http://www.antara.co.id/arc/2009/2/20/kemerdekaan-palestina-pesan-kunci-sby-pada-obama/

*Kemerdekaan Palestina: Pesan Kunci SBY pada Obama*


Oleh Asro Kamal Rokan*

*Barack Obama* mengutus* Menlu AS Hillary Clinton *ke *Indonesia* dan tiga
negara Asia lainnya. Ini adalah kunjungan pertama Hillary sebagai menteri
luar negeri dan sekaligus membedakan pendekatan pemerintah Obama terhadap
Asia. Menlu AS pada pemerintah sebelumnya memilih kunjungan pertamanya ke
Eropa atau Timur Tengah.

Selama dua hari di Jakarta, sejak 18 Februari, Hillary mengirim pesan
penting kepada dunia Islam --yang kecewa atas AS semasa George W Bush--
bahwa AS berupaya mengubah pendekatan terhadap dunia Islam. Sebagai negara
yang mampu mewujudkan dengan baik harmonisasi Islam, demokrasi, dan
modernisasi, Indonesia menjadi penting bagi AS. Hillary juga meminta
Indonesia mengambil peran lebih besar dalam penyelesaian Palestina.

Dalam dua kesempatan, *Presiden AS Barack Obama* menekankan perubahan
pendekatan AS terhadap dunia Islam. Ketika dilantik, 20 Januari, Obama
mengatakan, AS mencari cara baru dengan dunia Muslim berdasarkan pada
kepentingan bersama dan saling menghormati.

Sikap ini ditegaskannya kembali kepada jaringan televisi Al-Arabiya (27/1).
"Tugas saya kepada negara-negara Muslim adalah mengomunikasikan bahwa AS
bukan musuh Anda," kata Obama. Menurutnya, AS dan dunia Islam telah menjalin
hubungan baik pada 20 atau 30 tahun lalu, karena itu tak ada alasan tidak
melakukannya kembali.

Kunjungan Hillary dan pernyataan Obama tentang Islam itu tentu harus diuji
dari keputusan dan kebijakan yang mereka ambil nantinya, terutama dalam
penyelesaian Palestina yang selama ini menjadi akar masalah hubungan dunia
Islam dengan AS.

Ketika berbicara dengan Hillary Clinton, *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY)* secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap belum terealisasinya
negara Palestina merdeka. Presiden meminta AS memberikan perhatian besar
terhadap penyelesaian Palestina tersebut.

Pernyataan Presiden SBY ini tepat sasaran. Presiden mengirim pesan jelas
dari dunia Islam kepada Barack Obama, bahwa apabila AS benar-benar ingin
mengubah pendekatannya dengan dunia Islam, maka kemerdekaan Palestina harus
menjadi prioritas utama AS. Dunia Islam kini menguji pendekatan baru AS
tersebut, bukan sekadar retorika.


Peran Indonesia

Sebagai negara berpenduduk Islam terbesar dunia, Indonesia merupakan negara
demokrasi terbesar selain AS dan India. Indonesia pun terbebas dari pusaran
konflik dan menjadi kekuatan Islam moderat. Dalam posisi seperti itu,
Indonesia dapat menjalin dialog dalam kesetaraan dan saling menghormati.

Ulama dan intlektual Islam terkemuka, Syekh Dr Yusuf Al Qardhawi, ketika
bertemu Presiden SBY di Doha, Mei 2006, berkeyakinan bahwa Indonesia --yang
menampilkan wajah Islam moderat-- dapat menjadi pemimpin dunia Islam.
Politik luar negeri bebas-aktif juga memberi ruang besar bagi Indonesia
memainkan perannya.

Indonesia telah mengambil peran penting dalam mempromosikan wajah Islam di
tengah ketidakpahaman negara-negara Barat. Ketika fobia terhadap Islam
menjalar di Eropa, Indonesia menyelenggarakan Asia-Europe Meeting Interfaith
Dialogue, yang melahirkan Deklarasi Bali, Juli 2005.

Dialog itu mendorong hubungan harmonis antarpenganut agama, meningkatkan
pengertian, dan saling menghargai di lingkungan Asia dan Eropa. Indonesia
juga mengadakan Global Inter-Media Dialogue dengan mengangkat tema Ethical
Journalism in Extreme Conditions: the Challenge of Diversity. Ini menyusul
pelecehan media Denmark terhadap Nabi Muhammad SAW.

Ketika PM Inggris Tony Blair ke Indonesia, Presiden SBY mengajak tokoh-tokoh
Islam Indonesia berdialog untuk memberikan pemahaman kepada Blair tentang
Islam dan mendiskusikan hubungan antara Islam dan Barat.

Sebelumnya di PBB, Presiden SBY menyampaikan pandangannya mengenai Islam
moderat maupun hubungan Islam dan Barat. Dialog tentang Islam itu juga
dilakukan dengan Jan Peter Balkanende (PM Belanda) dan John Howard (PM
Australia) saat itu.

Di Dewan Keamanan PBB, Indonesia satu-satunya dari 15 anggota DK PBB, yang
mengambil posisi abstain ketika akan dijatuhkan sanksi tambahan untuk Iran.
Libya justru mendukung sanksi untuk Iran dalam kasus pengayaan nuklir itu.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khameini memuji sikap Indonesia itu.
Ketika Israel menyerang Gaza, Indonesia mendesak Majelis Umum PBB mengadakan
sidang darurat dan mendorong sidang khusus Dewan HAM PBB. Indonesia juga
mengadakan Asian-African Conference on Capacity Building for Palestine,
serta terlibat aktif pada Annapolis Conference, dan Konferensi Paris dalam
memberikan dukungan ekonomi bagi Palestina,

Dengan sejumlah fakta itu, Indonesia --negara berpenduduk Muslim terbesar
dan negara demokrasi terbesar ketiga-- sesungguhnya sedang mengambil peran
sebagai jembatan dan membangun keseimbangan dalam hubungan Islam dan Barat.
Melalui Indonesia, AS dapat menjangkau dunia Islam.

Karena itu cukup alasan bagi Obama untuk memerintahkan Menlu Hillary
mengunjungi Indonesia sebagai bagian dari upaya AS mengubah pendekatannya
dengan dunia Islam. Dan, tepat pula pernyataan kekecewaan Presiden SBY
terhadap belum terealisasinya Palestina merdeka.

Melalui Hillary, SBY telah menyampaikan pesan kunci apabila AS memang ingin
berubah: selesaikan segera Palestina.

Kini, dunia Islam menanti perubahan itu.(*)
* Penulis Wartawan Antara.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke