http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/02/12/00011110/plus.minus.kerokan

*Plus Minus Kerokan*

Kamis, 12 Februari 2009 | 00:01 WIB

BANYAK orang selalu minta kerok ketika badan merasa nyeri atau pegal karena
masuk angin. Bermodalkan sekeping uang logam plus balsem, gejala masuk angin
umumnya langsung ngacir. Semakin banyak gurat-gurat merah gelap memenuhi
punggung, kian marem sang pasien.

Kerokan memang, cara paling tua mengatasi gejala masuk angin. Uniknya, cara
sederhana ini tak hanya populer di Indonesia, melainkan juga di
negara-negara Asia lainnya. Orang Vietnam menyebut kerokan sebagai cao
giodi. Adapun warga Kamboja menjulukinya goh kyol. Di China yang terkenal
dengan akupunturnya, metode kerokan juga cukup populer dengan sebutan gua
sua. Bedanya, orang China memakai batu giok sebagai alat pengerok, bukan
kepingan uang logam.

Konon, warna merah yang timbul pada kulit setelah kerokan adalah pertanda
badan telah kemasukan angin secara berlebihan. Makin pekat warnanya,
pertanda banyak pula angin yang berdiam di tubub. Benarkah?

Tentu tidak. Warna merah pertanda pembuluh darah halus (kapiler) di bawah
permukaan kulit pecah sehingga terlihat sebagai jejak merah di tempat yang
dikerok. Badan orang sehat pun akan memerah jika dikerok.

Karena itu, banyak kalangan tak meyakini kemujaraban pengobatan kerok. "Di
negaranegara barat, kerokan sama sekali tak dikenal," ajar Saptawati
Bardosono, dokter dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.
Namun, secara medis, kerokan adalah salah satu metode memperlebar pembuluh
darah tepi yang menutup (vasokontiksi) menjadi menjadi semakin melebar
(vasaditilasi). "Ini tak berbahaya asal tak jadi kebutuhan primer," ujar
Mulyadi, dokter dari Klinik Medizone. Jika terus-terusan kerokan, akibatnya
banyak pembuluh darah kecil dan halus yang akan pecah.

Namun, dalam taraf normal, kerokan akan membuat penderita masuk angin merasa
nyaman karena telah melepas hormon beta endofin. "Secara ilmiah, praktek
sederhana ini terbukti mampu mengobati gejala masuk angin atau sindroma
dingin yang memiliki gejala nyeri otot (mialga)," tandas Mulyadi.

Bukan hanya itu, prinsip kerokan tak beda jauh dengan akupuntur yang
menancapkan jarum dalam tubuh. Maksud Mulyadi, prinsip kerokan adalah
meningkatkan temperatur dan energi pada tubuh yang dikerok. Peningkatan
energi ini dilakukan melalui perangsang kulit tubuh bagian luar.

Dengan cara ini, saraf penerima rangsang di otak akan menyampaikan
rangsangan yang menimbulkan efek memperbaiki organ pada titik-titik meridian
tubuh. Nah, pada gilirannya, arus darah di tubuh yang lancar akan
menyebabkan pertahanan tubuh juga meningkat.

Epung Saepudin


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke