Sungguh Indahnya

By: agussyafii

Setiap orang yang hendak meninggal dunia senantiasa akan terlihat dari apa yang 
dikerjakan pada kehidupan sehari-harinya. saya pernah menunggu orang yang 
sedang sakit keras ucapan yang keluar dari bibir adalah tahmid dan tahlil tanpa 
ada orang yang membimbingnya. Kondisi orang yang sedang sakit memasuki alam 
bawah sadarnya sehingga yang terbiasa dilakukan sehari-hari nampak pada saat 
sedang sakit. Namun juga sebaliknya pada saat orang sedang sakit keras ada yang 
terucap sumpah serapah pada orang-orang sekelilingnya.


menjelang tengah malam, saya mendengar mendengar kabar seorang teman meninggal 
dunia,  saya bergegas untuk takziyah. semua orang terkejut sebab tadi baru saja 
bersama sholat isya berjamaah dalam kondisi segar bugar. Namun beliau meninggal 
sesampai dirumah, rebahan dalam kamar. Beliau meninggal dengan memeluk alquran. 
kata keluarganya Sebelum meninggal masih terdengar sedang menghapal ayat-ayat 
suci.  "Sungguh indah ya mas, bapak meninggal sebagai seorang hafidz." tutur 
istrinya. sayapun mengiyakannya.

Saya mengenal teman ini juga sebagai sosok yang gigih menganjurkan untuk 
menghapal al-quran. Katanya, "dizaman sekarang hafidz  (penghapal) al-quran 
sudah langka. Kitalah yang harus melestarikan budaya menghapal al-quran." 
Beliau selain seorang hafidz juga gemar menyantuni anak yatim dan gemar 
bersodaqoh sehingga diakhir hidupnya meninggal dengan indahnya, tak terasa air 
mata saya menetes kegigihan beliau dalam menghapal al-quran yang akhirnya 
terlaksana juga. dan namanya harum karena kegigihannya itu.

Wassalam,
agussyafii

--
Tulisan ini dibuat dalam rangka program kegiatan "Amalia Cinta Rasul" (ACR), 
Hari Kamis, tanggal 26 Maret 2009 di Rumah Amalia, Jl. Subagyo Blok ii 1, no.23 
Komplek Peruri, RT 001 RW 09, Sud-Tim, Ciledug. TNG. silahkan kirimkan dukungan 
dan komentar anda di 087 8777 12 431 atau http://agussyafii.blogspot.com








      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke