Refleksi : Apa komentar Anda?
http://202.169.46.231/spnews/News/2009/03/02/index.html SUARA PEMBARUAN DAILY -------------------------------------------------------------------------------- Fenomena Ponari dan Parade Kemiskinan Oleh Bambang Shergi Laksmono, Guru Besar Ilmu Kesejahteraan FISIP Universitas Indonesia Menjelajahi fenomena spektakuler Ponari, perasaan kita menjadi heran, terenyuh, namun juga takjub. Dalam hati kita bertanya, bagaimana seorang bocah berusia 10 tahun berlatar belakang keluarga sederhana dari Jombang, tiba-tiba menjadi tokoh sentral dari sebuah panggung pengobatan massal yang memukau. Dari jauh kita menduga-duga, apakah ini suatu fenomena keterdesakan rakyat miskin, benar suatu mukjizat, atau eksploitasi anak dan berbumbu motif komersial? Kiranya, batu yang dipakai untuk mengobati hanyalah media pasif, walau mungkin bisa jadi bertuah. Semua dugaan dan pemberitaan media mengenai si bocah ajaib ini telah mengungkap sisi menarik dari sebuah masyarakat yang resah dan tidak berdaya menghadapi masalah yang paling fundamental, yakni masalah kesehatan. Yang jelas, Ponari telah menjadi buah bibir masyarakat luas dan kemungkinan besar bukan yang pertama muncul dan bukan pula yang terakhir. Yang jelas, ini bukan panggung selebriti, tapi panggung parade kemiskinan dan ketidakberdayaan masyarakat mengatasi masalah kesehatan. Jujur saja, kita sebenarnya penasaran. Rasa setengah percaya sebagian besar dari kita diwakili dengan pertanyaan, "Sebenarnya sembuh enggak ya pasiennya?" Kita tidak sepenuhnya percaya, tetapi juga sulit untuk sepenuhnya mengutuk. Terucap dalam hati, "Jangan-jangan pasien Ponari memang ada yang sembuh." Di sinilah sebenarnya paham kita diuji. Bagaimana penerimaan kita terhadap pengobatan alternatif? Kita tinggalkan sejenak praduga tentang adanya unsur mistik dalam pengobatan Ponari. Apakah kita dapat menerima kemungkinan lain (probable alternative) untuk pengobatan suatu penyakit? Diterima atau tidaknya pengobatan alternatif menjadi titik awal persepsi kita tentang kejanggalan fenomena pengobatan alternatif. Saat ini semakin sulit bagi kebanyakan dari kita untuk menerima sepenuhnya keberadaan pengobatan alternatif. Walaupun varian pengobatan alternatif cukup banyak, namun kita umumnya tidak terbuka atau malu-malu menggunakan pengobatan alternatif. Masalahnya, orang kota yang modern takut dicap irasional. Pikiran manusia modern seperti kita umumnya telah didominasi dengan kemutlakan pendekatan biomedis. Penyakit bagi dunia medis adalah akibat dari proses serangan-serangan bakteri dan virus. Munculnya penyakit juga dipahami sebagai akibat dari proses menuanya organ tubuh. Gangguan fisiologis bagian tubuh dan ketidakseimbangan hubungan unsur di dalam tubuh juga merupakan penyebab lain dari berbagai macam penyakit. Di sini, manusia modern harus percaya bahwa pendekatan kedokteran klinis hanyalah satu-satunya cara mutlak untuk penyembuhan. Terbalik dengan penjelasan di atas, Ponari tidak berusaha mencari penyebab penyakit dan menyembuhkan tanpa bertanya. Cara berpikir dengan mencari sumbu sebab-akibat menjadi runyam. Harapan Rasional Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa pasien Ponari irasional. Kemutlakan pendekatan kedokteran modern juga sebenarnya menjebak, khususnya bila kita mencoba melihat dari sisi pasien Ponari yang jumlahnya ribuan itu. Semua pasien ingin kesembuhan. Namun, kesembuhan yang dicari haruslah melewati cara yang murah, langsung, dan bersahabat. Inilah harapan yang rasional dari pasien miskin di pedesaan. Pengobatan Ponari yang bersifat massal, langsung, penuh sugesti, dan bayar seikhlasnya, itulah yang dicari pasien. Praktik yang mengundang berbondong-bondong orang seakan mengikat solidaritas pasien. Suasana hiruk pikuk inilah yang seakan menciptakan collective grief atau penderitaan bersama. Sama-sama orang susah, ya enggak usah malu-malu, demikian kira-kira suasana hati para pasien. Ini tentunya berbeda dengan pengobatan modern yang semakin akurat tapi impersonal. Kalau mau jujur, ciri pengobatan kedokteran modern saat ini memang semakin kompleks, mahal, dan kurang bersahabat, bagi orang kebanyakan. Cara kerja dan cara berhubungan seorang dokter dengan pasien tanpa disadari juga sudah mengalami pergeseran. Tanpa dirasa, hubungan pasien dengan dokter saat ini telah menjadi sangat impersonal. Coba kita simak catatan sejarah pelayanan kesehatan modern menurut Jewson (1976). Semula, pelayanan kesehatan berpola bedside medicine, yakni para dokter adalah pelayan dari para bangsawan yang memiliki uang. Pelayanan kemudian bergeser menjadi hospital medicine di abad ke-19, di mana spesialisasi telah berkembang dan pengobatan difokuskan pada gejala penyakit. Kini, pengobatan kontemporer telah masuk pada tahap laboratory medicine. Pada tahap yang disebut terakhir, peran dokter dan khususnya kesempatan pasien untuk menyampaikan pandangan dan keluhan dikesampingkan. Ruang yang lebih besar telah diberikan kepada hasil tes laboratorium. Artinya, sedikit-sedikit, pasien harus lari ke laboratorium dan tidak sekali-dua kali. Prosedur ini tentunya merepotkan pasien dan mahal. Kini, dokter semakin mengandalkan lembar hasil laboratorium dan tidak lagi mengandalkan informasi dan simtom pasien. Komplikasi Birokrasi Saat ini, pengobatan di puskesmas sudah cukup murah. Demikian pula ada sarana Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) yang kemudian namanya diubah menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Pasien yang tidak mampu dapat berobat dengan banyak keringanan biaya. Namun, harus diakui standar pelayanan dan kualitas obat juga tanggung. Jam layanan dokter pun sangat terbatas. Prosedur penggunaan surat keterangan miskin dan sistem rujukan pasien ke rumah sakit cukup rumit dan sering kali diwarnai sikap yang tidak menyenangkan. Sampai tahap tertentu, telah terjadi birokratisasi dalam pelayanan kesehatan. Kalau kita bertanya kepada pasien Ponari, kenapa mereka tidak berobat ke dokter, maka kemungkinan besar jawabannya, "Sudah." Sudah ke dokter, tetapi tidak sembuh. Artinya, pasien miskin sudah capai berobat dengan pengobatan dokter yang tidak dapat memberikan obat yang mujarab. Mereka kecewa terhadap pendekatan biomedis yang tidak bermutu, mahal, dan penuh komplikasi birokrasi. Pelayanan puskesmas dan rujukannya murah, tapi pasien sering kali dilihat sebagai beban. Namun, bagi orang miskin, persoalannya bukan sekadar ke puskesmas. Persoalannya, antara lain berapa kali harus datang berobat dan berapa kali harus ke laboratorium di rumah sakit? Berapa jauh dan siapa yang harus mengantar seorang pasien yang sudah tua dan harus dibopong. Tentunya semua ini berujung pada biaya. Bagi orang berpunya, berulang kali ke dokter, apalagi dengan kendaraan pribadi, mungkin tidak terlalu sulit. Di tengah kesulitan ekonomi yang terus mendera dan kesulitan transportasi, agak sulit mengharapkan pasien miskin dengan penyakit kronis dapat bertahan pada sistem pengobatan modern yang diwarnai sistem rujukan spesialis yang tidak berujung. Sekali lagi pasien ingin pengobatan yang langsung, murah dan bersahabat. Justru tiga ciri ini yang semakin sulit diperoleh. Di tengah kekosongan inilah, Ponari menjadi harapan. Maka, berbondonglah masyarakat berobat kepada sang dukun cilik. Saat ini sebaiknya kita tidak menyalahkan masyarakat miskin. Sesungguhnya mereka dalam kondisi ketidakberdayaan. Tentunya tidak mudah untuk serta merta memperbaiki sistem pelayanan kesehatan kita. Namun, dunia kedokteran harus merebut kembali hati masyarakat dengan hati dan turun untuk bertemu masyarakat dengan sebuah mekanisme outreach yang lebih efektif. Selebihnya, masyarakat miskin harus bersabar karena berobat tidak ada yang cespleng. -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 2/3/09 [Non-text portions of this message have been removed]

