http://www.mediaindonesia.com/read/2009/03/03/63907/70/13/Pemilu_dan_Korupsi


Pemilu dan Korupsi 


07 Maret 2009 00:09 WIB      
PEMILIHAN umum (pemilu) adalah sarana menyeleksi anak-anak bangsa untuk duduk 
sebagai wakil rakyat. Hanya mereka yang memiliki integritas, komitmen, dan 
idealisme boleh menyandang predikat wakil rakyat. 
Mereka yang telah terkontaminasi sudah seharusnya dieliminasi dan dijegal 
melangkah ke Senayan. Karena itu, dibutuhkan kecerdasan rakyat untuk menyaring 
agar 'sampah' tidak lolos menjadi wakil rakyat. 

DPR semestinya menjadi rumah rakyat, tempat semua kepentingan dan aspirasi 
publik diperjuangkan secara jujur. Orang-orang yang masuk ke rumah itu pun 
haruslah orang-orang yang bersih. Bersih hati dan pikirannya, bersih pula 
perilakunya. 
Tapi citra DPR akhir-akhir ini sangat menyedihkan. Menyedihkan karena perilaku 
anggota dewan yang korup. Sejumlah wakil rakyat telah dijebloskan ke tahanan 
oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Para wakil rakyat itu menghadapi proses hukum dengan dakwaan yang sama, 
korupsi, bahkan dengan aneka modus. 
Kita prihatin karena DPR kini dicibir, dikecam, dan lebih dikenal sebagai 
sarang koruptor, bukan lembaga perwakilan rakyat. Sebagian besar anggota dewan 
yang baik ikut ternoda. 

Itulah risiko sebagai komunitas terhormat yang tidak menjaga martabat. 
Gedung DPR di Senayan yang semestinya menjadi rumah rakyat kini lebih tepat 
disebut sebagai markas koruptor. Gedung mewah dan ruang kerja dengan segenap 
privilese hanyalah kemasan untuk melindungi berbagai transaksi ilegal. Di rumah 
rakyat itu, aspirasi publik telah diperdagangkan secara tidak senonoh dan 
menyakitkan. 

Fraksi dan partai juga bukan lagi menjadi rumah politik yang agung bagi para 
kader. Fraksi dan partai seolah hanya mengajarkan cara mengejar kekuasaan 
dengan mengabaikan moral dan etika. Ketokohan hanya menjadi sarana untuk 
menaikkan harga tawar-menawar, bukan untuk memperjuangkan kepentingan publik. 
Keberadaan DPR benar-benar mencemaskan. Di tengah kecemasan itulah Pemilu 2009 
digelar. Akankah Pemilu 2009 tetap menghasilkan wakil rakyat yang korup? 
Akankah pemilu hanya melanggengkan praktik korupsi di Senayan? Biaya pemilu 
yang besar, belanja calon anggota legislatif yang mahal, akankah hanya untuk 
menghasilkan koruptor? 

KPK dan partai harus berjalan seiring dalam memberantas korupsi. KPK 
membersihkan wakil rakyat dari kasus-kasus korupsi dan partai menyaring caleg 
sehingga yang lolos hanyalah yang bermutu baik secara intelektualitas maupun 
moralitas. Tanpa itu, DPR tetap diisi para penggasak uang rakyat. 

Kini saatnya publik menimbang caleg yang jelas track record-nya, komitmennya, 
dan integritasnya. Jangan sedikit pun memberi ruang toleransi bila tidak ingin 
kecewa kelak. Lima menit dalam bilik suara akan menentukan perjalanan bangsa 
ini lima tahun ke depan. Karena itu, jangan memilih caleg yang enteng menjual 
nurani.
 KOMENTAR

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke