Refleksi:  Apakah mereka tidak hadir pada persidangan, karena harus bertugas di 
luar sidang?
--------
Suara Merdeka


Banyak Kursi Kosong Saat Sidang, Kemana Wakil Rakyat?

      Ditulis Oleh Begawan Wibisono 
          
      24-02-2009,  
       Jika tentang "merakyat", mereka  sudah jauh lebih baik dari pada zaman 
orde baru dulu. Terbukti dari gencarnya kampanye  (atau lebih tepat disebut 
PROMOSI) agar dikenal dan mendapat dukungan (suara) dari masyarakat. Namun 
kemajuan  yang baik di mata publik tersebut kurang didukung oleh perilaku 
mereka saat sidang di Senayan sana.

      Ada beberapa perilaku yang tidak sepantasnya mereka lakukan. Sebut saja 
bolos (mangkir) saat sidang dengan alasan yang kurang jelas dan terkesan 
dibuat-buat. Untuk saat-saat seperti sekarang ini, ada kemungkinan mereka bolos 
karena sibuk berkampanye. Lho, kok begitu? Mereka diwajibkan datang sidang, kok 
malah sibuk kampanye? Bukankah sidang tersebut untuk membahas kepentingan 
rakyat? Terus, kampanye-kampanye yang mereka lakukan itu, untuk kepentingan 
siapa? 

      Kalaupun mereka datang, masih saja ada golongan yang hanya duduk, diam, 
dengar, dapat duit, atau malah tidur nyenyak; sedangkan golongan yang lain 
adalah jenis orang yang suka berdebat dan adu argumen dengan mengatasnamakan 
rakyat (atau partai dan kelompok mereka) sehingga sidang berujung pada adu 
fisik.

      Lihat saja pada tanggal 19 Januari 2009 lalu saat sidang paripurna di 
Senayan, seratusan anggota DPR mangkir. Artinya sidang dihadiri kurang dari 50% 
anggotanya. Daftar hadir sidang hanya berisi 351 buah tanda tangan, dari yang 
seharusnya 550 total tanda tangan. Dari jumlah itu, hanya sekitar 200 orang 
yang berada dalam ruang sidang paripurna. Yang lain "menguap" hilang entah 
kemana. Dari daftar absensi terlihat sebanyak 81 orang anggota DPR-RI 
mengajukan izin untuk tidak menghadiri sidang. Baik itu izin sakit, atau ada 
keterangan lain, bahkan tanpa keterangan.

      Lepas dari benar tidaknya izin tersebut, paling tidak puluhan anggota DPR 
tersebut masih sedikit lumayan baik dibanding seratusan rekan mereka, yaitu 118 
anggota DPR yang mangkir dari sidang tanpa ada satu pun alasan dikemukakan. 
Yang paling buruk dan sangat tidak terpuji adalah mereka yang mengisi absensi, 
tapi malah bolos sidang. Mereka jenis orang yang hanya mau dapat duitnya, tapi 
tidak mau melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

      Kebiasaan sidang yang molor dan kursi ruang sidang paripurna yang banyak 
kosong, terus berlanjut dari waktu ke waktu tanpa ada upaya dari anggota DPR 
untuk memperbaikinya. Sidang yang seharusnya dimulai pukul 09.00 WIB, baru bisa 
dimulai pukul 10.00 WIB untuk dibuka. Kemudian di-skors karena tidak memenuhi 
kuorum (batasan kehadiran minimal yang mengikuti rapat).

      Padahal jika dibandingkan dengan zaman orde baru dulu, semua anggota DPR 
tertib saat mengikuti persidangan. Jika sidang dimulai pukul 09.00 WIB, maka 
pukul 08.45 WIB hampir seluruh anggota sudah duduk dengan tertib di dalam 
ruangan. Masyarakat awam tentu berfikir, apa tidak ada aturan atau semacam tata 
tertib yang mendisiplinkan mereka? Pasti ada! Dalam tata tertib DPR dijelaskan 
bahwa anggota DPR bisa dikenai sanksi jika dalam beberapa kali persidangan 
tidak hadir.

      Bisa disimpulkan bahwa banyak kebijakan dan pengambilan keputusan penting 
di Indonesia ini hanya dihadiri kurang lebih 100 anggota DPR dari total 550 
anggota yang ada. Jika diteliti lebih jauh, ternyata banyak tokoh penting 
partai politik (yang merupakan anggota DPR) jarang hadir atau bahkan hampir 
tidak pernah hadir dalam rapat-rapat DPR. Lebih parah lagi, ada fraksi yang 
menolak jika oknum yang membolos sidang tersebut diumumkan secara terbuka 
kepada masyarakat. Wah wah, ternyata mereka masih punya rasa malu juga ya.

      Seperti itukah profil wakil rakyat yang kita harapkan, yang dapat kita 
banggakan, dan di pundak mereka kita mempercayakan amanat rakyat sebagai mandat 
untuk dilaksanakan ? Karena itu, alangkah lebih bijaksana, jika kita 
benar-benar selektif dan obyektif dalam pemilu legislatif nanti.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke