Untuk Direnungkan Bersama di Bulan Safar:

Saya kira para cerdik-cendekia Muslimin perlu melakukan re-evaluasi 
pemikirannya sendiri mengenai 

1 - gagasan, pemikiran, pemahaman, penafsiran, bahwa Al-Dinu al-Islam yang 
dijelaskan oleh Firman-Firman Wahyu Qurani (bukan yang dijelaskan oleh para 
'ulama Muslimin klassik dan kontemporer) dapat dikategorikan, didefinisikan dan 
dihipotesekan atau diteorikan sebagai AGAMA/RELIGION/KEPERCAYAAN dalam kerangka 
kerja (frames of reference) sejarah pemikiran manusia.

     Seorang sarjana Muslim bernama Ulil Abshar Abdalla yang sedang belajar di 
Emmory University mengirim sebuah mail ke maillist [email protected] dengan 
judul "Nasionalisme Nasi: Ikut pengajian sambil "berwisata kuliner Nusantara"." 
Dalam mailnya ini beliau berolah fikiran "Agama sebetulnya memiliki fungsi yang 
sangat penting di luar masalah sorga-neraka, iman-kafir, ajaran benar-salah, 
dosa, sesat, dan doktrin-doktrin yang lain. Agama bukan sekedar masalah ibadah 
atau ritus. Agama bukan sekedar mengenai apa yang secara mengerikan sering 
disebut oleh para teolog sebagai "the ultimate concern". Tentu, semua itu 
adalah "ingredient" atau bahan mentah yang penting dalam setiap komposisi 
agama. Tetapi ada fungsi lain yang jauh lebih kasat mata, tetapi kerap 
diabaikan oleh para pemeluk agama itu sendiri, yaitu fungsi sosial. Tanpa 
disadari oleh penganutnya sendiri, agama sebetulnya adalah salah satu sarana 
yang dipakai oleh manusia untuk melaksanakan "hidup bebrayan", hidup bersama 
orang lain. Rumah manusia adalah masyarakat. Agar tahan lama, sudah tentu 
"masyarakat" haruslah dirawat agar anyamannya tidak kendor. Para ahli 
sosiologi menyebutnya sebagai "social cohesion", kerekatan sosial. Agama adalah 
salah satu alat yang dapat mencapai tujuan itu." 

      Dalam olah fikirnya ini beliau sebagai ahli teologi Muslim yang 
menggeluti Al-Dinu al-Islam sebagai "agama, religion" melihat diskrepansi agama 
dalam kaitan fungsional kemasyarakatan yang dikatakannya sering dilupakan oleh 
kaum beragama sendiri. Hal demikian ini tidak sekarang saja, tetapi pada zaman 
penurunan Wahyu Qurani periode pertama di Mekah berisi kritik tajam kepada kaum 
beragama, religius, yang sholat, namun tidak mempedulikan realitas penindasan 
diantara sesama manusia, diskriminasi gender, ketidak pedulian terhadap kaum 
miskin-papa, kebanggaan pamer kekayaan dan keagungan tradisi merampok kabilah 
tetangga (ghosywu), ketidakpedulian terhadap anak yatim-piatu serta pelecehan 
seksual terhadap perempuan. Wahyu Qurani juga menjelaskan bahwa isi pokok Wahyu 
Qurani adalah segala 
sesuatu yang difirmankan Allah swt dalam model ayat-ayat muhkamat. Ayat-ayat 
muhkamat ini berisi secara prinsip petunjuk dan bimbingan dalam memecahkan 
problema kehidupan manusia biologis, baik secara individual maupun secara 
kemasyarakatan. Jika menurut beliau "Agama bukan sekedar mengenai apa yang 
secara mengerikan sering disebut oleh para teolog sebagai "the ultimate 
concern" dan "Agama sebetulnya memiliki fungsi yang sangat penting di luar 
masalah sorga-neraka, iman-kafir, ajaran benar-salah, dosa, sesat, dan 
doktrin-doktrin yang lain. Agama bukan sekedar masalah ibadah atau ritus.", 
maka secara kwalitatif agama tidak lagi dapat disebut dan dinamakan sebagai 
agama, religion, menurut doktrin dan dogma teologi. 

      Sejarah pemikiran, pemahaman dan pengertian serta interpretasi manusia 
terhadap interaksi diantara diri manusia biologis dengan alam lingkungan dan 
masyarakatnya menunjukkan adanya bekas-bekas peninggalan dan tingkat-tingkat 
perkembangan pengetahuan dan kesadaran manusia dalam usaha memecahkan 
problematika kehidupan manusia di Bumi. 

A - Semula manusia menduga bahwa pengorbanan manusia yang diperuntukkan bagi 
Yang Maha Pencipta merupakan kunci pembuka pintu kebahagiaan dan kemakmuran 
serta kemudahan hidup di Bumi. Pengorbanan manusia yang didedikasikan secara 
ritual dan diinstitusikan ke dalam tradisi budaya kemasyarakatan secara organik 
tersebut dikenal sebagai agama yang darinya lahir suatu ilmu-ilmu ritual 
religius yang dinamakan sebagai ilmu keagamaan - theology. Tradisi teologis 
dalam masyarakat manusia telah berlangsung ribuan tahun lamanya sebagai suatu 
daya usaha manusia guna memperingan derita hidupnya di Bumi. Ketika manusia 
tidak mampu lagi memecahkan problematika kehidupannya dan pengembangan 
intelegensinya melalui konsep pemikiran (ilmu) keagamaan - theology, 
B - maka manusia maju setapak dengan mencobanya lewat konsep pemikiran (ilmu) 
filsafat - phylosophy. 
C - Akan tetapi beberapa abad perkembangan pemikiran filsafat juga tidak 
sanggup menemukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan hidup bermasyarakat 
manusia tanpa harus mengorbankan kebutuhan hidup manusia lainnya. Sehingga 
diturunkanlah Wahyu Qurani yang rasional, logis dan dialektis Islami kepada 
raslullah  Muhammad saw, yang mana Wahyu Qurani memberikan petunjuk dan 
bimbingan bagaimana manusia dapat hidup di Bumi dan membangun masyarakat yang 
adil, makmur kerta raharja dan berkebudayaan tinggi serta beradab Islami. 
Sesudah para cerdik-cendekia Muslimin di masa lampau mengembangkan pemikiran 
bebas (tanpa terikat dan terhalang doktrin dan dogma keagamaan) dalam mengkaji 
alam lingkungan, sebagai penafsiran atas ayat-ayat Wahyu Qurani yang membimbing 
ke arah pengenalan terhadap Allah swt, barulah dasar-dasar modern bagi ilmu 
pengetahuan kealaman dan kemasyarakatan diletakkan, yang kini dikenal dengan 
sebutan Sains - Science sebagai ilmu pengetahuan modern.   

2 - selanjutnya harus meneliti kembali postulasi pemikiran, pemahaman, 
penafsiran, mana yang lebih awal muncul:
     a) manusia biologis (al-basyor) atau 
     b) jagad raya, alam semesta, kosmos, space-time continum (al-kaun). 

     Data terahir yang disuguhkan oleh team research yang dipimpin oleh Wendy 
L. Friedman terhadap ledakan SN Ia (Super Novae tipe I-a) menetapkan umur alam 
semesta setua 13,7 milyar tahun (13.700.000.000 tahun Bumi). Dan umur Bumi baru 
mencapai 4,5 milyar tahun (4.500.000.000 tahun Bumi). Sehingga beda umur alam 
semesta dengan umur Bumi berada pada jarak ketuaan sebesar 9,2 milyar tahun 
(9.200.000.000 tahun Bumi). Sesudah Bumi dengan segala prenik-preniknya siap 
memelihara, mengembangkan dan menjaga keberlangsungan hidup secara relatif 
berkesinambungan maka diciptakanlah manusia dengan tujuan hendak dijadikan 
"holifatan fii al-ardzh" yang bertugas memelihara kehidupan dan alam lingkungan 
di Bumi dan sistim tata surya. 

     Dari sample DNA yang diperoleh dalam studi lapangan, di tahun 1987, 
Rebecca L. Cann dan Allan C. Wilson, keduanya dari University of California, 
Berkeley, menerbitkan suatu makalah yang menggegerkan para agamawan (teolog). 
Makalah tersebut mendasarkan diri kepada hasil analisis mitochondria DNA, yaitu 
sel-sel organel yang memproduksi tenaga (energy). Sel-sel organel tersebut 
diwariskan turun temurun menurut garis keturunan dari fihak ibu. Mereka 
melaporkan bahwa umat manusia modern (homosapiens-sapiens) dari berbagai 
kelompok kependudukan yang berbeda-beda kesemuanya adalah keturunan dari 
SEORANG IBU ("Yaa ayyuhaa al-nnaasuttaquu robbakumu al-ladzii kholaqokum mmin 
nnafsin wa hidatin......." Surah An-Nisaa' ayat 1) yang hidup di suatu 
lingkungan alam di benua Afrika kira-kira 200.000 tahun yang telah silam. 

     Dari keberhasilan kita mengenal alam lingkungan hidup dan mengenal 
kehadiran diri kita melalui re-evaluasi terhadap 2 point di atas, jika kita 
dapat jujur pada diri sendiri dan jujur terhadap ilmu pengetahuan maka kita 
akan sampai kepada suatu kesimpulan pemahaman, bahwa kata al-Diin yang 
digunakan di dalam ayat-ayat Qurani memiliki essensi yang beda dengan yang 
dimengerti oleh para 'ulama Muslimin (baik oleh para 'ulama Muslimin klasik 
maupun kontemporer).
     Apabila kita referensikan dengan firman Qurani tentang sejarah para 
rasulullah dan nabiullah dan definisi al-Islam yang difirmanlkan dalam 
Al-Quranu al-Kariim serta diinferensikan dengan ketetapan "Inna diina 
'indallohi al-Islam", maka kita akan faham bahwa pemahaman atas kredo "semua 
agama adalah sama baiknya/benarnya" yang dikemukakan selama ini oleh para ahli 
teologi sesungguhnya adalah konsekwensi dari titik tolak antrophomorphism, 
bukan dari titik tolak selfsustained objective reality of the cosmos (realitas 
obyektif kosmos yang mandiri). Dalam hal ini Al-Diinu al-Islam (menurut bacaan 
saya pribadi terhadap Al-Quranu al-Kariim) tidak bertolak dari antrophomorpism 
(sebab menurut wahyu Qurani semua wahyu yang diterima para nabiullah dan 
rasulullah adalah Al-Dinu al-Islam) tetapi dari selfsustained 
objective reality of the cosmos yang menjadi tanda (ayat) keberadaan Yang Maha 
Pencipta (something undefined by human's intelligence - QS.112).

Wassalam,
A.M




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke