http://www.antara.co.id/arc/2009/2/17/presiden-harapkan-tabungan-perumahan-pns-naik/

*Presiden Harapkan Tabungan Perumahan PNS Naik*


*Lamongan* (ANTARA News) - *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono* mengharapkan
adanya pembahasan tentang kenaikan tabungan perumahan bagi pegawai negeri
sipil (PNS) melalui Badan Pengelola Tabungan Perumahan (Bapertarum) agar
bantuan uang muka kepemilikan rumah dapat meningkat.

Hal tersebut disampaikan Presiden saat meresmikan proyek pembangunan 100.000
unit rumah yang dibangun oleh pengembang anggota Real Estate Indonesia (REI)
di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Selasa.

"Pada tahun 2004 untuk PNS golongan I gajinya memang Rp700.000 namun saat
ini Rp1,7 juta, tentu perlu ada kenaikan nilai tabungan yang dikelola
Bapertarum," kata Presiden.

Hal tersebut disampaikan Kepala Negara menanggapi permintaan Ketua Umum DPP
REI Teguh Satria yang mengatakan bantuan uang muka perumahan bagi PNS dari
Bapertarum relatif kecil karena nilai tabungan wajib yang dipungut pun sejak
1993 tidak meningkat.

"Saat ini nilai tabungan perumahan PNS berkisar antara Rp3.000 hingga
Rp10.000. Hal tersebut mengakibatkan nilai bantuan uang muka hanya berkisar
antara Rp1 juta hingga Rp2,1 juta," katanya.

Demikian juga dengan pembayaran uang muka perumahan oleh prajurit TNI dan
anggota Kepolisian, Satria mengatakan perlunya ada peningkatan jumlah
tabungan wajib perumahan prajurit TNI dan anggota Kepolisian.

Meski mendukung adanya kenaikan nilai tabungan perumahan tersebut, namun
Presiden meminta agar pihak-pihak yang berkepentingan untuk merumuskan hal
tersebut.

"Saya tidak akan menentukan jumlahnya, silahkan dibahas oleh pihak-pihak
yang terkait baik kementerian maupun lembaga. Kepada Panglima TNI dan
Kapolri juga silahkan lihat lagi bagaimana," kata Presiden.

Sementara itu terkait masukan DPP REI agar pemerintah memberikan sejumlah
kebijakan di bidang kepemilikan apartemen dan juga pengurusan surat
pertanahan sehingga warga negara asing tertarik untuk berinventasi properti
di Indonesia, Presiden meminta agar hal tersebut dilihat secara mendalam dan
diperhitungkan implikasinya.

"Setiap kebijakan yang dikeluarkan harus memberikan keuntungan bagi negara
dan masyarakat. Bila di negara lain bagus, tapi tidak cocok di sini jangan
buru-buru diterapkan," tegasnya.

Teguh Satria menyampaikan usulan tersebut karena melihat potensi
perkembangan apartemen di dalam negeri cukup menjanjikan bila aturan yang
ada lebih mengakomodasi warga negara asing yang ingin berivestasi di bidang
Properti di Indonesia.

Menurutnya di luar negeri harga apartemen berkisar antara Rp167 juta hingga
Rp528 juta per meter persegi, sementara di Indonesia masih berkisar antara
Rp10 juta hingga Rp27 juta per meter persegi.

Dalam bagian lain pidatonya, Presiden juga menyambut baik masukan dari REI
yang menginginkan ada lembaga keuangan khusus yang mengelola pembiayaan
kepemilikan dan investasi perumahan.

Kepala Negara mengatakan yang paling penting adalah bukan lembaga yang
dibentuk namun fungsi optimal untuk pembiayaan perumahan.

"Saya kira kita memiliki BTN yang bisa dikembangkan perannya, sama seperti
BRI yang memberikan kredit bagi pertanian," kata Presiden yang dalam acara
itu didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Dalam acara tersebut dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis bantuan
uang muka oleh Kepala Pelaksana Kegiatan Yayasan Kesejahteraan Perumahan
Prajurit pada debitur dari tiga angkatan dan kepolisian masing-masing Rp14
juta.

Juga diserahkan bantuan uang muka oleh Kepala Sekretariat tetap
Bapertarum-PNS kepada perwakilan pembeli dari pegawai negeri sipil.

Presiden Yudhoyono juga akan menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman
tentang penyediaan perumahan bagi prajurit TNI, nota kesepahaman penyediaan
perumahan bagi anggota Polri, nota kesepahaman penanaman pohon penghijauan
dan nota kesepahaman persediaan kredit kepemilikan rumah (KPR) rumah
sederhana sehat (RSH) dan rusunami.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum DPP REI Teguh Satria, Menteri Negara
Perumahan Rakyat Yusuf Asy'ari, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Panglima TNI
Jenderal Djoko Santoso, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan
sejumlah pejabat lainnya.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke