http://suarapembaca.detik.com/read/2009/02/19/095530/1087202/471/hillary-dan-posisi-tawar-indonesia
Kamis, 19/02/2009 09:55 WIB
Hillary dan Posisi Tawar Indonesia 
Taruna Ikrar - suaraPembaca




/ist. 


   var m3_u = 
(location.protocol=='https:'?'https://openx.detik.com/delivery/ajs.php':'http://openx.detik.com/delivery/ajs.php');
   var m3_r = Math.floor(Math.random()*99999999999);
   if (!document.MAX_used) document.MAX_used = ',';
   document.write ("");




Jakarta - Melihat potensi Indonesia sebagai negera demokrasi terbesar ketiga di 
dunia dengan
jumlah penduduk 225 juta jiwa dan sebagai negara Muslim terbesar di dunia, 
demikian pula sumber daya alam yang luar biasa melimpah, menempatkan bangsa ini 
dalam posisi tawar yang sangat berarti dalam percaturan internasional. Potensi 
ini harus dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan pembangunan dan 
peningkatan kesejahteran segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah 
indonesia.

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengutus Menteri Luar Negeri Amerika 
Serikat Hillary Clinton untuk mengunjungi Indonesia sebagai bagian dari lawatan 
ke luar negeri pertamanya karena Obama ingin merangkul dunia Muslim. Sangat 
logis karena Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia. 

Hal ini sekaligus menunjukkan kekonsistenan Presiden Barack Obama terhadap 
janjinya untuk mengusahakan "jalan baru ke depan" dengan "dunia Muslim 
berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati" (Pidato Pelantikan 20 
Januari 2009). Berdasarkan kenyataan di atas diperlukan persepsi jelas dan 
sekaligus tindakan nyata dalam memposisikan diri sebagai bangsa yang besar dan 
berdaulat untuk menerima tantangan dan sekaligus mengambil manfaat dari 
kunjungan tersebut.

Amerika Serikat sendiri menghadapi sejumlah tantangan dan persoalan. Baik dari 
dalam negeri sebagai dampak krisis keaungan global berupa "pengangguran akibat 
pemutusan hubungan kerja (PHK)" maupun dari dunia luar termasuk dari dunia 
Muslim. Khususnya dari wilayah Palestina hingga Iran, Irak, Afganistan, dan 
Pakistan. 

Presiden Obama menyetel nada baru dan menjanjikan keseimbangan baru dalam 
penggunaan diplomatik, militer, dan bentuk kekuasaan lainnya. Perubahan 
strategi diplomatik AS tersebut tentunya sebagai cara untuk menyelesaiakan 
masalah dalam negeri Amerika. Salah satu strategi yang diambil oleh pemerintah 
Obama adalah meningkatkan daya beli masyarakat AS dengan paket stimulus ekonomi 
yang telah mendapat persetujuan senat sebesar 780 miliar dollar AS. 

Stimulus ini akan dijalankan dengan strategi pemotongan pajak dan pemberian 
subsidi terhadap industri-indutri strategis dalam meningkatkan produksinya 
sehingga akan membantu membuka lapangan kerja baru. Dengan demikian jutaan 
penduduk AS yang telah di-PHK akan kembali mendapatkan pekerjaannya.

Dalam konteks global tidak ada satu negara pun di dunia yang dapat berdiri 
sendiri sehingga terjadi persaingan produksi dan perebutan pasar untuk 
memasarkan produk industrinya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Amerika, Eropa, 
dan Jepang merupakan
negara-negara yang menggantungkan indutri strategisnya terhadap otomotif, 
manufaktur, alat-alat berat, persenjataan, indutri komputer, dan kemampuan 
profesional. Sedangkan Negara-negara Asia, Afrika, Timur Tengah menggantungkan 
produksi dalam negerinya pada agriculture, furnish, tekstil, dan lain-lain.

Jadi dengan melihat produksi utama maka sangat logis bagi AS untuk melirik ke 
Afrika dan Timur Tengah, Asia, termasuk Indonesia tentunya, sebagai pasar yang 
menggiurkan untuk produk-produk utamanya. Karena dengan terbukanya pasar 
berarti akan memberikan keuntungan yang besar terhadap perkembangan dan 
kemajuan industri yang secara otomatis akan meningkatkan eksport dan pemasukan 
dalam negeri AS.

Sementara pasar di daratan Eropa, AS, Jepang, dan China sudah overload 
dikarenakan
negara-negara tersebut sebagai negara-negara produsen otomotif, komputer, dan 
manufacture pula. Bahkan, akhirnya akan terjadi kompetisi dengan AS. Jadi 
dengan demikian perubahan kebijakan luar negeri Amerika tidak semata-mata 
karena pergantian kepemimpinan dalam hal ini Presiden Obama, demikian pula 
bukan karena motif agama, melainkan karena kebutuhan pasar dan kepentingan 
dalam negeri AS.

Namun, apa pun kondisinya kebijakan luar negeri AS ini perlu direspon oleh 
Pemerntah Indonesia sebagai suatu peluang untuk memajukan Bangsa Indonesia 
setara dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Taruna Ikrar
University of California
Med Surge II, Room 364, Irvine, 92697, CA, USA   


 


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke