Jawa Pos [ Sabtu, 21 Februari 2009 ] Perempuan Diuntungkan Perseteruan Politik
JAKARTA - Konflik politik yang banyak terjadi di sejumlah parpol justru menguntungkan kaum perempuan. Sebab, konflik tersebut umumnya terjadi antarkaum pria. Sebab, masyarakat sudah jenuh terhadap pertentangan yang didominasi politisi laki-laki. Kalau mereka berkelahi terus, peluang perempuan justru bertambah. Sebab, masyarakat ingin ada yang lebih lembut untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini. ''Tapi, tetap harus disinergikan antara perempuan dan laki-laki,'' kata kader Partai Golkar Marwah Daud Ibrahim dalam Silaturahim Nasional Cendekiawan Perempuan Indonesia di Jakarta kemarin (20/2). Karena itu, tegas Marwah, peluang bagi politisi perempuan terbuka lebar. Sebab, masyarakat membutuhkan figur politisi alternatif selain yang ada saat ini. Itu, kata Marwah, ada pada kaum perempuan. Sayang, kata dia, peluang tersebut tak diikuti dengan aturan. Sistem politik Indonesia, kata dia, membuat persaingan antara kaum pria dan perempuan tak setara. Menurut perempuan asal Sulawesi Selatan itu, pihaknya sudah berhasil memperjuangkan 30 persen suara perempuan. Itu harus disyukuri dulu. Tapi, ini belum setara. ''Ibaratnya, laki-laki sudah kelas enam SD disamakan dengan perempuan yang masih TK, jelas tidak bisa. Harus naik kelas dulu, baru bersaing dua tiga periode nanti,'' tegasnya. Meski begitu, kata Marwah, bukan berarti perempuan lantas berdiam diri. Kendati aturan dan sistem politik belum mendukung, perempuan harus mengejar ketertinggalan selama ini dengan meningkatkan perannya. ''Sekarang perempuan mendapatkan akses yang sama dengan laki-laki. Jadi, perempuan lebih cerdas dan bisa mengembangkan diri, termasuk dalam berpolitik,'' ujarnya. (aga/dyn/mk [Non-text portions of this message have been removed]

