tulisan yg ruaaaar biasaaa..mudah2an komentar tmn ga ANTIKLIMAX hehe

Antiklimaks Peradaban Islam
http://akmal.multiply.com/journal/item/721


assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Peradaban Islam diawali dengan diutusnya Nabi Muhammad saw.  Seorang lelaki 
sederhana yang berprofesi sebagai gembala dan pedagang, yang tak pandai membaca 
dan menulis.  Lahir dari bangsa yang bukan bangsa, yang sama sekali tidak 
signifikan peradabannya jika dibandingkan dengan peradaban Persia dan Romawi di 
kedua sisinya.  Dari
lembah tandus yang tidak punya prospek kecuali karena keberadaan sumur
Zamzam, dan tidak punya ikatan dengan hati manusia kalau bukan karena
Baitullah yang ditinggikan pondasinya oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi
Isma’il as. dahulu.
 
Bicara tentang peradaban Islam janganlah berhenti pada ke-ummiy-an
Rasulullah saw. dan bangsa Arab pada masa-masa awalnya, namun hendaklah
meneliti juga perbedaan ekstrem yang terjadi ketika pengaruh Islam
telah mencapai seluruh pelosok Arab dan mulai mengguncang popularitas Persia 
dan Romawi.  Takhayul diganti dengan rasio.  Mengundi dengan anak panah (atau 
dengan cara lain) dilarang, thawaf dengan bertelanjang bulat diharamkan.  
Moralitas masyarakat ditata ulang.  Pernikahan dimuliakan, perceraian dibenci, 
perzinaan dikecam, dan kekerasan dalam rumah tangga dilenyapkan.  Perlahan tapi 
pasti, perbudakan pun dibawa pada level kemanusiaan yang sangat tinggi, hingga 
akhirnya punah dengan sendirinya.  Tradisi menenggak khamr dihapuskan, dan 
masyarakat diajarkan untuk membenci kebodohan dan kefakiran.
 
Gebrakan ‘ekstrem’ ala Islam terus berlanjut.  Rasulullah saw., yang ketika itu 
baru diakui sebagai pemimpin di kota Madinah saja, ternyata mempunyai lima 
puluh hingga enam puluh orang sekretaris dengan tugas yang berbeda-beda.  Bangsa
yang tadinya tidak gemar baca-tulis kini ‘dipaksa’ untuk melakukan
tugas-tugas administrasi dan dokumentasi dengan rapi jali.  Segala hal dicatat 
rapi, mulai dari wahyu yang baru turun, sampai ke zakat, nama para mujahid, 
perjanjian, hutang-piutang, juga korespondensi dengan para pemuka kaum.  Bahkan
Sang Nabi yang mantan gembala dan pedagang itu juga mewajibkan sebagian
tawanan perang untuk mengajari anak-anak Muslim caranya membaca sebagai
tebusan bagi dirinya sendiri.  
 
Tidak
seperti para nabi palsu yang mengutip uang dari orang yang menjadi
pengikutnya, Rasulullah saw. selalu mengutus sahabat-sahabatnya untuk
menjadi guru di tengah-tengah kaum yang baru memeluk agama Islam.  Masjid-masjid
difungsikan sebagai tempat mencari ilmu, dan setiap pemuda yang mencari
ilmu namun kurang mampu dijamin hidupnya di shuffah.  Seperempat abad setelah 
wafatnya Rasulullah saw., di Madinah sudah ada gudang kertas yang berhimpitan 
dengan rumah ‘Utsman ra.  Pada
tahun 60-an Hijriyah, peradaban Islam sudah mengenal perpustakaan, dan
pada akhir abad pertama Hijriyah kertas sudah dibagi-bagikan oleh
pemerintah pusat kepada para gubernur untuk keperluan administrasi dan
sebagainya.  Demikianlah Islam menjungkirbalikkan
keadaan bangsa Arab dari statusnya sebagai bangsa yang hanya punya
sedikit saja tradisi keilmuan menjadi umat yang tergila-gila pada ilmu.  
 
* * * * * * *
 
Pertanyaan
“mengapa Islam di masa kini begitu terpuruk?” selalu relevan untuk
dipertanyakan, dan selalu cukup sulit untuk dijawab.  Terus terang masalah ini 
memang selalu mengundang tanda tanya.
 
Pada abad keempat Hijriyah, peradaban Islam telah harum dengan nama berbagai 
ilmuwan.  Salah satunya adalah al-Biruni, yang berasal dari wilayah yang kini 
menjadi bagian dari negeri Uzbekistan.  Bidang
keahlian al-Biruni meliputi fisika, antropologi, psikologi, astronomi,
kimia, sejarah, geografi, geodesi, geologi, matematika, farmasi,
filosofi, dan ia juga seorang guru dan ahli agama.  Ia
dikenal sebagai kritikus ilmu alkemia dan astrologi, penyusun
ensiklopedi, penjelajah dan seorang ulama pengikut aliran Asy’ariyah.  Pada 
usia 17 tahun, al-Biruni telah menghitung ketinggian kota Kath di Khwarazm.  Ia 
juga memecahkan persamaan geodesi yang rumit untuk menghitung diameter Bumi.  
Hasil perhitungannya, yaitu 6.339,9 km, hanya meleset 16,8 km dari hasil 
perhitungan modern, yaitu 6.356,7 km.
 
Sepanjang
hidupnya, al-Biruni telah menulis tidak kurang dari 146 buku (sebagian
ahli bahkan mengatakan bahwa al-Biruni telah menulis 180 buku) yang
terdiri dari 35 buku tentang astronomi, 4 buku tentang astrolab, 23
buku tentang astrologi, 9 buku tentang geografi, 10 buku tentang
geodesi dan teori perpetaan, 15 buku tentang matematika, 2 buku tentang
mekanika, 2 buku tentang obat-obatan dan farmakologi, 1 buku tentang
meteorologi, 2 buku tentang mineralogi, 4 buku tentang sejarah, 2 buku
tentang India, 3 buku tentang agama dan filsafat, dan masih banyak lagi.
 
Untuk mengenang al-Biruni, para ilmuwan astronomi memiliki caranya sendiri.  
Pada tahun 1970, International Astronomical Union (IAU) menyematkan nama 
al-Biruni kepada salah satu kawah di bulan.  Kawah yang memiliki diameter 77,05 
km itu diberi nama Kawah Al-Biruni (The Al-Biruni Crater).
 
Pada abad kesepuluh Masehi tersebut, benua Eropa dibanjiri oleh darah akibat 
perang yang terus-menerus.  Bangsa Viking menduduki bagian utara Perancis, dan 
orang-orang Bulgaria meluluh-lantakkan pasukan Bizantium di Pertempuran 
Anchialus (Battle of Anchialus), yang dianggap sebagai salah satu pertempuran 
yang paling kejam di Abad Pertengahan.  Sementara
bangsa Eropa bergelimang dalam kebiadabannya, peradaban Islam tengah
asyik mengamati pergerakan bintang-bintang di angkasa, atau menghitung
berat jenis berbagai macam logam.
 
Pada masa hidupnya al-Biruni, peradaban Islam sudah jauh dari predikat ummiy.  
Al-Biruni
sendiri dikenal sebagai pelopor metode eksperimental dalam penelitian,
yang mengharuskan dilakukannya pencatatan yang seksama dalam setiap
fase pengamatan.  Tradisi baca-tulis menjadi hal yang sangat umum, dan umat 
Islam menjadi pelopor pendidikan tinggi di dunia.  Sampai tiba masanya ketika 
bangsa-bangsa Barat mengirimkan pemuda-pemudanya untuk belajar di Andalusia 
(Spanyol) yang ketika itu dikuasai oleh Islam.
 
Kemakmuran melimpah di tengah-tengah umat Islam.  Dinasti ‘Abbasiyah membangun 
kota Baghdad menjadi kota metropolitan yang sulit dicari bandingannya.  
Pembangunannya menghabiskan biaya jutaan dinar, diawasi oleh ratusan ahli 
bangunan dan arsitektur, dengan masterplan yang sangat rapi, bahkan diyakini 
lebih rapi daripada pembangunan kota Jakarta sekalipun.
 
Peradaban Islam memimpin umat manusia pada saat itu.  Sistem irigasi 
dikembangkan untuk budi daya pertanian yang lebih baik.  Para ilmuwan sudah 
mempelajari ilmu nutrisi dan memilih bahan pangan yang
baik-baik, bahkan para dokter sudah berani membedah tubuh pasien dengan
peralatannya yang lengkap.  Jangan bayangkan
masyarakat Arab pada masa itu kumuh dan lusuh, karena umat Islam juga
merupakan pelopor dalam pengembangan parfum, mencontoh Nabi Muhammad
saw. yang juga gemar wewangian.  Jika orang Indonesia abad ke-21 sudah biasa 
membicarakan urusan bisnis di kafe-kafe, maka
umat Islam berabad-abad yang lalu sudah mempopulerkan kedai-kedai kopi
dimana orang bisa menggelar pembicaraan dengan santai tentang segala
hal.
 
Harun ar-Rasyid, salah satu khalifah paling terkenal dari Dinasti ‘Abbasiyah, 
memiliki kekayaan yang sulit dibayangkan.  Ia terbiasa memberikan ribuan dinar 
sekedar sebagai ‘balas jasa’ kepada penyair yang syair-syairnya mampu menghibur 
hatinya.  Dana
untuk riset melimpah ruah, dan praktis dapat dikatakan bahwa ekonomi
pada masa itu sangat menopang perkembangan ilmu pengetahuan.
 
Namun kemakmuran pula agaknya yang menjadi penyebab timbulnya antiklimaks dalam 
peradaban Islam.  Cinta dunia dan takut mati memang merupakan dua serangkai 
yang telah sejak lama diperingatkan oleh Rasulullah saw.  Toh, dengan kekayaan 
yang melimpah ruah itu, Baghdad tak mampu bertahan dari gempuran bangsa Mongol. 
 Perlahan tapi pasti, peradaban Islam yang tadinya superior di hadapan yang 
lain pun digerogoti.  Kenikmatan duniawi telah melenyapkan semangat jihad, dan 
semangat mencari ilmu berganti menjadi semangat meraup keuntungan.
 
Keterpurukan tidak identik dengan kemakmuran duniawi.  Meskipun peradaban Islam 
kini sedang berusaha bangkit, namun negeri-negeri Islam banyak yang bergelimang 
harta.  Kuwait sukses menjalin kerja sama eksploitasi minyak bumi dengan 
negara-negara Barat.  Dubai kini dikenal dengan gedung-gedung tingginya, dan 
para jutawan Arab kini punya banyak villa, yacht dan juga klub sepakbola di 
negara-negara Eropa.  Sayang, semua simbol kemakmuran tersebut tidak membuat 
harga diri umat semakin tinggi di tengah-tengah masyarakat dunia.
 
Bumi berputar, waktu berjalan, namun fitrah manusia tetaplah sama.  Bangsa yang 
tadinya digjaya bisa jatuh terpuruk kalau ruh-nya sudah kosong melompong.  Umat 
Islam telah menemukan klimaksnya dengan tuntunan agamanya, dan jatuh ke titik 
terendah akibat cinta dunia dan takut mati.  Kini bangsa-bangsa Barat pun mulai 
mengalami hal yang kurang lebih sama.  Mereka
telah mencapai klimaksnya (meski dengan cara dan alasan yang sangat
berbeda dengan peradaban Islam dahulu), dan kini sedang terjun bebas.  Berbagai 
penyimpangan terjadi di tengah-tengah masyarakatnya.  Institusi keluarga 
menjadi begitu rapuh, bahkan sudah banyak yang tidak lagi punya kepercayaan 
diri untuk membangun keluarga.  Syahwat telah dipertuhankan, dan uang 
mengontrol segalanya.  Segala perbuatan mereka halalkan atas nama kebebasan.  
Sains sudah menjadi hal yang begitu membosankan di mata sebagian besar orang.  
Kini, pandangan manusia beralih pada segala hal yang mendatangkan uang dan 
lebih banyak uang.  Banyak ilmu apalah artinya jika prospek kerja tidak pasti.
 
Umat Islam pernah mencapai klimaksnya dahulu, dan telah pula mengalami proses 
antiklimaks yang sangat menyakitkan.  From the lowest point, there’s only one 
way : up !
 
wassalaamu’alaikum wr. wb.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke