Refleksi : Rakyat ditentramkan supaya copetnya  berjalan tentram mulus sesuai 
akal bulus.

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=72287&Itemid=44


      Rakyat" rindu Soeharto      
      Wednesday, 11 March 2009 06:25 WIB  
      Ir.  H. CHAIDIR RITONGA ,MM


      Rakyat rindu Pak Harto? Itulah respons kolega saya ketika saya ungkapkan 
beberapa pengalaman yang menarik melakukan kampanye maraton yang panjang 
menghadapi Pemilu Legislatif 2009. Apa iya? Yang lain bertanya. Seperti tidak 
yakin. Tetapi itulah faktanya. Persisnya rakyat rindu hidup tenteram, teratur, 
terarah, aman dan damai seperti yang mereka pernah rasakan pada era Pak Harto.

      Paling tidak itulah ungkapan seorang pensiunan guru yang mengisi harihari 
pensiunnya dengan berkebun. Pilihan yang membuatnya bahkan lebih sejahtera di 
usia pensiun ketimbang pada saat aktif menjadi guru, namun tidak membuatnya 
lupa kepada seorang Pak Harto yang dinilai sebagai pemimpin yang telah berbuat 
banyak kepada bangsanya daripada kesalahan manusiawi" yang dituduhkan 
kepadanya.   
       
      Argumentasi seorang pensiunan seperti itu menjadi semacam inspirasi bagi 
kita sebelum kita peroleh hasil penelitian yang akan membuktikan hipotesa 
kerinduan seorang mantan guru terhadap  Pak Harto" tadi. Kerinduan yang sahsah 
saja menyaksikan betapa rumitnya cakrawala dan atmosfer sosiopolitik nasional 
kita dewasa ini. Demokrasi kebablasan yang sempurna. 

      Di zaman Pak Harto, kata mantan sang guru, perhelatan Pemilu seperti ini 
yang digelar lima tahun sekali menjadi ajang Pesta Demokrasi" yang terkendali 
dan memberikan harapanharapan dan pencapaianpencapaian baru lima tahun 
berikutnya dalam apa yang dinamakan Rencana Pembangunan Lima Tahun" atau dari 
Repelita ke Repelita berikutnya. Sekarang ini bahkan kita tidak punya arah 
politik yang jelas. Tidak ada lagi Repelita.  Semua berjalan sepertinya tidak 
punya arah dan kendali yang jelas. 

      Ada juga kesan yang terbersit dari rakyat, paling tidak diwakili sang 
mantan guru, sepertinya mempunyai keyakinan  dan harapan bahwa pemerintahan 
SBYJK mampu mengembalikan kondisi seperti di era orde baru, sehingga seringkali 
kita temukan jawaban sebagai berikut: pada pemilu 9 April 2009, kami tetap 
setia memilih partai yang sudah lama tetapi memilih SBY sebagai Presiden dan JK 
sebagai Wakil Presiden. Persepsi itu tentu saja belum bisa dijadikan alat untuk 
menarik kesimpulan. Tetapi pernyataan itu kerap kali ditemukan di lapangan. 

      Tetapi paling tidak kerinduan kepada era Pak Harto semakin hari semakin 
kuat disuarakan. Pertanyaannya, rakyat yang manakah sang mantan guru yang rindu 
Pak Harto itu? Nampaknya ia mewakili The silent majority. Rakyat yang selama 
ini tidak terlalu perduli dengan dinamika politik. Massa mengambang yang 
biasanya tidak terlalu suka dengan perubahan. Mereka umumnya tinggal di daerah 
pedesaan yang masih secara utuh mempertahankan adat istidat serta kearifan 
lokal. Tetapi mereka relatif terdidik.

      Rakyat the silent majority" masih bertahan dengan idealisme. 
Menghindarkan diri dari pragmatisme dan godaan hedonisme yang ditawarkan oleh 
budaya demokrasi a la barat. Mereka selalu ingin mempertahankan kehidupan yang 
tertib, aman dan damai. Hidup dimaknai  secara sederhana, beramal dan 
beribadah. Dewasa ini mereka tengah menggugat kondisi sosiopolitik pasca 
reformasi. Tetapi itu tadi, gugatannya pun nyaris tidak terdengar karena 
disuarakan diamdiam. 

      Mereka menggugat praktek demokrasi yang telah terlalu jauh menabrak dan 
merusak tatanan sosiokultural. Membuat pemahaman mereka tentang praktek 
ketatanegaraan dan demokrasi menjadi jungkir balik. Mereka mengharapkan 
kelompok terpelajar bisa bagian dari solusi, tetapi ternyata menjadi bagian 
daripada masalah. Karena kaum terpelajar pun lebih banyak yang menjadi 
penganggur terbuka.

      Anarki baru
      Sistem multi partai yang dibiarkan tidak terkendali menambah runyam 
suasana. Kaum terpelajar akhirnya memanfaatkan sistem multi partai menurut 
caranya sendiri. Menjadi Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari partai apa saja 
yang membuka ruang dan kesempatan. Bukan karena ingin menjadi politisi 
melainkan daripada menganggur. Dan ternyata pilihan itu bukanlah sesuatu yang 
mudah. Menjadi Caleg karbitan" ternyata menjadi dua hal yang sulit. Maju terus 
sangatlah sulit, mundur juga tidak mudah.

      Maju menjadi Caleg ternyata dihadapkan dengan praktek politik uang yang 
ternyata telah begitu vulgar dan telanjang. Sebagian rakyat memberontak" dengan 
caranya. Mereka tidak ingin kehilangan kesempatan memeras" para caleg dengan 
tanpa ampun. Alihalih ingin menyampaikan sekedar visi dan misi politiknya, para 
Caleg justru lebih disibukkan kepada bagaimana menghadapi serangan pemerasan" 
di lapangan.

      Sebagian rakyat ternyata telah melangkah lebih jauh daripada yang 
diperkirakan. Sesuatu yang membuat sang mantan guru gelisah dan merindukan 
seorang Pak Harto. Transaksi politik terasa semakin kotor" manakala sebagian 
caleg ternyata juga memilih untuk mengikuti kehendak sebagian rakyat itu. 
Terutama Calon Anggota DPRDĂŠKabupaten atau Kota yang untuk duduk menjadi 
anggota legislatif di DPRDĂŠKabupaten/Kota cukup memperoleh 1500 atau 2000 suara 
pemilih.

      Sebagian Caleg memilih membayar Rp 100.000 per pemilih untuk sekedar 
meraih satu kursi di DPRD Kabupaten/Kota yang nilainya berkisar Rp 150 juta 
sampai dengan Rp 200 juta. Kurang lebih sama dengan biaya menjadi Pegawai 
Negeri Sipil (PNS). Itulah hitungan sederhana yang kita dapatkan di lapangan. 
Sederhana tetapi menakutkan. Karena kalau fakta itu ternyata terbukti berhasil 
mempengaruhi Pemilu 9 April 2009, benarlah kata sang mantan guru. Kita bukan 
sedang berdemokrasi melainkan melakoni anarki baru yang jauh lebih buruk 
daripada Orde Baru.
      Mengapa harus ada reformasi. Mengapa kita tidak kembali saja ke era orde 
baru? 'Saya rindu, Pak Harto', kata sang mantan guru berulangulang.

      Koalisi permanen
      Kegagalan atau membiarkan multi partai menyempurnakan demokrasi yang 
kebablasan apalagi dengan sistem suara terbanyak yang sudah sangat jelas 
berpotensi melumpuhkan Lembaga Parpol, akan makin lengkap dengan permainan 
politik uang yang kasar dan vulgar. Sempurnalah demokrasi kita yang 
diperkirakan akan melahirkan anarki baru. Bentukbentuk anarki itu sudah semakin 
terlihat kasat mata. Nyaris tidak ada lagi etika dan aturan main persaingan 
internal di dalam Parpol dan eksternal antar Parpol.

      Semuanya berasal dan berawal dari keputusan politik yang tidak terkendali 
di Senayan, yang tentu saja merupakan hasil kerja para politisi yang ada juga, 
baik dari Parpol lama maupun baru yang secara tidak sadar dikendalikan" oleh 
tangantangan yang menguasai DPR. Siapakah penguasa DPR itu dan untuk apa semua 
itu. Tentu waktu jua yang akan mengungkapkan semua itu. Tetapi paling tidak ada 
satu faktor yang tidak kita miliki pada pemerintahan SBYJK sehingga semuanya 
seolaholah menjadi tidak terkendali, yaitu tidak ada koalisi yang utuh dan kuat 
terbangun di Senayan yang membuat arah dan kebijakan politik nasional menjadi 
lebih terarah.

      Koalisi yang utuh dan kuat menjadi kata kunci mengapa semuanya nampak 
seperti tidak terarah dan tidak terkendali. Dan oleh karenanya alangkah akan 
lebih baik menggagas, merumuskan dan memutuskan bangun koalisi yang permanen 
sebelum Pemilu Legislatif 9 April 2009 berlangsung. Koalisi Permanen Parpol 
yang segera diwujudkan dalam beberapa hari ke depan ini akan memberikan 
kepastian politik yang lebih baik kepada rakyat yang akan memilih Parpol dan 
para politisi yang  diharapkan akan mampu mengendalikan arah dan perjalanan 
politik bangsa lima tahun ke depan.

      Agar kerinduan sang mantan guru terobati, menurut saya, langkah yang 
telah mulai ditempuh Pak JK bersama beberapa Parpol menjajaki koalisi beberapa 
Parpol perlu diteruskan, dipertajam dan dikonkritkan secepatnya. Rekomendasi 
tentang bangun koalisi harus dilakukan pasca pemilu, sebagaimana selama ini 
direncanakan beberapa Parpol, bukanlah harga mati yang statis.

      Dinamika politik yang berkembang amat cepat membuat kita harus segera 
membuat penyikapan baru. Bangun koalisi yang kuat, utuh dan permanen akan lebih 
baik dilakukan sebelum Pemilu sehingga rakyat, termasuk sang mantan guru, 
berbondongbondong datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan harapan yang 
jelas lima tahun ke depan, iklim dan cakrawala politik yang lebih baik. Koalisi 
GolkarPKSPANPPP ditambah satu dua Parpol lainnya, menurut saya akan menjadi 
bangun koalisi yang ideal dikonkritkan sebelum Pemilu 9 April 2009.

      Penulis adalah Wakil Ketua Partai Golkar Sumut
      Email: [email protected] Alamat e-mail ini dilindungi dari 
spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya 
      SMS: 081962 01 23
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke