emang ada ortu yg konon katanya bekas eksil (kerna udah lama berpaspor swedia), 
dan emang juga sih kelakuannya doi makin tua makin "genit", dan seneng deket2in 
pejabat pemerentah di luar negeri, eceknya tua2 keladi makin tua makin ngeri... 

riwayat orang katro model gini ada dimana-mana, sesuai dgn keadaan hidup, maka 
kekonyolan manusia kayaknya suka dipamerin buat nyeneng2in ati doi sendokir.

gak ada yg bisa ngelarang orang bergaul dgn siapa yg disukainya. pendapat 
seperti itu ada betulnya, tapi juga gak perlu bangga setinggi langit jika 
sejarah hidup ini bilang bahwa orang bisa linglung akibat egonya yg segunung 
tokai.

ingat istilah:seperti ilmu padi. jadi jangan pake ilmu kudu melulu. kerna ilmu 
kudu itu adalah anarki dalam bentuk yg paling sejati.

kembali ke masalah 1 ortu di swedia -- yg pernah saya gelari "komandante 
swediye" -- emang doi dari mudanya "brani nyerempet bahaya", sejenis monek 
alias modal nekat. bagi para ortu dari generasi "angkatan beijing" sejak 
awalnya, pasti tau apa yg saya maksud itu.

bahwa faktor karakter manusia memberikan gambaran soal arah tujuan perjuangan 
hidup seseorang. apalagi yg harus diperdebatkan? soal keberpihakan atau soal 
karakter klas? 

saya berpendapat, bahwa ortu yg sebenarnya kaya pengalaman (baik dan buruk) 
akan lebih bijaksana jika mendukung gerakan anak muda yg anti penindasan dengan 
cara menuliskan pemikirannya, dan mengirimkannya ke dunia internet untuk 
diperdebatkan, supaya terjadi percikan pemikiran, yg pada akhirnya memberikan 
pencerahan.

asik kan?

begitulah mestinya, para ortu cerita tentang pengalamannya (baik dan buruk), 
nanti pasti terjadi diskusi serta bukti2 yg telah terjadi.

heri latief 

--- In [email protected], iwamardi <iwama...@...> wrote:
 
Tapi ya, jamannya Bung Karno, banyak dubes dubes yang merakyat, mau membaur 
dengan anak anak muda/ mahasiswa mahasiwa , termasuk ikut main 
bridge,pingpong,badminton dan lain lainnya, dan mau mengantarkan mahasiswa ke 
asramanya jika si pemuda terlalu teler......
Mungkin keluarga dubes RI di Swedia semacam itu, yang mau membaur dengan pemuda 
pemuda Indonesia sweet sixteens & seventeens di Swedia ......eh,eh 
salah.........sweet sixties & seventies ??

Kan latihan dan siap siap, jangan kaget nantinya disorga kan tiap hari senang 
senang,main kartu ,makan makan sambil minum khamar dan tiap orang (laki laki 
saja !!!) dikelilingi 72 huri huri ( bidadari bidadari)...........ehemmm....

Nah di KBRI Stockholm rupanya ada general repetisi  itu buat pemuda pemuda 
sweet sixtees & seventies , kartu ada,makanan ada,khamar (Martini on the 
rock,Johnie Walker black label,champagne etc.) ada, nah apa lagi ?......Eh lupa 
, tujuh puluh dua huri hurinya yang mengelilingi ada nggak ?  Atau hanya tujuh 
keliling ?

________________________________
From: S Manap <rana...@...>
To: [email protected]; [email protected]; AKSARA SASTRA 
<[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; SANTRI KIRI <[email protected]>; 
Trikoyo <trik...@...>; [email protected]
Sent: Friday, February 20, 2009 7:48:58 AM
Subject: Re: [mimbar-bebas] Re: [HKSIS] Fw: #sastra-pembebasan# Re: Surat 
PRAMOEDYA untuk JJ KUSNI

  
 
     Ini betul-betul peluru berbalut gula. Saya jadi ngiler juga rasanya. 
     Andaikan saya (ingat ini andaikan) mendapat peluru berbalut gula, maka 
gulanya akan saya makan habis, kemudian pelurunya saya buang. Gampangkan? Masak 
gitu aja kok repot kata KH ABD RW.
    S.Manap.

--- Den fre 2009-02-20 skrev Tom Iljas <tom.il...@...>:

Från: Tom Iljas <tom.il...@...>
Ämne: Re: [mimbar-bebas] Re: [HKSIS] Fw: #sastra-pembebasan# Re: Surat 
PRAMOEDYA untuk JJ KUSNI
Till: [email protected], [email protected], "AKSARA SASTRA" 
<[email protected]>, [email protected], 
[email protected], "SANTRI KIRI" <[email protected]>, 
"Trikoyo" <trik...@...>, [email protected]
Datum: fredag 20 februari 2009 00.26


Wah ada yang terlupa. Tadi bung Warsito membisikkan pada saya, kalau main 
bridge di Wisma Duta atau lagi pesta-pesta di Kedutaan kan  juga disediakan 
anggur merah, anggur putih dan wisky. Kalau kebanyakan minum, kepala pusing tak 
bisa nyetir sendiri pulang, tingggal bilang bu Duta, pasti beliau akan 
memerintahkan sopir, kita diantar pulang dengan merci, dengan mobil plat biru 
sampai kerumah ( Mobil plat biro adalah mobil korps diplomatik). 
 
//Tom Iljas
----- Original Message ----- 
From: BISAI 
To: hk...@yahoogroups. com ; mimbar-bebas@ yahoogroups. com ; AKSARA SASTRA ; 
artculture-indonesi a...@yahoogroups. com ; Pembebasan_Papua@ yahoogroups. com 
; SANTRI KIRI ; Trikoyo ; wahana-news@ yahoogroups. com 
Sent: Thursday, February 19, 2009 12:30 PM
Subject: Re: [mimbar-bebas] Re: [HKSIS] Fw: #sastra-pembebasan# Re: Surat 
PRAMOEDYA untuk JJ KUSNI

Jelas ini sebuah pengakuan jujur. Saya suka orang jujur meskipun berlainan 
pandangan. Yang paling saya takuti adalah orang munafik meskipun segala-galanya 
seolah sehaluan dan satu tujuan. Orang munafik selalu adalah musuh dalam 
selimut dan bom waktu yang tak pernah bisa diduga kapan dia akan meletus. Tapi 
kalau bicara soal revolusi, saya sendiri tidak mengurusi soal revolusi karena 
revolusi tidak bisa diurusi seorang diri dan juga  revolusi adalah urusan 
rakyat tertindas dan terhisap yang merekalah yang melakukannya dan tidak 
tergantung pada keinginan pribadi yang manapum. Namun tanpa sedikitpun 
kemunafikan, saya memang berpihak pada revolusi dan tidak berpihak pada 
musuh-musuh rakyat tertindas dan terhisap dan itu bagi saya normal saja tanpa 
merasa sok revolusioner apalagi akan sampai kekiri-kirian. Tapi juga untuk 
meninggalkan atau membuang orientasi terhadap revolusi, tidak saya lakukan 
karena  hal itu saya anggap penghianatan terhadap ideologi yang
 pernah saya anut sejak usia muda. Memang setiap orang bebas memilih jalan baru 
masing-masing dan saya menghormatinya sambil juga mengecamnya seperti yang juga 
banyak dilakukan orang-orang lain.
 
Baguslah bila bisa menikmati peluru berbalut gula dan memang hanya itu yang 
bisa dihidangkan pihak musuh pada para langganannya yang suduh bosan kecewa dan 
ilusi-ilusi piaraan sendiri yang telah buyar di masa lalu. Saya merasa bersukur 
karena masih mendapatkah hiburan-hiburan lainnya yang lebih sehat dan tidak 
beracun meskipun tidak semanis peluru berbalut gula. Selamat saya ucapkan 
(paling tidak selama lapisan gulanya masih cukup tebal).  Nikmatilah hidup ini 
dengan tuba dan whisky.
BISAI. 
 
 
----- Original Message ----- 
From: Tom Iljas 
To: hk...@yahoogroups. com ; mimbar-bebas@ yahoogroups. com ; AKSARA SASTRA ; 
artculture-indonesi a...@yahoogroups. com ; Pembebasan_Papua@ yahoogroups. com 
; SANTRI KIRI ; Trikoyo ; wahana-news@ yahoogroups. com 
Sent: Thursday, February 19, 2009 10:55 AM
Subject: Re: [mimbar-bebas] Re: [HKSIS] Fw: #sastra-pembebasan# Re: Surat 
PRAMOEDYA untuk JJ KUSNI

Di Stockholm sejak lama ada Klubbridge Indonesia Stockholm. Ketuanya saya 
sendiri. Punya milis Klubbridge. Anggota-anggotanya antara lain bung Ben P 
Drajat, mantan Kuasa Usaha di KBRI Sthlm, dan beberapa staf KBRI lainnya. Dubes 
Linggawati Hakim juga adalah peminat bridge, sejak bertugas di Sthklm ia 
menjadi anggota klub pula. Bayangin saja, sering berkumpul di meja bridge 
anggota-anggotanya menjadi teman-teman akrab, sambil menghirup kopi tubruk, 
menghisap kretek dan nyamil kueh sedap-sedapan. Apalagi kalau mainnya di Wisma 
Duta (Kediaman Dubes RI), fasilitasnya lumayan, masakan-masakan Indonesia asli. 
Linggawati juga seorang Katolik. Di Stockholm ada Perki (Perhimpunan Katolik 
Indonesia), yang sejak lama Ketuanya adalah bung Warsito (ex mahid). Dg 
demikian Dubesnya kecuali anggota klub bridge saya juga adalah anggotanya bung 
Warsito. Ada lagi klub badminton. Tiap Sabtu bisa main badminton tanpa bayar, 
karena lapangannya yang nyewa KBRI. He, he,
 Stockholm memang hebat. Soal revolusi? Ah, serahkan saja pada kamerad-kamerad 
progresif revolusioner spt Comrade  Sunny, Kamerad Bisai. Kita sih lebih suka 
nyicip peluru berbalut gula. Manis.
 
//Tom Iljas
 
----- Original Message ----- 
From: BISAI 
To: mimbar-bebas@ yahoogroups. com ; hk...@yahoogroups. com ; AKSARA SASTRA ; 
artculture-indonesi a...@yahoogroups. com ; Pembebasan_Papua@ yahoogroups. com 
; SANTRI KIRI ; Trikoyo ; wahana-news@ yahoogroups. com 
Sent: Thursday, February 19, 2009 8:59 AM
Subject: Re: [mimbar-bebas] Re: [HKSIS] Fw: #sastra-pembebasan# Re: Surat 
PRAMOEDYA untuk JJ KUSNI

Yang sejenis tentu tidak berbeda termasuk yang di luar Belanda. Bagaimana yang 
di Swedia? . Apakah teori Darwin tentang asal usul jenis bisa diterapkan di 
sana? Yang saya dengar dan juga cukup terkenal, kemesraan di sana bahkan lebih 
belepotan lagi daripada di Belanda.
 
 
----- Original Message ----- 
From: Sunny 
To: hk...@yahoogroups. com ; AKSARA SASTRA ; artculture-indonesi 
a...@yahoogroups. com ; mimbar-bebas@ yahoogroups. com ; Pembebasan_Papua@ 
yahoogroups. com ; SANTRI KIRI ; Trikoyo ; wahana-news@ yahoogroups. com 
Sent: Wednesday, February 18, 2009 9:25 PM
Subject: [mimbar-bebas] Re: [HKSIS] Fw: #sastra-pembebasan# Re: Surat PRAMOEDYA 
untuk JJ KUSNI

Lantas  apa bedanya dengan orang-orang Lekra atau  ex PKI dsb di luanegeri yang 
saling bermesra-mesra di KBRI? 
 
----- Original Message ----- 
From: BISAI 
To: AKSARA SASTRA ; artculture-indonesi a...@yahoogroups. com ; 
hk...@yahoogroups. com ; mimbar-bebas@ yahoogroups. com ; Pembebasan_Papua@ 
yahoogroups. com ; SANTRI KIRI ; Trikoyo ; wahana-news@ yahoogroups. com 
Sent: Wednesday, February 18, 2009 8:52 PM
Subject: [HKSIS] Fw: #sastra-pembebasan# Re: Surat PRAMOEDYA untuk JJ KUSNI

Lekra gadungan! Ya, itu memang ujud seperti juga PKI gadungan atau dengan nama 
Gastronominya sebagai Oporkaki (Oportunis -kanan kiri), bahkan hingga Opor 
buntut (Oportunis buntelan kentut untuk klas kroco). Menu yang mereka hidangkan 
terutama di restoran-restoran di Eropah dan terlebih terutamanya lagi di Paris 
yang tanpa malu-malu gembor-gembor mengaku dirinya sebagai"Pusat Kebudayaan 
Indonesia di Luar Negri" dan kadang-kadang nekad  merasa dirinya "Pusat 
Revolusi Indonesia" yang dicetuskan dari dapur restoran yang penuh aroma mesiu 
seperti rendang, sambal balado, rijstafel, nasi rames, sambal belacan alias 
terasi bakar dsb. 
 
"Berita baik!" kata Ikranegara: "Sekedar kabar gembira. Taufik Ismail dan JJ 
Kusni telah berpelukan dengan hangat dua hari yang lalu  di Jakarta! " Dan 
tentu saja di Belanda telah sebelumnya disambut dengan super antusias oleh 
seorang tokoh Allround segala bidang: politisi, seniman, sastrawan, budayawan, 
sejarawan  dan yang entah apa lagi yang semuanya di atas awan yang juga 
merangkap jompowan.
 
Ketika Pram masih hidup, spontan dia menanggapi tawaraan Gus Dur yang minta 
maaf: "Mudahnya minta maaf..." . Dan apakah yang akan dikatakan oleh Pram bila 
dia hidup melihat itu dua tokoh gadungan yang seenaknya mewakili "Lekra"dan 
Manikebu?. Barangkali Pram akan bilang:"Mudahnya bikin rekonsiliasi 
mentang-mentang saya sudah mati... "
 
Manusia gadungan memang punya hak cari popularitas meskipun dengan cara paling 
murah. Tidak ada undang-undang yang melarang apalgi bila sudi melampaui  
orang-orang yang sudah mati yang pernah lebih berhak mengontrol penulisan 
sejarah. Tapi kalau si Tufik berani memeluk seorang bekas komunis dan juga 
bekas musuh bebuyutannya, maka biarkanlah si Taufik merayakan kemenangannya 
sendiri seperti juga orang yang dipeluknya. Lekra tidak akan ternoda  oleh 
seekor bangkai nyamuk yang tercampak di atas nisannya. Manikebu sejati dan 
Lekra sejati tidak akan pernah berpelukan karena hubungan di antara mereka 
adalah hubungan siapa yang membunuh dan siapa yang dibunuh. Perdamaian sejati 
atau rekonsiliasi sejati hanya bisa tercapai bila dua belah pihak punya 
kekuatan setara, sama-sama menderita kehilangan, sama-sama babak belur tidak 
bisa menang, tidak bisa dikalahkan dan sama-sama kehabisan tenaga. Tapi yang 
pernah babak belur cuma Lekra dan hingga  sekarang Lekra
 belum
 pernah tercoret dari daftar hitam, belum pernah diperhitungkan musuh kembali, 
belum pernah membebaskan dirinya dari fitnah... apa modalmu wahai Lekra 
gadungan? Beberapa buah buku yang dimodali sendiri? Itu masih tergantung apa 
dan bagaimana kau tulis. Mengambil hati musuh atau menjual diri? Sama saja 
bukan? Seorang pelacur professional jauh lebih bernilai daripada dirimu. 
Nikmatilah harga dirimu yang seringan bulu angsa itu .
asahan aidit. 

----- Original Message ----- 
From: sautsitumorang 
To: peny...@yahoogroups .com ; sastra-pembebasan@ yahoogroups. com ; 
ppiin...@yahoogroup s.com ; bumimanusia@ yahoogroups. com ; kunc...@yahoogroups 
.com ; publiks...@yahoogro ups.com ; panying...@yahoogro ups.com ; 
jurnalisme-sastra@ yahoogroups. com ; musyawarah-burung@ yahoogroups. com 
Sent: Wednesday, February 18, 2009 2:08 PM
Subject: #sastra-pembebasan# Re: Surat PRAMOEDYA untuk JJ KUSNI

jj kusni kan gak ngalamin semua itu kerna dia "eksil" di Eropa yang
nyaman itu mangkanya enak aja dia memakek momentum diskusi bukunya
untuk "rekonsiliasi" cuman demi bisa masuk lingkarang goenawan mohamad!

kalok mo "rekonsiliasi" mustinya kan di Mabes ABRI ato di Pulau Buru
biar kontekstual dengan sejarah ! dan libatkan semua unsur yang
terkait terutama para korban 1965 dan keluarganya!

kok malah di istananya salah seorang pendukung berkuasanya Jendral
Suharto yaitu Goenawan Mohamad !!!

banyak yang jadi korban Peristiwa 1965 termasuk generasiku yang lahir
pada zaman berkuasanya rejim diktator militer Suharto. kami kehilangan
Sejarah dan kepala kami diisi Teror!

jj kusni pengkhianat sejarah dan Lekra gadungan!!! taik kucing sama kau!

-saut situmorang

--- In Apresiasi-Sastra@ yahoogroups. com, Pungkas Nugroho
<pungkasnugroho@ > wrote:
>
> 
> Saya Bukan Nelson Mandela 
> 
> (Tanggapan buat Goenawan Mohamad) 
> 
> 
> 
> 
> Tempo Kolom NO. 05/XXIX/3 - 9 April 2000 
> 
> 
> 
> 
> Saya Bukan Nelson Mandela 
> (Tanggapan buat Goenawan Mohamad) 
> 
> Pramoedya Ananta Toer *
> 
> Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan 
> Afrika Selatan. Dia berharap saya menerima permintaan maaf yang 
> diungkapkan Presiden Abdurrahman Wahid (Tempo, 9 April 2000), seperti 
> Mandela memaafkan rezim kulit putih yang telah menindas bangsanya,
bahkan 
> memenjarakannya. Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, 
> dan tidak ingin menjadi dia. 
> 
> Di Afrika Selatan penindasan dan diskriminasi dilakukan oleh kulit
putih 
> terhadap kulit hitam. Putih melawan hitam, seperti Belanda melawan 
> Indonesia. Mudah. Apa yang terjadi di Indonesia tidak sesederhana itu: 
> kulit cokelat menindas kulit cokelat. 
> 
> Lebih dari itu, saya menganggap
> permintaan maaf Gus Dur dan idenya tentang rekonsiliasi cuma basa-basi.
> Dan gampang amat meminta maaf setelah semua yang terjadi itu. Saya
> tidak memerlukan basa-basi. 
> Gus Dur pertama-tama harus menjelaskan dia berbicara atas nama siapa. 
> Mengapa harus dia yang mengatakannya? Kalau dia mewakili suatu
kelompok, 
> NU misalnya, kenapa dia berbicara sebagai presiden? Dan jika dia bicara 
> sebagai presiden, kenapa lembaga-lembaga negara dilewatinya begitu
saja? 
> Sekalipun dalam kapasitasnya sebagai presiden, Gus Dur tidak bisa
meminta 
> maaf. Negara ini mempunyai lembaga-lembaga perwakilan, dan biarkan 
> lembaga negara seperti DPR dan MPR mengatakannya. Bukan Gus Dur yang 
> harus mengatakan itu. 
> 
> Yang saya inginkan adalah tegaknya hukum dan keadilan di Indonesia. 
> Orang seperti saya menderita karena tiadanya hukum dan keadilan. Saya 
> kira masalah ini urusan negara, menyangkut DPR dan MPR, tetapi mereka 
> tidak bicara apa-apa. Itu sebabnya saya menganggapnya sebagai
basa-basi. 
> Saya tidak mudah memaafkan orang karena sudah terlampau pahit menjadi 
> orang Indonesia. 
> 
> Buku-buku saya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah 
> lanjutan di Amerika, tapi di Indonesia dilarang. Hak saya sebagai 
> pengarang selama 43 tahun dirampas habis. Saya menghabiskan hampir 
> separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan, dan
penganiayaan. 
> 
> Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Salah satu anak
saya 
> pernah melerai perkelahian di sekolah, tapi ketika tahu bapaknya tapol 
> justru dikeroyok. Istri saya berjualan untuk bertahan hidup, tapi
selalu 
> direcoki setelah tahu saya tapol. Bahkan sampai ketua RT tidak mau 
> membuatkan KTP. Rumah saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki 
> militer, sampai sekarang. Buku dan naskah karya-karya saya dibakar. 
> Basa-basi baik saja, tapi hanya basa-basi. Selanjutnya mau apa? 
> Maukah 
> negara mengganti kerugian orang-orang seperti saya? Negara mungkin
harus 
> berutang lagi untuk menebus mengganti semua yang saya miliki. 
> 
> Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hukum. Semuanya mesti 
> lewat hukum. Jadikan itu keputusan DPR dan MPR. Tidak bisa begitu saja 
> basa-basi minta maaf. 
> 
> Tidak pernah ada pengadilan terhadap saya sebelum dijebloskan ke Buru. 
> Semua menganggap saya sebagai barang mainan. Betapa sakitnya ketika
pada 
> 1965 saya dikeroyok habis-habisan, sementara pemerintah yang
berkewajiban 
> melindungi justru menangkap saya. 
> 
> Ketika dibebaskan 14 tahun lalu, saya menerima surat keterangan bahwa 
> saya tidak terlibat G30S-PKI. Namun, setelah itu tidak ada tindakan 
> apa-apa. Dalam buku saya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang terbit pada
1990 
> juga terdapat daftar 40 tapol yang dibunuh Angkatan Darat. Tapi tidak 
> pernah pula ada tindakan. 
> 
> Saya sudah kehilangan kepercayaan. Saya tidak percaya Gus Dur. Dia, 
> seperti juga Goenawan Mohamad, adalah bagian dari Orde Baru. Ikut 
> mendirikan rezim. 
> Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali 
> para intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima
fasisme. 
> Mereka semua ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang saya alami. 
> Mereka ikut bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuh an Orde Baru. 
> 
> Goenawan mungkin mengira saya pendendam dan mengalami sakit hati yang 
> mendalam. Tidak. Saya justru sangat kasihan dengan penguasa yang sangat 
> rendah budayanya, termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya
sendiri. 
> 
> Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa 
> muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi.
Dalam 
> hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena 
> penyempitan pembuluh darah jantung. Basa-basi tak lagi bisa menghibur 
> saya. 
> 
> (*) Ditulis kembali berdasarkan wawancara dengan Hadriani Pudjiarti
dari TEMPO 





      
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/

http://akarrumputliar.wordpress.com/





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke