Refleksi:  Apakah ada yang tahu berapa prosen mahasiwa UI yang berkatagori 
orang miskin? 

http://202.169.46.231/spnews/News/2009/03/02/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Rektor UI Gumilar R Somantri: Orang Miskin Tetap Bisa Masuk UI
 

 

. SP/Ruht Semiono 

 

Seorang mahasiswa mengawasi peserta ujian seleksi masuk Universitas Indonesia 
(SIMAK UI) di SMAN 68 Jakarta Pusat, Minggu (1/3). UI menggelar seleksi secara 
serentak di 35 kota seluruh Indonesia ditambah satu kota di Malaysia untuk 
6.420 kursi yang diperebutkan 78.965 peserta. 

[JAKARTA] Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Somantri 
menyatakan, UI menjamin 100 persen beasiswa bagi calon mahasiswa S1 reguler 
yang tidak mampu. Selain pembebasan beban biaya kuliah, jika sanggup melewati 
persaingan seleksi tertentu, sejumlah mahasiswa yang dianggap layak akan 
mendapatkan beasiswa di luar kebutuhan akademisnya. Semacam pembiayaan ekstra 
atas kebutuhan di luar hal-hal menyangkut perkuliahan. 

"Yang tidak punya uang, dijamin 100 persen bisa masuk UI. Bahkan, tidak menutup 
kemungkinan diberikan beasiswa dan pembebasan biaya bagi yang diterima untuk 
program S1 reguler," ujar Gumilar pada temu pers saat mengujungi SMUN 68, salah 
satu lokasi dilangsungkannya ujian saringan masuk (Simak) UI di Jakarta, Minggu 
(1/3). 

Rektor UI itu menegaskan, kampus yang dipimpinnya amat terbuka dalam memberikan 
kesempatan bagi siapa saja yang hendak melanjutkan jenjang pendidikannya, 
contohnya penyandang cacat (disable). Sebagai bukti, tahun lalu UI telah 
menerima lima orang disable, yang bahkan diberikan beasiswa untuk biaya 
pendidikannya. 

Dengan target tahun depan dapat masuk daftar 200 besar perguruan tinggi (PT) 
terbaik di dunia, setelah sekarang menduduki urutan peringkat ke- 287 di dunia 
dan peringkat ke lima se-ASEAN, Gumilar berharap ujian Simak UI ini dapat 
benar-benar menyaring calon-calon mahasiswa terbaik yang berkompeten. Baik 
dalam hal jurusan keilmuan yang dipilih, maupun kemampuan lain di luar hal-hal 
akademis, seperti kesenian, olah raga, teknologi, dan sebagainya. 


Saingan 

"Saingan kami kini bukan hanya PT di tingkat lokal, tapi PT internasional 
seperti yang di Singapura, Malaysia, Jepang, Australia, dan sebagainya. Karena 
itu, dari hampir 8.000 peserta Simak yang mendaftar, hanya lima hingga tujuh 
persen yang diterima. Dengan demikian, hanya calon mahasiswa yang benar-benar 
berkualitaslah yang akan lolos ujian," katanya. 

Simak yang baru pertama kali dilaksanakan oleh UI ini mengintegrasikan mulai 
dari penerimaan mahasiswa baru jenjang pendidikan doktor, magister, sarjana, 
dan diploma tiga. Berlokasi di 35 kota yang tersebar di seluruh Indonesia dan 
di Kuala Lumpur, Malaysia, ujian ini dilaksanakan secara serentak untuk 
memperebutkan 6.240 kursi, dan pengumumannya dapat diakses melalui internet 
mulai tanggal 4 Maret 2009. 

Persentase yang diterima sebagai mahasiswa baru melalui Simak adalah 60 persen, 
dan sisanya SNMPTN 15 persen, dan UMB 15 persen. Sementara itu, untuk sarjana 
reguler melalui jalur prestasi (kesenian, olahraga, dan teknologi), dan putra 
daerah yang direkomendasikan oleh pemerintah daerah masing-masing, setelah 
melalui proses tes terlebih dahulu. 

Gumilar memaparkan, untuk menunjang gagasan menjadikan UI sebagai PT 
berkualitas di tingkat internasional, maka segala aspek penunjang sedang 
diupayakan selesai akhir tahun ini, seperti infrastruktur, pengaplikasian basis 
Information and Communication Technology (ICT) yang juga telah diterapkan dalam 
Simak UI kali ini, dosen pengajar, guru besar, sistem akademik now generation, 
dan lain sebagainya. 

Salah satu yang sedang dalam proses penyelesaian adalah perpustakaan kampus 
seluas 25.000 hektare, yang nantinya direncanakan akan menjadi perpustakaan 
terbesar dan terlengkap di Asia, atau bahkan di dunia. 

"Seperti dilihat dari betapa banyaknya yang peserta Simak ini, menunjukkan 
bukan hanya tingginya animo masyarakat untuk dapat diterima di UI, namun juga 
pertanda semakin sadarnya bangsa Indonesia dalam menghargai pendidikan tinggi. 
Karena itu, sudah saatnya UI lebih bersaing ke kancah internasional, dan 
menunjukkan kualitas yang bahkan tidak kalah dari Harvard," tandasnya. 
[DDS/L-8] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 1/3/09 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke