http://www.antara.co.id/arc/2009/3/9/resesi-global-bakal-berlangsung-lama/


*Resesi Global Bakal Berlangsung Lama*


oleh Zaenal Abidin

*Jakarta* (ANTARA News) - Daftar negara yang jatuh dalam ke lembah resesi
semakin panjang membuat para pemimpin dan ekonom dunia mengkhawatirkan bakal
lebih lama upaya pemulihan ekonomi global.

Resesi yang ditandai dengan penyusutan (kontraksi) produk domestik bruto
(PDB) suatu negara dalam kurun dua kali triwulan secara berturut-turut itu
menjadi momok isyarat bahwa tingkat pengangguran bakal membengkak karena
sektor produksi barang dan jasa akan mengalami menyusut seiring penurunan
permintaan.

Korban resesi ekonomi dari negara industri yang sangat berpengaruh itu
adalah Amerika Serikat (AS). Pada Desember 2008 terkuak bahwa PDB negeri
Paman Sam itu selama triwulan ketiga 2008 tercatat menyusut 0,5 persen dan
triwulan keempatnya menyusut 0,2 persen.

Jepang, sebagai negara yang perekonomiannya terbesar kedua di dunia setelah
AS, mengikuti mitra dagang utamanya itu. Negeri matahari terbit itu memasuki
resesi setelah diketahui PDB triwulan akhir tahun 2008 dan triwulan
sebelumnya sama-sama menyusut 0,1 persen.

Di Eropa, negara-negara utamanya juga jatuh ke lembah resesi, seperti Jerman
yang perekonomiannya menyusut 0,4 dan 0,5 persen di kuartal kedua dan ketiga
2008; Inggris mengalami pertumbuhan negatif 0,6 dan 1,5 persen di kuartal
kedua dan ketiga 2008.

Negara-negara lainnya yang menambah daftar panjang korban resesi di
antaranya Kanada, Singapura, Spanyol, Italia, Prancis, Selandia Baru,
Hongkong, Swedia, Kroasia, Estonia.

Negara kecil Baltik, yakni Latvia, malahan menjadi salah satu yang mengalami
penyusutan ekonomi paling drastis. PDB negeri itu tecatat minus 10,5 persen
di triwulan keempat 2008, setelah triwulan sebelumnya 4,6 persen.

Daftar negara tersebut tampaknya belum akan berhenti, karena krisis ekonomi
global yang menjadi penyebab resesi belum teratasi. Bahkan sebagian ekonom
dan lembaga multilateral memprediksi krisis ini bisa bakal lebih lama dari
yang diperkirakan hanya satu semester saja atau paling lama satu tahun ini.

Profesor ekonomi dari Universitas New York, Nouriel Roubini memprediksi
dalam skenario terbaiknya, resesi bisa berlanjut hingga 2010 di
negara-negara maju, dan penurunan lapangan kerja akan tetap terjadi di tahun
lanjutan itu.

Roubini yang dikenal sebagai "Dr. Doom" karena telah memprediksi kondisi
saat ini dua tahun lalu, menyebutkan kesalahannya pada para pemerintah di
dunia yang tidak bisa bertindak bersama, juga arah kebijakan ekonomi yang
sudah benar ternyata masih sedikit yang diimplementasikannya dan terlambat.

"AS, Eropa dan Jepang harus bertindak bersama untuk mencegah perekonomian
dunia tenggelam lebih dalam," katanya dalam konferensi di New Delhi, India
seperti dikutip Mail Today.

Lembaga keuangan multilateral, Dana Moneter Internasional (IMF) juga
mengkhawatirkan kesuraman ekonomi dunia yang tampaknya akan berlanjut lebih
lama hingga 2010. Karena itu IMF menyerukan seluruh pemerintah di dunia
untuk melakukan kebijakan stimulus lebih lanjut dengan situmulus tambahan
yang disiapkan untuk 2010.

"Dengan kesuraman ekonomi dunia yang diperkirakan selama dua tahun,
seharusnya dipertimbangkan menyediakan stimulus anggaran yang melampaui
upaya yang sudah diumumkan," kata IMF dalam laporannya berjudul "Perihal
Stimulus Fiskal Global" yang akan dipublikasikan sebagai bagian persiapan
pertemuan puncak grup 20 negara maju dan berkembang (G-20) di London, 2
April 2009.

"Jika masih ada cukup anggaran yang bisa dilakukan tanpa membahayakan
kelangsungan utang pemerintah, harus dipertimbangkan paket stimulus fiskal
tambahan," kata IMF dalam laporannya itu.



Resesi Lama



Resesi yang semakin luas dan dalam saat ini, lembaga keuangan multilateral
Bank Dunia sudah merisaukannya karena krisis ekonomi global telah mendorong
puluhan juta orang ke dalam kemiskinan di negara-negara berkembang dan
miskin.

Riset Bank Dunia menyebutkan hingga 53 juta orang lebih telah terjerumus ke
dalam kemiskinan di tengah krisis ekonomi yang meluas saat ini dan menjadi
ancaman serius untuk mencapai target internasional yang disepakati dalam
menanggulangi kemiskinan.

"Hasil riset baru ini menyiratkan ancaman serius untuk pencapaian Tujuan
Pembangunan Millenium (MDGs) PBB, yang merancang target khusus pada 2015
dalam penanggulangan kemiskinan," kata Presiden Bank Dunia Robert Zoellick.

Tampaknya semua negara di dunia menjadi ikut terkena "getah" krisis yang
dipicu dari AS itu. Negara maju dengan masalah resesi dan pengangguran yang
membengkak, di negara miskin dan berkembang, tingkat kemiskinan bertambah.

"Seperti kata masyarakat dunia, saat AS bersin, negara lain di dunia menjadi
demam. Dalam kasus ini, AS tidak hanya bersin, namun mengalami radang
paru-paru kronis yang berat," ujar Roubini, sang profesor dari Universitas
New York.

Yang lebih mengkhawatikan lagi, lama resesi tidak bisa secepat seperti yang
diharapkan, atau krisis ini bisa berbentuk V, yang artinya berlangsungnya
penurunan ekonomi yang tajam ini langsung diikuti pemulihan tajam pula yang
setara.

"Kita ini di tengah resesi buruk bentuk U," katanya Roubini. Bentuk U,
berarti penurunan tajam akan diikuti periode lama kondisi stagnasi dan baru
bisa menguat lagi.

Yang lebih membahayakan, kalau tidak teratasi secara bersama krisis ekonomi
global berubah bentuk menjadi L. Arti simbol huruf itu setelah pnurunan
tajam, periode dasar terjadinya stagnasi dan produksi yang merosok dibarengi
harga berjatuhan karena permintaan berkurang, akan berlangsung lama tanpa
tahu kapan bangkitnya.

"Untuk keluar dari situasi ini sangat bergantung stimulus fiskal yang
terkoordinasi. Saat ini kita harus mengerti, ini krisis global, ini bukan
krisis satu negara," kata Justin Lin, kepala Ekonom Bank Dunia
memperingatkannya.

Menurut dia, pemerintah-pemerintah seharusnya menggunakan stimulus fiskal
untuk menciptakan pasar baru sejalan dengan memulihkan ekuilibrium dalam
sistem ekonomi. Dana itu bisa dialokasikan di proyek yang meningkatkan
potensi pertumbuhan ekonomi.

Lin juga menyerukan negara kaya untuk membantu negara miskin berpartisipasi
dalam koordinasi global.

Karena itu berbagai pihak hampir senada memperingatkan, agar pertemuan G-20
di London, Inggris itu -- melanjutkan pertemuan G-20 pada November tahun
2008 di Washington -- lebih menitikbertakan aksi bersama yang terkoordinasi,
sehingga tidak mengulangi kesalahan terjadinya "Depresi Besar" 1930-an.

Dalam pendapat Roubini,"Kita tenggelam bersama dan harus berenang
bersama."(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke