Sulit rasanya ada rekayasa dalam kasus ini karena penertiban petugas sendiri 
diikuti oleh wartawan dan yang lainnya. Namun sy juga tidak berani memvonis Uda 
Zulhamdi telah melakukan tindakan asusila sebagaimana yang telah diduga dan 
dimuat banyak media. Biarlah pengadilan nanti yang memutuskan.
 
Namun, kasus ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua, terlebih lagi bagi 
warga PKS yang menjadi Partai Dakwah. Partai yang tidak hanya dikenal bersih 
dan peduli, tetapi juga santun dan lekat dengan norma-norma agama. Alangkah 
indahnya kalau badan pegal, istri saja yang mengurutnya. Atau, panggil saja 
tukang urutnya datang ke rumah.  
 
Hati manusia memang sangat mudah dibolak-balikkan Tuhan dalam waktu sepersekian 
detik. Tidak ada manusia yang tidak pernah khilaf. 
 
Salam
 
  

--- On Wed, 18/2/09, Satrio Arismunandar <[email protected]> wrote:

From: Satrio Arismunandar <[email protected]>
Subject: [ppiindia] "Fitnah" itu harus diluruskan (tulisan seorang anggota PKS)
To: "HMI Kahmi Pro Network" <[email protected]>, "Syiar Islam" 
<[email protected]>, "ppiindia" <[email protected]>, 
[email protected], [email protected]
Date: Wednesday, 18 February, 2009, 2:54 PM

 (dikutip dari multiply:)
 
Bismillahirrohmanirrahiim.
 
Memang ditengah kekhilafan PKS yang Partai Spektakuler itu dimanfaatkan oleh
mereka yang 'takut' dengan PKS.
Semoga tulisan ini memberi pandangan lain untuk anda atau siapapun yang melihat
kekhilafan PKS, khususnya fitnah kepada kader PKS Jambi itu.
Selamat membaca:


Sudah belasan tahun saya mengenal sosok dan pribadi Zulhamli Alhamidi tanpa
pernah menemukan kesalahannya sedikitpun kecuali satu kali ini saja. Saya
prihatin dan bertanya-tanya apakah manusia memang tidak boleh khilaf suatu saat?
Tulisan ini saya niatkan dalam rangka memenuhi salah satu hak-hak ukhuwwah
beliau sebagai saudara saya sesama muslim.
 
Uda Zul, begitu panggilan akrabnya di kalangan anak-anak Rohis sejak jadi
aktivis da’wah di kampus UNJA. Saya pun sekampus dengan beliau, cuma saya FE
93 sedangkan beliau Fapet 94. Tapi sejak sama-sama ngantor di Fraksi PKS,  saya
ikut memanggilnya Uda Zul karena memang usia beliau lebih tua 1 tahun dari saya.
Saya juga satu majelis ta’lim dengan istri beliau, Mbak Lisa.
 
Da Zulhamli adalah anggota dewan paling miskin di DPRD Kota Jambi menurut
ekspos LHKPN versi BPK tahun 2004 dengan asset pribadi ‘hanya’ Rp.3,5 juta
saja (diikuti 3 rekan F-PKS lainnya yang sama-sama termasuk paling miskin,
selain mas Hizbullah). Berita itu juga bikin polemik di koran lokal saat itu,
karena Uda Zul memang sangat sederhana. Selain masih tinggal numpang di rumah
mertua walau sudah punya 2 anak, Da Zul juga punya motor ‘butut’ yang selalu
menemaninya ke manapun. Bahkan motor tua milik Da Zul sempat menginspirasi saya
untuk bikin puisi (maaf file-nya belum ketemu). Dan motor tuanya itu sempat
patah jadi dua saat suatu malam beliau ditabrak oleh pemuda yang sedang ngebut
di dalam gang dalam perjalanan beliau menuju tempat Mabit ikhwan.
 
Ada dua momen yang paling berkesan tentang Da Zul dalam interaksinya dengan
saya. Pertama, saat suatu hari saya datang ke Fraksi pagi-pagi dalam keadaan
sangat lapar dan lemah karena tidak makan malam dan belum pula sarapan padahal
saya sedang hamil. Dalam keadaan pusing dan gemetar karena benar-benar tak
sanggup berdiri dan melangkah kuatir mendadak pingsan, Uda Zul tiba-tiba muncul
di Fraksi. Saya sempat sungkan dan malu ingin meminta tolong Uda Zul memesan
makanan ke kantin, tetapi pandangan mata saya sudah mulai agak gelap. Akhirnya
dengan suara agak pelan, terucap juga permintaan tolong itu ke Da Zul. Saya
pikir kalau saya akhirnya pingsan, bukankah Da Zul juga yang repot? Saya sangat
merasa kurang sopan menyuruh seorang bapak dua anak, apalagi dengan level
kaderisasi lebih tinggi dari saya, melakukan hal sepele seperti beli sesuatu ke
kantin. Tapi alhamdulillah Da Zul benar-benar membantu saya pagi itu.
 
Yang kedua, saat polemik Pansus Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK)
Penerapan PP.41/2007 di mana saya dipercaya menjadi Ketua Pansus di DPRD Kota
Jambi. Posisi saya sangat sulit waktu itu, dilematis. Kesediaan Da Zul menjadi
juru bicara Pansus, membacakan hasil kesimpulan Pansus di Rapat Paripurna
walaupun berbeda pendapat dengan sikap akhir (stemmotivering) Fraksi PKS, sangat
saya hargai. Pansus maunya ada penghematan anggaran melalui perampingan dinas
sehingga sepakat dengan 9 Dinas saja dari Formasi 13 Dinas yang ada. Tetapi PKS
pada menit-menit terakhir setelah masa lobi yang cukup alot, justru fix di
formasi 14 Dinas mengikuti Golkar sebagai rekan koalisi Pilwako saat itu. Saya
dan Da Zul sebetulnya utusan Fraksi yang tidak terlalu sepakat dengan hasil
kesimpulan Pansus, tetapi toh khalayak juga taulah sikap pribadi kami tentu
berafiliasi ke sikap akhir Fraksi PKS.
 
Beliau sosok yang pendiam, hanya bicara jika perlu saja. Dia orang yang
sensitif, mudah tergugah hati. Da Zul pernah pingsan dalam suatu muhasabah
sewaktu ada Dauroh Aleg PKS di Bengkulu. Da Zul juga pernah tiba-tiba menangis
saat pidato membacakan Pandangan Umum Fraksi PKS saat santer menolak rehab
gedung DPRD yang bakal menghabiskan dana APBD belasan miliar rupiah. Dan sehari
setelah musibah dirinya dirazia di panti pijat itu, Da Zul juga 2 kali pingsan
sebelum akhirnya datang ke DPW PKS Jambi untuk menghadapi konfrensi pers, lalu
menyatakan mundur dari DPRD Kota Jambi sekaligus mundur dari pencalegannya di
Dapil Jambi Timur-Pelayangan.
 
Jabatan terakhir Da Zul di DPRD Kota Jambi selain beliau adalah Wakil Ketua
Fraksi PKS, beliau akhir Desember 2008 kemarin baru menyelesaikan tugasnya
sebagai Wakil Ketua Komisi B. Di struktur partai, beliau adalah salah seorang
Ketua Bidang di DPW. Beliau juga aktif di berbagai kegiatan di DPD dan DPC.
 
Saya tidak melihat ada gaya hidup yang berubah signifikan setelah Da Zul
menjadi Aleg. Hingga saat ini beliau dan keluarganya masih ngontrak rumah
sederhana di Talang Banjar (karena ada tuntutan Aleg PKS harus tinggal di
Dapilnya). Di rumahnya pun tidak ada barang mewah. Selain motor tuanya itu,
hanya tampak satu lemari penuh buku, televisi di ruang keluarga, room set
anak-anak dan seperangkat kompor gas di dapur si ummi. Tidak ada sofa di sana,
boro-boro koleksi keramik mewah!! Tamu yang datang terpaksa duduk lesehan di
atas karpet sederhana. Kalaupun Da Zul sesekali bawa mobil Carry edisi lama, itu
sebetulnya mobil milik mertuanya, kadang-kadang dipakai untuk menjemput
anak-anaknya: Ainun, Ahmad dan si kecil Aziz.
 
Uda Zul memang sangat gemar olahraga Badminton seperti bapak-bapak anggota
dewan yang lain. Kantor kami memang punya gedung olahraga sendiri, sehingga
keluarga besar DPRD Kota bisa leluasa memanfaatkan waktu luang di situ. Di
kantor, teman-teman Fraksi lain mengakui Da Zul cukup lihay main bulu tangkis
ini. Mungkin saking semangat, badan Uda Zul sering pegal-pegal, saya yakin
bapak-bapak sparing partner dia juga begitu jika terlalu menguras energi. 
 
Diakui oleh rekan-rekan sejawat, kalau pegal mereka kadang mampir rame-rame ke
Panti Pijat Sehat Bersih yang lokasinya cukup dekat dari kantor dan memang punya
izin operasional resmi dari Pemerintah Kota. Bahkan sesekali bapak-bapak itu
bawa istri mereka sekedar pijat refleksi karena memang pengunjung laki-laki dan
perempuan dibedakan tempat dan petugas yang melayaninya, harus sama-sama
laki-laki atau sama-sama perempuan (Itulah yang saya heran mengapa pada kasus Da
Zul koq justru petugasnya lain jenis? Menurut wartawan yang ikut Razia tetapi
tidak ikut menjelek-jelekkan Aleg PKS di media, ada kemungkinan razia itu
direkayasa. Tapi maaf saya tidak ingin buka di sini karena kuatir pencemaran
nama baik pihak tertentu).
 
Yach… siapa sangka hobby berolahraga ini justru menjadi sandungan di belakang
hari. Mungkin Allah ingin mengingatkan bahwa ada tupoksi Aleg yang lebih penting
daripada sekedar riyadhoh. Wallohu a’lam.
Yang pasti, kinerja dan keikhlasan Uda Zul dalam beramal jauh lebih baik
dibandingkan saya. Apa yang telah terjadi atas Da Zul adalah pertanda Allah
masih sayang sama beliau, Allah mungkin sedang mempersiapkan rencana yang lebih
baik untuk beliau dan keluarganya.
 
Tetapi terus terang kami di Fraksi belum siap kehilangan… Seseorang yang
pergi begitu saja karena media lokal, nasional, cetak, elektronik, bahkan
internet secara sistematis telah terlanjur membunuh karirnya tanpa ampun sampai
beliau sangat malu dan tak punya muka lagi untuk sekedar datang ke kantor.
Padahal tidak ada Perda dan aturan KUHP / KUHAP yang beliau langgar saat
peristiwa di Panti Pijat itu. Beliau sedang pijat tradisional di tempat resmi
dan petugas resmi, tidak ada asumsi razia yang dia langgar tapi Satpol PP dan
Poltabes – dengan alasan mengamankan Pejabat Daerah – telah menggiring
publik menuduh dia berbuat mesum dengan pemijat. Astaghfirullah… Kasihan Uda
Zul. Sebagai kader Partai Da’wah, Dewan Syari’ah PKS lebih berhak menilai
sejauh mana kesalahan beliau. Dan inisiatif pengunduran diri dari DPRD maupun
dari pencalegannya di Pemilu 2009 adalah sebuah inisiatif yang patut dihormati.
Bahkan itu sebetulnya masih terlalu
 berlebihan.
 
Kali terakhir saya bertemu dengan Uda Zul di DPRD – subhanalloh saya rasanya
mau nangis lagi… - kami  berlima duduk bersama di Fraksi PKS di Lantai 2,
ngumpul saja karena Jum’at pagi itu tidak ada agenda rapat. Bang Dede sedang
ngonsep Pandangan Umum RPJP di laptop, Mas Hiz baca koran, saya baca majalah
Ghoib buat persiapan ngisi Rohis sejam lagi, sedangkan Bang Zay seingat saya
baca printout PP.8/2008. Lalu Uda Zul? 
 
Dia serius memperhatikan HP-nya menyetel tilawah Qur’an (kalo gak salah,
surat Al.Anfaal, taujih robbani yang paling mengena jelang Pemilu 2009).
Murottal itu distel Da Zul agak keras sehingga saya yakin terdengar dari lantai
bawah ruang Fraksi. Dan kami berlima cukup lama saling diam menyimak ayat-ayat
Allah di sela kegiatan masing-masing, sampai menjelang jam 11 siang saya pamit
duluan mau ke SMA 5….
 
Ah, Da Zul!! Ketika saya menjenguk ke rumahnya pasca pemberitaan itu untuk
bertemu dengan istrinya (Mbak Lisa), hanya sekilas saya lihat Da Zul membukakan
pintu untuk kami. Selebihnya, beliau lebih memilih masuk ke dalam. Hanya ada
Mbak Lisa dan anak-anak yang menyambut kami dengan sejuta kesabaran di antara
suara tertahan dan sesak di dadanya. Sementara mereka tegar, kami yang
memandangi malah menangis. Sama seperti Da Zul, saya juga sudah belasan tahun
mengenal Mbak Lisa sejak di Kampus, kami seangkatan 93. Selain dikenal sangat
sabar dan pendiam, istri Da Zul juga seorang pekerja keras. Beliau guru SD Islam
Terpadu Nurul Ilmi. Bayangkan bagaimana Mbak Lisa harus menghadapi ratusan wali
murid yang bertanya-tanya tentang kejadian itu. Sementara anak-anak bertanya,
“Ummi… Mengapa Abi tidak ngantor?”
 
Kasus razia panti pijat itu pahit banget yak!! Tidak terbayang kalau dalam sisa
masa jabatan yang tinggal sekitar 5 bulan ini mendadak harus menghadapi drama
voting di ruang Paripurna, sementara suara PKS kurang 1 orang… Walaupun saat
ini isu pemecatan Kepala Satpol PP akibat salah ringkus di razia itu sudah
disepakati oleh semua Fraksi di DPRD Kota Jambi (di sini total ada 40 kursi),
kecuali Fraksi PKS memilih abstain untuk menjaga objektivitas. Saya masih tidak
habis pikir, bukankah istri Kepala Satpol PP itu juga seorang akhwat PKS? Ah,
otak saya masih bebal membaca situasi politis terselubung di balik penangkapan
berdalih pengamanan Pejabat itu. Tapi semua respon dan dukungan dari internal
DPRD Kota Jambi tidak akan mengembalikan kehidupan Da Zul seperti sedia kala.
Mungkin butuh bertahun-tahun untuk pulih, entahlah. 

 
Saya ingin katakan bahwa mungkin Uda Zul bersalah secara syari'ah (baca:
berdosa) dan kasus ini sudah diambil alih DPP. Tetapi tidak layak kita
ikut-ikutan memojokkan beliau. Dalam hearing Komisi A sepekan setelah kejadian
itu, saya katakan kepada perwakilan Poltabes, Satpol PP, dan rombongan wartawan
PWI yang hadir, "Al insaan makaanul khotho' wa khoiru khothoo-ihaa at
tawwabiin." (Manusia adalah tempat berbuat salah dan sebaik-baik orang yang
bersalah adalah mereka yang mau bertaubat).
 
Sebagai sesama muslim, beliau adalah saudara kita yang punya hak-hak ukhuwwah
dan harus kita tunaikan. Cukuplah beban vonis sosial yang ditanggungnya.
Ingatlah istri dan anak-anak serta keluarga besar beliau ikut menanggung apa
yang dirasakan Uda Zul. Sementara apa yang sudah kita lakukan hari-hari ini?
Apakah memang kita merasa lebih baik akhlaqnya dibanding beliau? (Terutama untuk
saya pribadi dan 1112 Aleg PKS se-Indonesia, kiranya lebih berhati-hati terhadap
potensi jebakan dari lawan-lawan politik)

 Wallohu a'lam.
Sumber:http://pur76.multiply.com/journal/item/37/ZULHAMLI_ALHAMIDI_YANG_SAYA_KENAL















      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links






      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke