http://www.gatra.com/artikel.php?id=123886


Jusuf Kalla: Ini Bukan Sekadar Manuver Politik


Tak ada kata libur bagi Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Akhir pekan lalu, 
Sabtu pagi hingga tengah hari, ia menerima kerabat dekat yang menghadiri acara 
akikah cucunya di rumah dinas wakil presiden, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. 
Selanjutnya, Ketua Umum Partai Golkar itu diwawancarai Metro TV selama dua 
setengah jam.

Setelah itu, giliran Gatra mewawancarai Jusuf Kalla (JK). Selepas magrib, ia 
menghadiri resepsi perkawinan kerabat dekatnya di kawasan Jakarta Pusat. Minggu 
pagi-pagi, lelaki 67 tahun itu terbang ke Makassar untuk "menggalang" dukungan 
politik dari DPD Partai Gokar se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dalam 
rangka pencalonannya sebagai presiden.

Begitulah sekelumit kesibukan JK pada hari libur, sepekan selah ia menyatakan 
kesediaan menjadi calon presiden (capres) pada pemilu mendatang. Berikut 
petikan wawancara Heddy Lugito dan Anthony Djafar dari Gatra dengan JK:

Apa yang mendorong Anda mencalonkan sebagai presiden?
Pertama, saya yakin bahwa perolehan suara Golkar dalam pemilu mendatang akan 
meningkat. Lebih baik dari pemilu sebelumnya. Mudah-mudahan bisa mencapai 25%. 
Yang kedua, setelah rapat konsolidasi partai, sebanyak 33 DPD Golkar menemui 
saya. Mereka meminta kesediaan saya jadi capres dari Partai Golkar. Saya 
katakan, saya menerima amanah itu.

Ini bukan masalah taktik atau manuver politik, melainkan tekad dan pilihan. 
DPD-DPD Golkar yang meminta saya menjadi calon presiden. Saya menerima amanah 
itu. Tentu nantinya disahkan atau diformalkan lagi dalam Rapimnas Khusus Partai 
Golkar.

Seandainya tidak diminta oleh DPD, Anda punya keinginan mencalonkan sebagai 
presiden? 
Bukan begitu juga. Itu dua hal yang bersamaan. Kami ingin berbuat lebih baik 
bagi bangsa, dan saya menerima amanah dari partai. Sebagai orang beriman, tentu 
kita harus percaya bahwa sesuatu itu harus mendapat hidayah dan berdoa.

Sebelumnya, dalam berbagai kesempatan, Anda sering menyatakan tidak akan 
mencalokan sebagai presiden karena bukan orang Jawa. 
Ada dua hal yang sangat mengubah pikiran saya. Yang pertama, ketika saya ke 
Jawa Timur bertemu para kiai, akhir tahun lalu. Mereka bilang: "Pak Jusuf 
Kalla, penyataan bahwa harus orang Jawa yang jadi presiden itu salah. Itu sama 
dengan menanggap bahwa Jawa itu diskriminatif. Padahal, orang Jawa tidak 
demikian. Orang Jawa itu tidak diskriminatif. Kita hanya menghendaki pemimpin 
yang terbaik, yang amanah, tidak peduli berasal dari daerah mana." Hal itu 
beberapa kali disampaikan kepada saya.

Yang kedua, fenomena Presiden Obama itu menghapus image bahwa kelompok 
minoritas tidak bisa jadi presiden di Amerika.

Tapi ini Indonesia, bukan Amerika, tentu tidak bisa disamakan.... 
Justru ini Indonesia, tidak ada diskriminasi lagi sejak tahun 1928, pada saat 
Sumpah Pemuda dicetuskan. Jadi, kita harus menutup sekat-sekat dan tetap 
menonjolkan sikap kebangsaan.

Yakin bisa mengalahkan calon dari partai lain, karena persiapan Gollkar lebih 
singkat? 
Persoalan menang atau kalah tidak diukur dari persiapan apakah panjang atau 
pendek, tetapi tepat atau tidak, mampu atau tidak. Pengalaman Pemilu 2004 
menunjukkan, saya dengan Pak SBY hanya butuh waktu tiga bulan. Tidak lebih dari 
itu. Sekarang justru ini lebih panjang, masih ada waktu delapan bulan. Insya 
Allah, kami punya persiapan matang.

Jadi, peluang berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah tertutup 
sama sekali atau masih ada kemungkinan berduet lagi? 
Ini suatu proses politik yang belum final. Masih banyak kemungkinan. Dalam 
politik itu tidak ada yang tertutup sampai selesai. Saya tidak ingin 
menyebutkan yang pasti jika prosesnya belum selesai. Jadi, semua itu ada 
prosesnya, saya dan juga Golkar.

Kenapa Anda tidak diberi waktu untuk bertemu Presiden SBY sepulang dari lawatan 
ke luar negeri? 
Sebenarnya hanya masalah waktu. Seharusnya kami bertemu Senin, tapi ditunda 
karena beliau flu. Selasa Presiden SBY harus ke Jawa Timur, akhirnya kami 
ketemu juga pada hari Minggu di Cikeas.

Dalam pertemuan di Cikeas itu, sekaligus Anda berpamitan kepada Presiden SBY 
untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden mendatang? 
Bukan. Saya menyampaikan kepada beliau bagaimana proses keinginan DPD-DPD 
Golkar. Saya menyampaikan, ini merupakan proses dari bawah di Golkar.

Apa reaksi Presiden SBY?
Beliau sangat paham bahwa ini merupakan keharusan, kehendak partai. Beliau 
tidak terganggu. Sebagai sesama orang partai dan sekaligus mitra, kami bisa 
saling memahami.

Tapi tampaknya hubungan Anda dengan Presiden SBY kian renggang belakangan ini. 
Ketika berangkat ke Thailand, pekan lalu, sebagai wakil presiden, Anda tidak 
mengatarkan ke bandar udara. 
Soal itu, kita ada aturan bahwa kalau presiden ke negara Asia yang dekat, cukup 
diantar oleh Panglima TNI, pangdam, atau gubernur. Kecuali kalau presiden ke 
Eropa, wakil presiden mengantarkan beliau.

Beberapa survei menyebutkan, popularitas SBY jauh mengungguli calon lain. 
Bahkan popularitas Anda sebagai calon presiden sangat rendah. Mengapa nekat 
mencalonkan? 
Saya sering mengatakan bahwa hasil polling atau survei tentang saya memang 
begitu. Itu karena orang selalu memosisikan saya sebagai calon wakil presiden, 
tidak pernah memosisikan sebagai calon presiden. Kalau saya ditempatkan sebagai 
calon presiden, mudah-mudahan hasil surveinya berbeda. Lagi pula, survei itu 
berbeda dari pemilu. Yang paling penting, hasil akhirnya di pemilu. Kita lihat 
saja nanti.

Ada sejumlah tokoh Golkar lain, seperti Sultan Hamengku Buwono X, yang 
menghendaki dicalonkan sebagai presiden. Apakah Rapimnas Khusus Partai Golkar 
pasti mencalonkan Anda? 
Ya, secara formal memang demikian. Walaupun itu belum final, daerah sudah punya 
tekad yang sama. Ya, kita lihat di rapimnas khusus nanti.

Di Golkar, ada faksi yang menghendaki Anda berpasangan dengan SBY sebagai calon 
wapres. Ada juga faksi yang menginginkan calon lain. 
Ya, boleh-boleh saja. Katakanlah ada perbedaan pandangan seperti itu di Golkar. 
Tetapi kita harus serahkan amanah partai setelah apa yang diputuskan bersama 
dalam Rapimnas Khusus Partai Golkar.

Jika akhirnya kalah, apakah Golkar akan beroposisi atau malah merapat kepada 
presiden terpilih untuk mendapat jatuh kursi menteri? 
Golkar selalu mendukung kebijakan yang baik dan mengkritisi kebijakan-kebijakan 
yang tidak sesuai. Jadi, tergantung nantinya bagaimana aturan lebih lanjut.

Golkar tidak berani beroposisi seperti dilakukan PDI Perjuangan terhadap 
pemerintahan SBY-JK sekarang ini? 
Saya pikir, Golkar tidak jauh seperti itu. Tapi kita lihat perkembangannya 
nanti.

Perkiraan Anda, ada berapa calon dalam pemilihan presiden mendatang? 
Ya, tiga atau empat. Besar kemungkinan cukup tiga saja.

Tiga itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, dan Jusuf 
Kalla? 
Kalau melihat kondisi pada saat ini, ya, tiga itulah kira-kira.

Untuk meraih tiket pencalonan presiden, Golkar akan melakukan koalisi dengan 
partai apa?
Belum, belum kami putuskan. Nanti setelah rapimnas khusus.

Tapi, pendekatan untuk kolasi sudah dilakukan?
Ada pendekatan dengan banyak partai itu memang iya. Tapi sekarang ini masih 
sebatas konsentrasi pemilihan legislatif dulu. Tidak mungkin terjadi koalisi 
pada saat pemilihan legislatif. Kalau sekarang ini, kan setiap partai politik 
ingin memenangkan partainya dalam pemilu legislatif. Koalisi akan dijajaki 
secara intensif menjelang pemilihan presiden.

Dalam pandangan Anda, partai apa yang paling cocok berkoalisi dengan Golkar?
Golkar merupakan partai yang moderat, kebangsaan, dan nasionalis, sehingga 
lebih mudah melakukan pendekatan dengan siapa pun. Apalagi, saya punya hubungan 
pribadi baik dengan hampir semua pemimpin partai. Jadi, praktis Golkar lebih 
mudah berkoalisi dengan partai mana saja.

Untuk figur calon wakil presiden Anda, apakah masih mempertimbangkan faktor 
Jawa dan luar Jawa?
Dulu seperti itu, misalnya Soekarno-Hatta, walaupun itu tidak mutlak. Beberapa 
wakil presiden Pak Harto dari luar Jawa. Beberapa tahun ke depan berbeda lagi. 
Pasangan itu tentu saling melengkapi dan memberi nilai tambah. Nilai tambah itu 
kalau ada perbedaan latar belakang, baik kultur maupun politik, walaupun ini 
juga masih ada pertimbangan.

Jadi, dilihat lagi dari tokohnya, tidak semata-mata bergantung pada latar 
belakangnya. Artinya, Jawa atau bukan, militer atau sipil, bisa juga ada 
prinsip lain. Yang jelas, ada keseimbangan.

Kunjungan Anda ke kantor PKS, pekan lalu, bisa diartikan sebagai pendekatan?
He, he, he... saya diundang oleh PKS. Kami setiap saat dan selalu menjalin 
hubungan baik dengan siapa saja, partai apa saja.

Termasuk menjalin hubungan dengan PDI Perjuangan?
Iya, dengan siapa saja, kalau saya diundang. Saya selalu menjalin silaturahmi 
dengan partai-partai yang lain. Misalnya dengan Demokrat dan PPP. Tentu dalam 
pilpres mendatang harus ada koalisi dan karena itu harus tetap menjaga hubungan 
dengan partai-partai lain.

[Laporan Utama, Gatra Nomor 17 Beredar Kamis, 5 Maret 2009] 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke