Rfeleksi : Pantas saja banyak daerah yang hutannya digundulkan dan rakyat setempat dimiskinkan, karena mata pencaharian hasil hutan mereka dihilangkan oleh kongkalikong "wakil rakyat" atau yang lazim dikenal sebagai anggota DPR..
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/06/huk02.html Anggota DPR Kerap Jadi Perantara Cukong Kayu Jakarta - Anggota Komisi Kehutanan kerap menjadi perantara mengurus perpanjangan maupun izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI) para cukong kayu di Departemen Kehutanan. Demikian pengakuan mantan Ketua Komisi IV DPR Yusuf Emir Faishal saat diperiksa sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (5/3). "Banyak pengusaha meminta bantuan dan Komisi dekat dengan menteri. Apalagi ketua panitia kerja kehutanan Hilman Indra yang satu partai dengan Menhut MS Kaban," ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini. Yusuf didakwa menerima uang dari pengusaha Palembang Chandra Antonio Tan, pemilik PT Chandratex Multi Artha. Perusahaan itu calon investor pembangunan Pelabuhan Tanjung Api-api, Sumatera Selatan. Pemberian uang itu terkait rekomendasi alih fungsi hutan Pantai Air Telang, Sumsel. Dalam kasus tersebut, Chandra melalui Pemda Sumsel menyerahkan Rp 5 miliar dalam dua tahap untuk memuluskan alih fungsi hutan lindung. Yusuf didakwa menerima Rp 500 juta melalui Bank Mandiri Traveler Cheque dan BNI Cek Multi Guna. "Tim Gegana" Saat diperiksa, Yusuf membantah dirinya yang menyuruh Sarjan Tahir meminta Rp 5 miliar pada Chandra Antonio Tan. Dia baru tahu angka itu ketika kasus ini diberitakan di media massa. Namun, dia mengaku mengatur pembagian traveler cheque yang pertama senilai Rp 2,5 miliar bersama dua anggota Dewan, Hilman Indra dan Fachri Andi Leluasa. Untuk 50 anggota Komisi digunakan sistem terbuka atau seluruhnya menerima. Kemudian bagi anggota Komisi yang agresif dan aktif mengurus alih fungsi hutan lindung. Mereka yang aktif ujar Yusuf mencapai tujuh orang dan dikenal sebagai "Tim Gegana", di antaranya Azwar Chesputra, Fachri Andi Leluasa, dan Hilman Indra. "Mereka sangat agresif untuk urusan seperti ini," imbuh Yusuf. [Non-text portions of this message have been removed]

