http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=5773

2009-03-12 
Manuver Mengimbangi SBY, Jusuf Kalla Bertemu Oposisi



[JAKARTA] Manuver untuk mengimbangi kekuatan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan 
Partai Demokrat menjelang pemilu semakin dimatangkan. Salah satunya adalah 
pertemuan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla (JK), yang saat ini menjabat 
wakil presiden, dan Ketua Umum DPP PDI-P, Megawati Soekarnoputri, di Jakarta, 
Kamis (12/3) siang.

Sebagaimana dijelaskan Sekjen DPP PDI-P Pramono Anung dan Ketua DPP Partai 
Golkar Burhanuddin Napitupulu, Rabu (11/3), pertemuan itu untuk menyatukan visi 
guna menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa, seperti kemiskinan, 
pengangguran, evaluasi otonomi daerah, dan memperkuat sistem demokrasi. 

Kedua tokoh juga akan membahas masih perlukah ekonomi Indonesia berkiblat ke 
Amerika Serikat (AS). Sebab, terbukti negara itu tak mampu melindungi ekonomi 
domestiknya dari dampak krisis global yang ber- awal dari AS.

Selain itu, bagaimana kedua partai besar itu bisa bergandengan tangan memenangi 
Pemilu Legislatif sebagai modal berkoalisi dalam pemilu presiden nanti, juga 
dibahas dalam pertemuan yang berlangsung di sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol 
66, Jakarta Pusat. 

Pramono dan Burhanuddin mengakui, pertemuan tersebut adalah inisiatif bersama. 
Megawati, selain didampingi Pramono Anung, juga disertai Ketua Dewan 
Pertimbangan Pusat (Depperpu) Taufiq Kiemas, dan Ketua Badan Pengendali dan 
Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDI-P Tjahjo Kumolo. Sedangkan JK, selain 
didampingi Burhanuddin Napitupulu, juga didampingi Ketua Dewan Penasihat Partai 
Golkar Surya Paloh, Sekjen Sumarsono, dan Wakil Ketua Umum Agung Laksono.

Menurut Pramono, bila kedua partai berkoalisi, diyakini bisa memenangi 86 
persen suara di pusat, serta 76 persen di provinsi, kabupaten, dan kota. 
Prediksi itu didasarkan pada 80 persen pemilihan gubernur, bupati, dan wali 
kota dimenangi PDI-P dan Golkar.

Sementara itu, Burhanuddin menambahkan, kerja sama kedua partai akan lebih 
mudah dilakukan, karena sama-sama diobsesi oleh keinginan hadirnya pemerintahan 
yang kuat di Indonesia. 


Mematangkan Koalisi

Menyikapi pertemuan tersebut, pengamat politik Universitas Paramadina, Bima 
Arya Sugiarto menilai, pematangan koalisi kedua parpol, sangat bergantung pada 
fleksibilitas Megawati Soekarnoputri dan PDI-P. Menurutnya, koalisi ideal 
sangat ditentukan hasil pemilu legislatif.

"Sehingga bisa menentukan siapa yang menjadi RI 1 dan RI 2. Sulit membayangkan 
kalau fleksibilitas PDI-P dan Megawati tidak ada. Kalau PDI-P pasang harga mati 
(sebagai capres) akan sulit," ujarnya.



Selain itu, lanjut Bima, juga bergantung pada sejauh mana koalisi nasionalis 
ini mampu merangkul kekuatan Islam yang diwakili oleh Partai Persatuan 
Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). "Rumah nasional saja 
tidak cukup. SBY saja merangkul PPP dan PKS," ujarnya.

Senada dengan itu, pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 
Purwo Santoso memperkirakan, koalisi PDI-P dan Golkar akan menjadi blok utama 
untuk mengimbangi SBY yang kuat. "Namun, Golkar dan PDI-P harus berjuang keras 
menghadapi kekuatan SBY yang masih punya popularitas tinggi dan kebijakan 
pemerintahan yang relatif mengundang simpati publik," katanya.

Secara terpisah, pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Lingkaran Survei 
Indonesia (LSI) Denny JA memberi arti penting pada pertemuan JK dan Megawati. 
Sebab, sejak reformasi bergulir pada 1998, politik Indonesia terus-menerus 
mengalami fragmentasi. Jumlah partai semakin banyak, dan akibatnya perolehan 
suara mengecil. 

Dampaknya, sulit terbentuk pemerintahan yang kuat, dan Indonesia tergelincir 
menjadi pemerintahan demokratis yang tak efektif. "Untuk kepentingan bangsa, 
mereka berdua dapat melakukan apa yang disebut langkah kenegarawanan, 
menciptakan kerja sama partai yang lebih terlembaga, dan membentuk pemerintahan 
yang kuat," ucap Denny. [ASR/J


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke