http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=8621


Jum'at, 06 Maret 2009 , 10:28:00

Diancam Warga Ingin Pisah dari NKRI

Aparat Kebakaran Jenggot



 
Deputi Pertahanan Negara bersama Danlanud Supadio dan Danrem saat mendarat di 
Lanud Supadio, usai melakukan kunjungan ke Puring Kencana
Warga perbatasan selalu menuntut kesejahteraan, tapi diabaikan pemerintah. 
Tidak salah apabila mereka mengancam keluar dari NKRI. Negeri tetangga lebih 
rimbun dari pada negeri sendiri.

Pontianak. Warga itu manusia bukan tunggul. Mereka mesti diperhatikan, bukan 
dibiarkan. Tidak salah apabila warga Kecamatan Puring Kencana Kapuas Hulu 
mengancam lewat selembar surat ingin keluar dari NKRI. Jelas saja para aparat 
keamanan kebakaran jenggot. 

Menindaklanjuti surat ancaman itu, Menteri Koordinator Politik Hukum dan 
Keamanan (Menkopolhukam) melalui Deputi Pertahanan Negara bersama Danrem dan 
Danlanud buru-buru turun ke lapangan. Mereka ingin mengecek, benarkah warga di 
perbatasannya ingin keluar dari negara ini.

"Isu yang beredar bahwa masyarakat Puring Kencana akan memisahkan diri dari 
NKRI, itu tidak benar. Surat yang dikirimkan kepada Menkopolhukam hanya dibuat 
sebagian orang. Pada intinya, mereka di sana menuntut agar kesejahteraan mereka 
lebih diperhatikan," jelas Slamet Santoso, Deputi Pertanahan Negara, 
Menkopolhukam kepada Equator di ruang VIP Lanud Supadio usai melakukan 
peninjauan di Kecamatan Puring Kencana, Kamis (5/3) kemarin.

Dikatakannya, setelah turun ke lapangan, ternyata pemberitaan yang selama ini 
beredar tak seheboh itu. Dari pemaparan media yang mengatakan akses jalan di 
sana kurang memadai, tidak ada rumah sekolah dan Puskesmas. Ternyata, di sana 
ada SD dan SMP. Hanya saja, kualitasnya memang kurang baik. Demikian halnya 
dengan Puskesmas juga tersedia di sana.

"Namun, kita tetap mengucapkan terima kasih kepada media massa yang telah 
memberikan informasi kepada kita. Kita berusaha menindaklanjuti informasi yang 
telah diberikan pers yang memberikan Puring Kencana dicaplok oleh Malaysia," 
ujar Slamet.
Berdasarkan fakta yang ada di lapangan, kehidupan masyarakat di sana memang 
cukup memprihatinkan. Di mana beberapa desa di kecamatan tersebut belum 
tersentuh listrik. "Perlu kami kemukakan bahwa untuk seluruh daerah yang ada di 
wilayah perbatasan memang mengalami hal serupa. Kita akui memang di daerah 
perbatasan jauh tersentuh dari pembangunan," tambah Slamet. 

Sebagai lembaga yang menangani pertahanan negara, Depolhukam menyadari apabila 
suatu daerah kurang mendapat perhatian bisa saja masyarakat di sana akan 
berpindah ke negara lain. Setelah turun ke lapangan, ternyata nasionalisme 
masyarakat di sana sangat tinggi. Sehingga isu yang menyatakan bahwa mereka 
akan memisahkan diri dari NKRI dan bergabung ke Malaysia tidak benar.
"Di Puring Kencana ada lima desa. Sebetulnya, kecamatan ini juga jauh dari 
perbatasan. Jaraknya mencapai 18 kilometer dan butuh waktu empat jam untuk 
menuju perbatasan. Hanya permasalahannya masyarakat di sana memang banyak 
menggantungkan hidupnya dari Malaysia. Sebanyak 75 persen masyarakat di sana 
memasok kebutuhan sehari-hari dari Malaysia yang memang jaraknya lebih dekat," 
jelasnya.

Selain itu, masyarakat di sana juga lebih senang berobat di Malaysia karena 
selain sarana dan perasaan di sana lebih lengkap juga jaraknya lebih dekat dan 
mudah dijangkau oleh masyarakat. Namun, di sana masyarakat tetap harus bayar 
untuk pengobatan. 
"Masyarakat di sana hanya meminta peningkatan kesejahteraan mereka lebih 
diperhatikan. Dari hasil kunjungan ini akan kita sampaikan kepada Menpolhukam 
untuk seterusnya disampaikan kepada pemerintah pusat. Untuk mengatasi gejolak 
masyarakat di daerah perbatasan, tentu tidak dapat ditangani Depolhukam 
sendiri. Perlu kerja sama dari semua departemen," tukas Slamet. 
Sementara itu, Camat Puring Kencana Kabupaten Kapuas Hulu Drs D William 
membantah keinginan warganya untuk menjadi warga negara Malaysia. Menurutnya, 
kenyataan selama ini warga di sana kerap berbelanja di sana ketimbang ke 
Putussibau atau Pontianak.
"Tidak benar dan tidak mungkin kita meminta warga negara Malaysia. Kalau hanya 
berbelanja mungkin saja, karena 75 persen bahan pokok didatangkan dari 
Malaysia," ungkap D Wiliam dihubungi kemarin. 

"Kalau menunggu bahan pokok dari Putussibau dan Pontianak sangat lama. Lagian, 
kondisi dari Kecamatan Puring Kencana ke Putussibau tidak memungkinkan, karena 
jalannya hancur. Jika sekadar untuk berkunjung ke Malaysia, itu hal yang 
lumrah. Karena tidak sedikit keluarga warga Puring berada di sana (Malaysia, 
red). Jadi itu hal yang biasa, bukannya bergabung," tegas William.

Terpisah, Wakil Gubernur Drs Christiandy Sanjaya saat dikonfirmasi informasi 
tersebut ia mengungkapkan, sepengetahuan dirinya laporan itu belum sampai ke 
tempatnya. Namun mengenai 'krikil-krikil' di daerah perbatasan yang inginkan 
masuk ke Malaysia lantaran kesejahteraan negara tetangga lebih menjanjikan, 
tidak dipungkirinya. Pasalnya, dengan luas Kalbar 146.807 kilometer persegi 
atau 7,53 persen luas Indonesia), merupakan provinsi terluas keempat setelah 
Papua, Kaltim. Namun di satu sisi hanya memiliki APBD sekitar Rp 1,4 triliun 
saja.

"Kenapa Pak Gubernur selalu menyampaikan perbatasan tentang kesejahteraan dan 
ketahanan? Karena pada daerah perbatasan kita selalu ada problem menyangkut 
masalah kesejahteraan dan ketahanan daerah. Saya kira penanganan daerah 
perbatasan diperlukan kerjasama yang baik. Baik pemerintah pusat, provinsi dan 
kabupaten. Persoalan daerah perbatasan tidak bisa ditangani sendirian. APBD 
kita hanya Rp 1,4 triliun mesti digunakan untuk membangun Kalbar yang luasnya 
melebihi pulau Jawa ini," ungkap Christiandy temui di ruang kerjanya, kemarin.

Pada berita Equator 31 Januari lalu, Camat Puring Kencana Drs D William dengan 
lantang membeberkan kondisi daerahnya tersebut. "Fasilitas kehidupan masyarakat 
kami sangat memprihatinkan. Listrik tidak ada, jalan hancur sehingga sarana 
transportasi juga tidak ada yang menghubungi lima desa dan 15 dusun," 
ungkapnya, di kantor gubernur, Jumat (30/1).

Kecamatan Puring Kencana dihuni kurang lebih tiga ribu jiwa warga. Rata-rata 
mereka bekerja sebagai buruh bangunan di Malaysia dan petani lada. Bahkan, 
tidak sedikit yang menjadi perantau di kecamatan lain. Mereka berangkat keluar 
kabupaten untuk mencari nafkah. "Bagi mereka yang tidak memiliki lahan 
pertanian, lebih memilih bekerja di luar daerah, khususnya di Malaysia," ujar 
William.
Fasilitas kesehatan juga minim. Meskipun Puring Kencana memiliki satu unit 
Puskesmas, namun tidak ada dokter yang ditugaskan. Apabila ada warga yang hamil 
dan sakit keras, mereka lebih memilih melahirkan dan berobat di rumah sakit 
Batu Lintang (nama kecamatan di Malaysia Timur). Alasannya, pelayanan lebih 
berkualitas. Anak yang dilahirkan juga akan dibuatkan surat beranak atau akta 
kelahiran gratis. "Surat beranak tersebut akan menjadi syarat untuk mendapatkan 
IC atau kartu identitas," papar William. 
William mengatakan, anak yang lahir di Malaysia, dengan mudah masuk sekolah di 
Malaysia, baik tingkat SD, SMP dan SMA, bahkan kuliah. Tidak sedikit warga yang 
sebelumnya mengemban pendidikan di Malaysia bekerja sebagai karyawan 
perusahaan. "Maka, jangan heran apabila ada warga kita yang lebih bangga 
apabila bisa menyekolahkan anaknya di Malaysia," ungkapnya. 

Pemerintah Indonesia hanya mampu membangun sembilan unit SD dan satu unit SMP 
di Puring Kencana. Itupun tenaga pengajar yang ditugaskan sangat kurang. 
Fasilitas yang disediakan untuk proses belajar-mengajar sangat-sangat minim. 
Jangan heran apabila warga lebih memilih menyekolahkan anak di Malaysia. 
Alasannya, mutu dan kualitas jauh lebih baik dari sekolah yang ada di Puring 
Kencana. Apalagi pemerintah Malaysia menyediakan asrama khusus pelajar serta 
membebaskan biaya pendidikan dari SD hingga SMP. 
"Warga kita lebih memilih menyekolahkan anaknya di Batu Lintang Malaysia yang 
berbatasan langsung dengan Kecamatan Puring Kencana. Mereka bisa sekolah di 
sana karena memiliki IC yang diperoleh ketika melahirkan anaknya di Malaysia," 
jelas William.    Memenuhi kebutuhan makanan, 90 persen warga Puring Kencana 
belanja di Malaysia. Apabila belanja makanan dari Putusibau (Ibu Kota Kapuas 
Hulu) harus menunggu 10 jam perjalanan. Itupun kalau jalan kering. Apabila 
hujan, maka bisa memakan waktu dua hari perjalanan. "Apabila belanja di 
Putussibau, bisa-bisa keluarga mereka kelaparan," papar William. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke