Ketika BUMN untung, para kapitalis meminta pemerintah memprivatisasi. 
Menjualnya ke swasta agar swasta bisa menikmati keuntungannya.

Ketika perusahaan swasta merugi, para kapitalis minta pemerintah mengucurkan 
dana ke mereka. Obama sampai mengucurkan US$800 milyar untuk mengatasi krisis 
ekonomi kepada berbagai perusahaan swasta termasuk Citigroup yang akan 
dinasionalisasi.

Jadi kalau BUMN untung-> Jual ke swasta
Jika perusahaan swasta rugi -> Nasionalisasi.

Uang rakyat yang harusnya untuk rakyat akhirnya dijarah para kapitalis.

Dari:"Syahrizal Musa" <[email protected]>
PRIVATISASI: PENGUASA MENGKHIANATI RAKYAT

 

 

Setelah secara ugal-ugalan gagal memprivatisasi (menjual) 44 BUMN (Badan Usaha 
Milik Negara) pada tahun lalu akibat kriris keuangan global, Pemerintah kembali 
menggulirkan program privatisasi BUMN tahun ini. Jumlah BUMN yang diprivatisasi 
Kementerian Negara BUMN kali ini mencapai 20 BUMN.

 

Sebagaimana privatisasi BUMN tahun lalu, tahun ini privatisasi dilakukan 
melalui dua cara, yaitu initial public offering (IPO) atau penjualan saham 
perdana di pasar modal dan strategic sales (penjualan strategis).

 

Privatisasi Sejak Orde Baru

 

Privatisasi (penjualan) BUMN di Indonesia telah dilakukan sejak rezim Orde 
Baru. Pemerintah menjual 35% saham PT Semen Gresik (1991), 35% saham PT Indosat 
(1994), 35% saham PT Tambang Timah (1995) dan 23% saham PT Telkom (1995), 25% 
saham BNI (1996) dan 35% saham PT Aneka Tambang (1997) (www.bumn-ri.com).

 

Kebijakan privatisasi pada masa Orde Baru ini dilakukan untuk menutupi 
pembayaran hutang luar negeri (HLN) Indonesia yang jumlahnya terus membengkak. 
HLN Pemerintah yang berjumlah US$ 25,321 miliar pada tahun 1985 bertambah 
menjadi US$ 59,588 miliar pada tahun 1995. Sementara pemasukan dari hasil 
privatisasi BUMN tahun 1995-1997 hanya dapat menurunkan HLN Pemerintah menjadi 
US$ 53,865 miliar pada tahun 1997 (Hidayatullah, 2002).

 

Sejak ekonomi Indonesia berada dalam pengawasan IMF, Indonesia ditekan untuk 
melakukan reformasi ekonomi —program penyesuaian struktural— yang didasarkan 
pada Kapitalisme-Neoliberal. Reformasi tersebut meliputi: (1) campur-tangan 
Pemerintah harus dihilangkan; (2) penyerahan perekonomian Indonesia kepada 
swasta (swastanisasi) seluas-luasnya; (3) liberalisasi seluruh kegiatan ekonomi 
dengan menghilangkan segala bentuk proteksi dan subsidi; (4) memperbesar dan 
memperlancar arus masuk modal asing dengan fasilitas yang lebih besar (Sritua 
Arief, 2001).

 

Di bawah kontrol IMF, Indonesia dipaksa mengetatkan anggaran dengan pengurangan 
dan penghapusan subsidi, menaikkan harga barang-barang pokok dan pelayanan 
publik, meningkatkan penerimaan sektor pajak dan penjualan aset-aset negara 
dengan cara memprivatisasi BUMN.

 

Pada tahun 1998 Pemerintah kembali menjual 14% saham PT Semen Gresik kepada 
perusahaan asing, Cemex; 9,62% saham PT Telkom; 51% saham PT Pelindo II kepada 
investor Hongkong; dan 49% saham PT Pelindo III kepada investor Australia. 
Tahun 2001 Pemerintah lagi-lagi menjual 9,2% saham Kimia Farma, 19,8% saham 
Indofarma, 30% saham Socufindo dan 11,9% saham PT Telkom.

 

Kebohongan dan Ketidakmampuan Pemerintah

 

Privatisasi hakikatnya adalah pemindahan kepemilikan aset-aset milik negara 
kepada swasta dan asing (Mansour, 2003). Namun Undang-Undang Nomor 19 tahun 
2003 tentang BUMN mengkaburkan makna privatisasi dengan menambahkan alasan, 
yaitu dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar 
manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas kepemilikan saham 
masyarakat.

 

Dalam program privatisasi tahun ini, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil 
beralasan, "Privatisasi BUMN dilakukan tidak untuk menjual BUMN, melainkan 
untuk memberdayakan BUMN itu sendiri, sehingga akan menjadikan BUMN lebih 
transparan dan dinamis." (Kominfo Newsroom, 21/1/2008).

 

Kenyataannya, privatisasi tidak seperti yang digambarkan Pemerintah, yakni 
bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam kepemilikan saham 
BUMN. Pasalnya, yang dimaksud masyarakat bukanlah masyarakat secara 
keseluruhan, tetapi tentu saja hanya ’kelompok masyarakat khusus’, yakni mereka 
yang punya uang (investor).

 

Privatisasi tidak lain merupakan upaya pemerintah untuk melepaskan tanggung 
jawabnya terhadap masyarakat. Hal ini terjadi karena Pemerintah tidak memiliki 
kemampuan untuk mengelola negara. Tidak aneh, setiap tahun Pemerintah hanya 
bisa menjual aset/kekayaan negara dengan cara ugal-ugalan. Akibatnya, kekayaan 
negara—yang hakikatnya milik rakyat—terus menyusut, sedangkan hutang negara 
terus bertambah.

 

Pada tahun 2007, Wapres Jusuf Kalla mengemukakan bahwa dari 135 BUMN yang 
dimiliki Pemerintah, jumlahnya akan diciutkan menjadi 69 di tahun 2009, dan 25 
BUMN pada tahun 2015 (Antara, 19/2/2007). Artinya, sebagian besar BUMN itu 
bakal dijual ke pihak swata/asing.

 

Intervensi Asing

 

Kebijakan privatisasi di Indonesia telah diatur sedemikian rupa seperti yang 
tertuang dalam dokumen milik Bank Dunia yang berjudul, Legal Guidelines for 
Privatization Programs. Dalam dokumen ini terdapat panduan bagaimana Pemerintah 
melakukan kebijakan privatisasi dengan menghilangkan persoalan hukum. Pertama: 
memastikan tujuan-tujuan Pemerintah dan komitmennya terhadap privatisasi. 
Kedua: mengubah undang-undang atau peraturan yang menghalangi privatisasi. 
Ketiga; menciptakan lembaga yang memiliki kewenangan dalam menerapkan kebijakan 
privatisasi. Keempat: menghindari kekosongan kewenangan kebijakan privatisasi 
yang dapat menyebabkan kebijakan privatisasi tidak dapat dijalankan.

 

Dalam dokumen USAID Strategic Plan for Indonesia 2004-2008 disebutkan bahwa 
lembaga bantuan Amerika Serikat ini bersama Bank Dunia aktif dalam proyek 
privatisasi di Indonesia. Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam News Release yang 
berjudul, Project Information: State-Owned Enterprise Governance and 
Privatization Program, tanggal 4 Desember 2001, memberikan pinjaman US$ 400 
juta untuk program privatisasi BUMN di Indonesia. ADB menginginkan peningkatan 
partisipasi sektor swasta dalam BUMN yang mereka sebut bergerak di sektor 
komersial.

 

Dampak krisis global mendorong Indonesia mencari pinjaman luar negeri langsung 
kepada lembaga keuangan dan dunia internasional untuk menutup defisit APBN. 
Langkah ini semakin memberikan peluang menguatnya campur tangan dan tekanan 
asing di Indonesia.

 

Agenda Politik 2009

 

Privatisasi BUMN saat ini juga diduga kuat tidak bisa dilepaskan dari agenda 
politik 2009. Peneliti Pusat Kajian Anti (Pukat) Korupsi Fakultas Hukum UGM 
Zainal Arifin Mochtar mengemukakan, partai politik menjadikan privatisasi 
sebagai sarana untuk mengeruk dana besar dari BUMN. Parpol melakukannya melalui 
kader-kader mereka yang duduk di birokrat (Media Indonesia, 9/8/2008).

 

Direktur Eksekutif Charta Politica, Bima Arya Sugiarto memandang kursi pimpinan 
BUMN sangat dekat dengan parpol dan kekuasaan.. Tanpa peranan keduanya sangat 
sulit bagi seseorang menjadi pimpinan BUMN. Ini menjadikan BUMN sangat 
dipengaruhi kepentingan politik (Kompas, 20/2/2009).

 

Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy menilai privatisasi BUMN di tengah pasar 
global yang sedang jatuh sangat tidak wajar. Ia juga menilai agenda privatisasi 
tahun ini sarat dengan kepentingan politis untuk Pemilu 2009 (Republika, 
17/2/2009).

 

Indonesia Corruption Wacth (ICW) dalam Corruption Outlook 2008 membeberkan, 
bahwa privatisasi BUMN menjelang Pemilu sangat terkait dengan penggalian dana 
parpol. Hal ini selaras dengan semakin tingginya temuan transaksi mencurigakan 
oleh Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan. Berdasarkan laporan PPATK 
per 31 Januari 2009, transaksi keuangan yang mencurigakan hingga saat ini 
jumlahnya meningkat drastis menjadi 24.392 kasus dari sebelumnya 17.331 kasus 
pada pertengahan tahun lalu.

 

Bukti bahwa privatisasi adalah untuk kepentingan pembiayaan Pemilu 2009 semakin 
kuat dengan tidak disetorkannya dana hasil privatisasi 2009 ke kas negara 
(APBN). Menurut Deputi Menteri Negara BUMN Bidang Privatisasi dan 
Restrukturisasi, M. Yasin, dana hasil privatisasi 2009 tidak diserahkan untuk 
memperkuat APBN melainkan untuk kepentingan restrukturisasi BUMN (Republika, 
30/12/2008). Hal ini memberikan peluang besar bagi parpol, khususnya yang 
memegang Kementerian BUMN, untuk menggunakan dana hasil privatisasi.

 

Menghilangkan Peran Negara

 

Privatisasi merupakan salah satu agenda globalisasi dan liberalisasi ekonomi 
yang diusung oleh IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), AS dan 
negara-negara Kapitalis lainnya, serta para investor global. Tujuannya tidak 
lain adalah penjajahan. Selain itu, syariah Islam telah mengharamkan 
dilakukannya privatisasi, yang hakikatnya memindahkan kepemilikan umum kepada 
pribadi (swasta), baik asing maupun domestik. Program ini jelas sangat 
berbahaya, bukan saja bagi negara, tetapi bagi rakyat. Nabi Muhammad saw. 
bersabda:

 

 

Tidak boleh ada bahaya dan (saling) membahayakan (HR Ahmad dan Ibn Majah).

 

Privatisasi juga merupakan hukum Kufur yang tegak di atas prinsip pasar bebas 
yang —menjadi salah satu pilar sistem ekonomi kapitalis— sangat bertentangan 
dengan Islam. Penerapan hukum ini menjadikan Pemerintah meninggalkan tanggung 
jawabnya sebagai pelayan dan pengatur urusan masyarakat. Pemerintah kemudian 
menyerahkan perannya kepada pemilik modal.

 

Privatisasi juga menyebabkan tergilasnya hak-hak masyarakat, sementara para 
pemilik modal terus meningkatkan labanya, sebagaimana yang dikatakan tokoh 
ekonomi neoliberal.

 

Syariah Islam menegaskan, bahwa Pemerintah harus mampu mengatur dan melayani 
urusan masyarakat (ri'âyah as-su'ûn al-ummah), sebagaimana yang disabdakan Nabi 
Muhammad saw.:

 

 

Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat; dia akan 
dimintai pertanggungjawabannya atas rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Untuk itu, Pemerintah harus memiliki alat dan sarana. Salah satunya dengan 
mendirikan badan-badan yang bertugas menggali sekaligus mengolah barang tambang 
serta memproduksi barang-barang yang menguasai hajat hidup orang banyak. 
Pemerintah juga harus memiliki badan yang dapat menjamin terdistribusikannya 
semua itu di tengah-tengah masyarakat.

 

Privatisasi terhadap BUMN yang terkategori sebagai milik umum dan 
sektor/industri strategis diharamkan oleh syariah Islam. Nabi Muhammad saw. 
bersabda:

 

 

Kaum Muslim bersekutu (sama-sama memiliki hak) dalam tiga hal: air, padang 
rumput dan api (HR Abu Dawud dan Ibn Majah).

 

Harta milik umum itu meliputi fasilitas umum, barang tambang yang jumlahnya 
sangat besar dan sumberdaya alam yang sifat pembentukannya menghalangi 
penguasaan oleh individu. Adapun industri strategis adalah adalah industri yang 
menghasilkan produk vital yang tanpanya kegiatan pemerintahan dan masyarakat 
menjadi terhambat.

 

Privatisasi bukanlah solusi, tetapi merupakan program pemakzulan peran negara 
dalam melayani rakyatnya. Privatisasi merupakan ancaman yang harus dicegah 
dengan menerapkan hukum Islam yang terkait dengan kepemilikan umum, juga dengan 
menegakkan Islam sebagai haluan negara, sehingga fungsi negara sebagai 
pemelihara dan pengatur urusan rakyat benar-benar tegak.

 

Tanpanya, mustahil negara akan menjalankan fungsinya sebagai negara. Karena 
itu, kita memang membutuhkan syariah Islam dan Khilafah untuk 
merealisasikannya. []

 

 

KOMENTAR:

 

Umar bin Abdul Aziz: Pemimpin yang Kita Rindukan (Republika.co.id, 23/2/2009)

 

Tentu saja sistemnya juga kita rindukan, yakni sistem Khilafah.

===
A dance around nationalization as U.S. tries to save Citigroup
A few of the largest U.S. banks may be insolvent, and nationalizing some might 
be better than letting them fail. Is nationalization still a dirty word? (31 
comments)

By now intelligent observers should have come to the realization that the 
government officials do not fully understand the financial forces against which 
they are fighting. Ditto, all heads of all banks. Ditto, almost all heads of 
corporations. Ditto, for that matter, almost all intelligent observers.

As a consultant to global banks for over 20 years, and as Head of Structured 
Transactions for Citibank in Asia / Pacific from 2000 - 2002, and as an advisor 
to Citibank on a global systemic risk project that lasted for 27 months from 
the summer of 2003 to November 2005, I have seen the global economy and global 
financial system from almost every angle. That is, I have greater breadth and 
greater depth of experience and understanding than the talking heads to whom 
you have listened or whose views you have read or who have been called before 
Congress. My conclusion in 2005 was a global depression much worse than 1930 
was inevitable, and it would start within five years of that date.

The problems are much larger than anyone (including the well-intentioned 
authors of this article and everyone who has posted a comment) understand. 
These problems started in 1945 and have been growing dramatically since 1981. 
Basically, the “profits” reported by most corporations since 1981 have been 
mythical. The idea that the average person can live on credit is equally 
mythical. Only as long as interest rates were pushed ever lower and credit 
offered ever more generously could this nonsense continue. Unfortunately, 
interest rates can’t be pushed below zero for long before a lot of additional 
problems become obvious, so the beautiful collective dream the world has 
enjoyed since 1981 is indeed over. And it is not coming back in your lifetime.

The consequence for most people and corporations in the world is as follows: 
(1) the standard of living you believed in will never materialize or will 
disappear if you think you once had it, (2) the idea of “diversifying” your 
investments and investing as if you were a monkey throwing darts at a wall is 
not profitable in the long run, (3) you soon will have no credit at all, and 
this is a good thing, (4) we will never “get back” to the world as you knew it 
a couple years ago, because that world was a fraud and has been for almost 30 
years, (5) the crisis you are experiencing now will continue (more and worse 
bad news) for at least a couple more years, (6) at the end of the process many 
of you will not have jobs or savings, and most companies will have reported 
losses every quarter for years (7) when “recovery” occurs, it will not be like 
the glorious upswings in economic activity and market valuation you have seen 
in the last 30 years, it
 will be a 1%-2% growth per annum for many years, (8) you will cut back on 
consumption, and this is a good thing.

The likely consequence for financial market leaders and governments is as 
follows: (1) you did not understand the economic and financial system, as 
evidenced by your acknowledgement that you “didn’t see this coming”, (2) you 
still do not understand the scope and depth of the problem, as evidenced by 
your attempts to “restore confidence” in a system in which no one ever should 
have been confident, (3) you will fail in every attempt you make to lend more 
money and cook the accounting books even more to buy time as this crisis 
unfolds - because those two approaches are what got us here in the first place, 
and your efforts will only pour gasoline on the fire, (4) eventually you will 
acknowledge your ignorance (and maybe even your stupidity), but only after you 
have blamed everyone else you can think of, and there is no one left standing, 
and then you will claim you are “only human” and cannot be expected to make 
perfect decisions in a crisis of
 this complexity.

So, to put this in simple ideas everyone should be able to understand: (1) The 
economic “miracle” you have witnessed over the past 30 years at least has been 
like a really big pyramid scheme, but without collusion, but having the same 
result, (2) almost everyone on the globe has had a hand in effecting this 
pyramid scheme, so you homeowners who borrowed against your home, you holders 
of credit cards, you purchasers of cards with auto loans, and investors who 
“demanded” corporate management deliver ever-increasing yet somehow stable core 
net income and cash flow from operations should not point the finger too 
quickly solely at the bankers and politicians - they just delivered to you what 
you “demanded” as consumers and investors, and now the bill is coming due, (3) 
the bill is very big, maybe US$ 40 trillion, maybe twice that amount, maybe 
more, so the dishing out of puny US$ 3 trillion here and $2 trillion there is 
akin to attempting to fill
 a large bucket with many holes at the bottom by pouring a glass of water in 
once a day, (4) if some reader of this comment wishes to actually implement 
changes to get out of this mess with as little damage as possible and reduce 
the likelihood of recurrence, you must (a) eliminate mark-to-market versus 
accrual accounting gaps as well as merger and acquisition accounting which 
inflated and smoothed earnings and hid liabilities and risk, (b) dramatically 
alter “value at risk” methodology for risk assessment and measurement (and 
banks capital adequacy), (c) educate the world that it was a self-serving lie 
for the financial brokers of the world to “educate” the average person by 
telling them they should invest in a diversified basket of equities and that 
this strategy had always generated the highest returns over long periods of 
time and would likely do so for them as well, (d) educate the average person so 
they understand current consumption can be
 no greater than current production plus previously unconsumed prior production.

In the interim, if you wish to safeguard what assets you have left, (1) stay 
out of the financial markets for at least a couple years more (even if you are 
a “long-term” investor and don’t need funds for the next thirty years), (2) 
don’t believe the “China miracle”, or the idea of investing in commodities, or 
the ideas that the European Union or EURO or emerging markets or their 
currencies will displace the U.S. or the U.S. dollar, or that energy is a safe 
place to invest, or that OPEC will rule the world. These groups have all been 
the incidental beneficiaries of the system which used financial derivatives and 
interesting accounting for risk and return combined with decreasing interest 
rates to deliver to consumers and investors and workers what they wanted while 
lining the pockets of the delivery boys.

All of these are part of the 30-year pyramid scheme, and will go down with the 
rest of that beautiful dream. But (what will be a paradox to some) the US$ will 
rise, not fall, even though the U.S. government is printing money and then 
throwing it down the drain, because the house of cards in the U.S. is still 
much more solid than the house of cards everywhere else on the globe, and the 
smart money (not fund managers, but people who run countries and keep their 
assets outside their country in times of turmoil) knows this very well, which 
is why the U.S. dollar is strengthening against all others during this crisis 
(call it the “flight to quality” if you like, which should scare you if what we 
have is “quality”, but it is on a relative basis). So despite being run by 
people who don’t understand what battle they are fighting, the U.S. government 
is the institution most likely to survive pretty well the oncoming crisis, and 
its direct obligations
 are the best bet for you to preserve your wealth.

Give up the idea that you will earn anything on your investments. That was the 
dream from 1981 to 2007. That dream is over. The investor who has had a zero 
return (and preserved capital) in the next few years will be way ahead of all 
but a few investors. And forget about what you have already lost. That is gone, 
and won’t come back. Don’t throw what little good money you have after the bad.

Good luck.

P.S.: This was a stream of consciousness, so don’t be surprised if you find a 
few typos or thoughts that you find to be less than perfectly structured. They 
should be the least of your worries.
[31] Posted by: Carl Walsh, Clarkston, USA — 25 February 2009 5:25 am
http://www.iht.com/articles/2009/02/24/business/citigroup.3-437006.php?d=1


      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke