http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/14/headline/krn.20090314.159571.id.html

TNI Hindari Polemik Buku Sintong

Gerindra menuding ada kampanye negatif.
JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia menghindar dari arus polemik di antara dua 
pensiunan jenderal: Sintong Panjaitan dan Prabowo Subianto. 

Kontroversi merebak setelah mantan Komandan Komando Pasukan Sandi Yudha ini 
meluncurkan buku biografinya pada Rabu lalu, yang berisi sejumlah tudingan 
miring kepada Prabowo. 

Dalam buku berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando itu, antara lain 
disebutkan bahwa Prabowo berencana menculik sejumlah jenderal sebagai 
counter-coup atas rencana kudeta Panglima ABRI L.B. Moerdani. 

"Tentara tak ingin ikut arus," ujar Kepala Pusat Penerangan TNI Marsekal Muda 
Sagoem Tambun ketika dihubungi kemarin. Ia menambahkan, TNI tidak akan 
mengklarifikasi isi buku Sintong, yang menyebut-nyebut ada perwira TNI yang 
akan mengkudeta Presiden Soeharto pada 1983. 

Diakuinya, buku itu bercerita banyak tentang beberapa anggota korpsnya. Namun, 
sepanjang tidak menyangkut sejarah TNI, pihaknya tak akan ikut campur. 
"Kebenaran sejarah adalah yang dikeluarkan oleh institusi TNI," kata Sagoem. 

Dalam bukunya, Letnan Jenderal (Purnawirawan) Sintong Panjaitan menyebutkan 
Prabowo, yang kala itu berpangkat kapten dan menjabat Wakil Komandan Detasemen 
Khusus 81/Antiteror Kopassus, telah menyiapkan pasukan untuk menculik Jenderal 
Benny Moerdani, Letjen Soedharmono, Marsekal Madya Ginandjar Kartasasmita, dan 
Letjen Moerdiono. 

Menurut Sagoem, setiap orang berhak menuliskan biografi dan pengalamannya. "Itu 
tulisan yang dikerjakan oleh satu orang dan bersifat subyektif," katanya. Ia 
juga menegaskan, jika yang dipaparkan merupakan bagian personal individu yang 
terlibat, bukan berarti institusi yang harus meluruskan. 

Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Fadli Zon menuding 
peluncuran buku itu sebagai upaya mendiskreditkan Prabowo. "Saya kira tujuannya 
untuk negative campaign," katanya. 

Buku itu juga dinilai sebagai strategi merusak citra partainya karena dirilis 
menjelang pemilihan umum. "Saya sudah tahu buku itu (akan dirilis) sebulan 
lalu," ujarnya. "Saya tahu siapa di belakangnya." 

Ahmad Muzani, Sekretaris Jenderal Gerindra, ragu terhadap kebenaran isi buku 
tersebut. "Saya yakin ada motif politik untuk mengganjal Prabowo," katanya. 
Buku itu tidak akan terbit jika Prabowo tak maju sebagai calon presiden. 
"Kenapa terbit sebulan menjelang pemilu?" 

Sintong telah menegaskan, peluncuran bukunya bukan untuk mencari kesalahan dan 
menghakimi orang lain. "Ini murni sebagai pelajaran, supaya kesalahan masa lalu 
tidak diulangi," katanya dalam acara peluncuran buku. YUDONO YANUAR | DIANING 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke