, membenarkan 
berita tersebut. "Andrew Warren sudah kembali ke Washington, dan pemerintah 
kini menyelidiki kasus itu," katanya. Namun pihak Departemen Kehakiman Amerika, 
yang memeriksa kasus tersebut, menolak berkomentar. Kasus itu didaftarkan di 
Pengadilan Washington, DC, akhir Januari lalu.

CIA belum memberi tanggapan atas kasus yang menimpa Andrew Warren itu. Juga 
belum memberi gambaran tuduhan dan hukuman apa yang bakal diterima Warren. 
"Tiap tindakan yang menyimpang akan kami usut secara serius dan menyeluruh," 
kata Paul Gimigliano, juru bicara CIA.

Bagi intelijen dunia, Aljazair adalah negara yang penting, terutama sejak 
peristiwa pengeboman World Trade Center (WTC) pada 9 September 2001. Tak lain 
karena negara itu menjadi tempat "persembunyian" orang-orang Al-Qaeda. 
Organisasi ini mendapat perlindungan dari Islamic Maghreb, yang terang-terangan 
menyatakan persekutuannya dengan jaringan pimpinan Osama bin Laden itu.

Amerika Serikat sangat membutuhkan kerja sama dengan Pemerintah Aljazair untuk 
mengejar dan menangkap orang-orang Al-Qaeda. Sedangkan Andrew Warren bergabung 
dengan CIA sebelum peristiwa "9/11". Namun, baru sekali mendapat penugasan ke 
luar negeri, Warren mengundurkan diri. Ia lantas bekerja di sektor keuangan di 
Manhattan, New York.

Pasca-peristiwa WTC, konon hatinya tergugah. Ia kembali bekerja untuk CIA. 
Warren dengan mudah diterima kembali oleh CIA karena tekanan atas badan 
intelijen ini demikian berat. Banyak yang mengkritik kurang cakapnya agen-agen 
CIA ketika berhadapan dengan persoalan menyangkut teroris.

Andrew Warren adalah sosok agen CIA yang tepat untuk menjawab tekanan itu. 
Lahir dengan darah Afrika-Amerika, Warren adalah seorang mualaf. Pria berusia 
41 tahun ini juga pandai membaca dan melafalkan Al-Quran. Bahasa Arab pun 
dikuasainya dengan fasih. Dengan wajah yang tidak jauh-jauh dari kebanyakan ras 
Arab, Warren dengan mudah bisa diterima di lingkungan Islam.

Tak mengherankan bila di lingkungan CIA, Warren kerap dijuluki sang "Rising 
Star". Negara pertama tempat Warren bertugas adalah Afghanistan. Ketika Amerika 
memimpin invasi ke negara itu, Warren memegang peran cukup krusial. Ia dengan 
mudah bisa melebur dalam masyarakat di Kabul, mengikuti salat Jumat, dan 
berbincang-bincang dengan mereka.

Setelah bertugas di Afghanistan itu, Warren dipindahkan ke pos di Mesir. Sejak 
2008, ia menempati pos barunya di Aljazair. Warren tidak ditugaskan sebagai 
agen saja, melainkan juga dipercaya memegang kendali operasi CIA di negara 
tersebut.

Meski paham budaya Arab, Warren tetap menjalankan budaya Barat. Ia menggelar 
pesta pribadi di rumahnya, mengundang orang-orang dari Kedutaan Amerika Serikat 
di sana. Pesta macam ini pula yang akhirnya membawa persoalan bagi Warren. Pada 
September 2007, seorang pegawai Kedutaan Amerika mengundang seorang wanita 
untuk ikut dalam pesta yang digelar Warren. Keduanya berkenalan, dan Warren 
sendiri yang menyuguhkan minuman kepada wanita itu.

Wanita pertama adalah orang Aljazair, tapi lebih banyak tinggal di Spanyol. Ia 
kerap berkunjung ke kampung halamannya untuk menjenguk keluarga dan kerabat. 
Dalam pengakuannya, wanita ini pertama kali berkenalan dengan Warren di Kairo 
dalam sebuah pesta yang diselenggarakan Kedutaan Amerika di sana. Perkenalan 
ini berlanjut dengan kunjungan wanita itu ke kediaman Warren di Aljir pada 17 
Februari tahun lalu.

Mereka menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap. Warren bahkan sempat 
mengabadikan wajah wanita itu lewat telepon genggamnya. Warren juga menyuguhkan 
Martini kepadanya. Namun, setelah gelas kedua, wanita itu mengaku kehilangan 
kesadaran, badannya lemas. Begitupun, ia masih ingat bagaimana Warren melucuti 
pakaiannya dan membaringkannya di tempat tidur.

Beberapa hari kemudian, wanita itu mengirim pesan singkat (SMS) yang isinya 
menuduh Warren telah melecehkannya. Jawaban Warren singkat saja: "Maaf." Dalam 
dokumen pemeriksaan, wanita itu mengaku telah melaporkan kejadian tersebut 
kepada suami dan psikolognya. Namun tidak segera memberitahukannya ke Kedutaan 
Amerika hingga ia kembali ke Aljir pada September tahun lalu.

Ketika laporan itu disampaikan kepada pihak kedutaan, satu kasus serupa lainnya 
lebih dulu diterima. Kasus ini menimpa wanita kelahiran Aljazair, tapi 
berkewarganegaraan Jerman. Perempuan ini mengaku mendapat pelecehan seksual 
dari Andrew Warren. Peristiwanya terjadi pada pesta yang digelar Warren di 
kediamannya pada bulan Agustus dan September.

Lagi-lagi, Warren memperdaya wanita itu lewat minuman, yang membuatnya hilang 
kesadaran, tak berdaya, dan bangun dalam keadaan tanpa busana keesokan harinya. 
Wanita itu melaporkan kejadian tersebut pada 1 Juni 2008. Dalam dokumen 
pemeriksaan, ada saksi mata yang mengatakan bahwa Warren merekam semua kelakuan 
wanita tadi sepanjang pesta dengan video.

Warren menolak semua tuduhan pemerkosaan itu. Menurut pengakuan Warren, 
kejadian itu didasari kondisi suka sama suka. "Tak ada pemaksaan. Semua terjadi 
karena kesepakatan," kata Warren, seperti tertulis pada dokumen pemeriksaan. 
Warren memang mengaku mengabadikan dua wanita itu. Foto mereka, kata Warren, 
ada di komputer jinjingnya.

Sampai berita ini diturunkan, keberadaan foto-foto itu belum terungkap. Andrew 
Warren sendiri, sejak Oktober lalu, ditarik kembali ke Washington, DC.

Kasus yang menimpa Andrew Warren ini menjadi satu pukulan berat bagi 
pemerintahan Presiden Barack Obama. Usaha Obama mengambil hati negara-negara 
Islam dan memperbaiki citra Amerika Serikat di mata mereka dilakukan sejak ia 
mulai menjadi presiden. Wawancara perdana Obama sebagai Presiden Amerika 
Serikat dilakukan dengan stasiun televisi Arab. Sayang, usaha itu dikotori 
berita tentang pemerkosaan tadi.

Kasus ini sebenarnya diketahui jauh-jauh hari oleh CIA. Buktinya, Warren 
kemudian ditarik kembali ke markas pusat CIA jauh sebelum kasus ini terungkap. 
Namun CIA terkesan menutup-tutupinya. Kalau saja ABC News tidak mengungkapkan 
hal ini, mungkin kasus Warren itu akan rapi masuk peti es. Tapi, 
sepandai-pandai menutup bangkai, baunya pasti tercium jua. Tinggal sekarang, 
pihak CIA harus siap menerima pukulan balik dan reaksi atas kasus tersebut.

Pemerintah Aljazair pun langsung mengambil sejumlah kebijakan. Salah satunya, 
seperti dilansir harian El Khabar, ialah larangan menyewakan properti kepada 
Kedutaan Amerika Serikat.

Carry Nadeak
[Internasional, Gatra Nomor 13 Beredar Kamis, 5 Februari 2009] 
http://gatra.com/artikel.php?id=123111


      

Kirim email ke