berita di bawah ini: praktik dari aparatnya pemerintah yg membela tuannya dan 
realitas kemiskinan indonesia. 

memang menyedihkan, inilah hasil reformasi: ternyata makin termanipulasi oleh 
istilah " kemiskinan ilmiah", sedangkan saksi mata jutaan orang miskin terhadap 
kehidupannya diabaikan demi perintah dari atas.

salam, hl

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
http://akarrumputliar.wordpress.com/

--- On Thu, 2/19/09, Marlo sitompul <[email protected]> wrote:
From: Marlo sitompul <[email protected]>
Subject: 
To: [email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected]
Cc: [email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Thursday, February 19, 2009, 6:52 PM

PN Jakpus Tolak Gugatan Rakyat Miskin Terhadap Kriteria Miskin BPS              
                                                        
                                                        
                        
                        
                
                                        
                                
                                        Kamis, 19 Februari 2009                 
        
                        
                                        
                        
                                



 







 




Kamis, 19
Februari 2009 | 11.30


 


Berdikari
Online, Jakarta: Setelah
melalui proses peradilan yang cukup panjang, akhirnya pengadilan negeri Jakarta
Pusat mengeluarkan keputusan terhadap gugatan Serikat Rakyat Miskin Indonesia
(SRMI) mengenai kriteria miskin versi BPS. Dalam pembacaan putusannya, hakim
yang memeriksa gugatan ini menilai bahwa versi kemiskinan BPS yang berisikan 14
kriteria sudah benar, karena BPS sudah menggunakan penelitian ilmiah. Pendapat
BPS ini, juga mendapat dukungan sejumlah saksi ahli yang didatangkan dari
Universitas.




 


 


Selain itu,
PN Jakpus juga menilai bahwa pemerintah sudah tepat dalam menentukan kriteria
miskin. Sebaliknya, hakim menilai bahwa data-data yang diajukan oleh penggugat,
yaitu rakyat miskin Indonesia, kurang ilmiah, karena tidak
melalui survey lansung dan penelitian ilmiah. PN Jakpus juga menolak data
kemiskinan versi Bank Dunia, karena menurutnya hanya diambil dan diolah dari
BPS masing-masing negara. 


 


Keputusan
PN Jakpus kontan mendapat protes rakyat miskin yang menghadiri persidangan.
Sejumlah ibu-ibu meluapkan kekesalannya dengan meneriaki hakim dan penasehat
hukum pemerintah/ BPS yang dianggap telah memanipulasi kemiskinan, dan hendak
membunuh rakyat miskin pelan-pelan. Selain itu, ratusan massa SRMI juga 
menggelar aksi protes di
depan PN Jakpus, sambil membawa keranda mayat sebagai symbol matinya rasa
keadilan para penegak hukum terhadap rakyat miskin. 


 


Dalam orasinya,
Marlo Sitompul menilai PN Jakpus tidak berdiri pada kepentingan rakyat miskin,
malah terkesan sudah diperalat oleh pemerintahan SBY dan BPS. Selain itu,
menurutnya, keputusan ini telah melukai rasa keadilan ratusan juta rakyat
miskin Indonesia yang tidak mau diakui pemerintahan
SBY sebagai orang miskin. Marlo juga menilai, keputusan pengadilan negeri
Jakpus hanya dagelang politik, pasalnya, beberapa alasan yang disampaikan oleh
pihak hakim tidak relevan dan sangat membela pemerintah.


 


"keputusan
PN Jakpus ini punya muatan politis. Pengadilan hendak menjaga reputasi politik
SBY hingga pemilu 2009, dan manipulasi kemiskinan ini akan menjadi senjata
kampanye SBY"; ungkap Marlo Sitompul. 


 


Pihak SRMI
sendiri, melalui kuasa hukumnya yaitu Serikat
Pengacara Rakyat (SPR), berencana akan melakukan banding atas putusan
pengadilan negeri Jakpus. Selain itu, SRMI akan melakukan perlawanan politik
dengan menggalang aksi-aksi massa bersama sektor rakyat yang lain,
guna membongkar kebusukan pemerintah dan BPS ini. 


 


ULFA ILYAS
dan RUDI HARTONO


Tolak Caleg Pro-Neoliberalisme dan antek Imperialis, Rakyat Miskin Geruduk 
Kantor KPU                                                                   
                                                        
                        
                        
                
                                        
                                
                                        Kamis, 19 Februari 2009                 
        
                        
                                        
                        
                                



 



Kamis, 19
Februari 2009 | 13.30


 


Berdikari
Online, Jakarta: Sebanyak
300-an massa rakyat miskin dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI)
menggelar aksi massa ke kantor KPU pusat, Jalan Iman Bonjol no. 29, Jakarta, 
siang tadi (19/02/09). Massa yang sebagian besar ibu-ibu ini,
meminta KPU segera mencoret daftar caleg dan partai yang terindikasi sebagai
pendukung kebijakan neoliberalisme dan antek imperialisme. Dalam aksinya, massa 
SRMI juga membawa keranda mayat
yang ditutupi kain hijau, sebagai symbol atas penderitaan rakyat miskin atas
caleg dan partai hasil pemilu 2004.







 



Massa menggelar aksinya persis di depan pintu keluar KPU.
Meski demikian, aksi ini mendapat pengawalan ketat oleh puluhan aparat
kepolisian. Dengan antusias, para ibu-ibu menerikkan slogan-slogan anti
neoliberalisme dan anti imperialisme. Beberapa aktifis menyampaikan orasinya
secara bergantian. Aksi ini juga dihibur oleh nyanyian perjuangan dari aktitis
Serikat Pengamen Merdeka (SPM), yang membawakan sejumlah lagu-lagu perjuangan.


 


Marlo
Sitompul, ketua umum SRMI, mengatakan, aksi ke kantor KPU bertujuan untuk
meminta KPU agar segera mencoret atau mencabut sejumlah daftar nama caleg dan
partai yang terindikasi sebagai pendukung neoliberalisme dan imperialisme.
Menurutnya, dari puluhan ribu caleg yang ikut berkompetisi dalam pemilu 2009,
terdapat sejumlah nama-nama yang sebenarnya terbukti aktif dalam menggolkan
kebijakan neoliberal yang merugikan rakyat, seperti kenaikan harga BBM.
Keterlibatan aktif rakyat dalam memberikan suaranya, tentu saja sangat
menentukan nasibnya dalam lima tahun kedepan. 


 


"Rakyat
harus berani melawan segala bentuk politik uang, dan kalau bisa melaporkannya,
karena politik uang justru menjadi faktor kendaraan bagi elit pencari
kekuasaan. Setelah mereka berkuasa, mereka akan berpikir bagaimana caranya
mengembalikan dana yang sudah dikeluarkan pada saat kampanye, bahkan dalam
jumlah yang lebih besar".


 


Hal senada
juga disampaikan "Bin-bin" Firman Tresnadi. Menurutnya, kebijakan neoliberal
yang sedang berlansung di Indonesia dipelihara dan dilaksanakan melalui
sejumlah kaki tanganya di dalam negeri, termasuk sejumlah caleg dan partai
politik. Untuk mengetahui mana partai pro-neoliberal, menurut Bin-bin, tinggal
merujuk pada sepak terjang dan track record mereka selama di parlemen. Dalam
kurun waktu 2004- 2009, ada puluhan produk UU pro-neoliberal yang dihasilkan,
diantaranya; UU penanaman modal, UU minerba, UU sumber daya air, dan UU BHP.. 
banyak
diantara UU tersebut yang lansung didanai oleh lembaga-lembaga imperialis,
seperti USAID dan Bank Dunia, kemudian
dipergunakan oleh pemerintah sebagai dasar hukum untuk menjalakan reformasi
neoliberal.


 


Sedangkan
Rudi Hartono, perwakilan Berdikari online,
menilai bahwa pemilu punya arti penting bagi kehidupan rakyat Indonesia ke 
depan. Jadi, pemilu tidak
sekadar mencontreng dan memberikan suara, namun punya makna politik yang
menentukan masa depan bangsa Indonesia; apakah mempertahankan situasi sekarang
ini, yang berarti kemiskinan, sembako tetap mahal, penggusuran paksa,
pendidikan mahal, dan pelayanan kesehatan yang sulit; ataukah mendorong
perubahan politik untuk melahirkan pemerintahan baru yang lebih berpihak dan
anti-neoliberal.


 


Menurut Rudi,
karena suara rakyat punya makna politik dan menentukan, sehingga seyogianya
benar-benar digunakan untuk mendukung caleg atau partai yang punya komitmen
mensejahterakan rakyat. Rakyat harus berani menolak sogokan dan segala hal yang
berbau politik uang. Sebaliknya, rakyat harus memulai mempertanyakan apa
program caleg, bagaimana mewujudkannya, dan apa jaminannya supaya tidak
dilanggar. "rakyat perlu terlibat aktif dalam mobilisasi-mobilisasi dan
mendukung caleg aktifis kerakyatan"; ungkap Rudi Hartono.


 


Selain
berorasi, beberapa perwakilan massa aksi juga diterima berdialog oleh
pimpinan KPU. Dalam proses dialog itu, pihak KPU mengaku tidak punya kewenangan
untuk mencoret atau mencabut caleg atau partai pro-neoliberalisme dan antek
imperialis, karena bukan kewenangan KPU. Akan tetapi, KPU menganjurkan kepada
organisasi-organisasi sosial untuk mengkampanyekan isu-isu semacam itu di
tengah-tengah rakyat. Ini tentu akan menjadi pendidikan politik yang kritis
bagi para pemilih.


 


Setelah
menggelar aksi selama beberapa jam, massa SRMI akhirnya membubarkan diri
secara tertib, dan kembali ke rumah masing-masing.


 


ULFA ILYAS



      


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke