http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=5868
2009-03-14 Golput? Timur Citra Sari Ironis, memang, ketika sejumlah bagian bangsa ini begitu sibuk mempersiapkan pemilu yang semakin menjelang, sekian jumlah lainnya justru bersikap tidak peduli dalam merespons pemilu. Mereka-yang kemungkinan tidak sedikit jumlahnya-enggan dipusingkan oleh urusan siapa yang hendak mereka contreng kelak dan siapa yang mereka inginkan menjadi pemenang pemilu nanti. Bahkan, hari "H" pemilu mereka jadikan sebagai hari libur ekstra untuk sekadar tidur lebih lama, atau untuk menyelesaikan tugas-tugas yang selama ini belum sempat tersentuh. Tentu saja mereka yang tidak tertarik untuk terlibat dalam pemilu-populer dengan nama golput-punya sekian banyak alasan untuk membenarkan sikap mereka. Mulai dari "Pemilu yang dulu saja, saya sudah bingung harus memilih siapa, apalagi pemilu sekarang, jumlah parpolnya semakin banyak!". Atau, "percuma saja ikut memilih, saya tidak kenal satu orang pun yang jadi caleg!". Atau lagi, "Ah, siapa pun yang menang, negeri ini tetap saja jalan di tempat, bahkan semakin mundur!". Memang, urusan memilih dan tidak memilih tidak bisa dipaksakan. Kalau pilihan kita adalah tidur sepanjang hari pada 9 April mendatang, anggota KPU tidak berhak mendatangi rumah kita dan menggedor-gedor pintu dalam rangka memaksa memilih salah seorang caleg atau salah satu parpol. Atau, kalau pilihan kita adalah mengecat ulang pagar depan rumah, karena sudah sekian lama terbengkalai, maka tidak seorang pun polisi yang bisa menahan kita di penjara, karena pilihan sikap yang kita ambil tersebut. Alhasil, baik karena kecewa terhadap caleg dan parpol maupun karena kita menganggap bahwa ada tugas lain yang lebih perlu kita tunaikan, jika karena kedua pertimbangan ini (tentu saja masih banyak pertimbangan lain!), kemudian kita memilih untuk menyandang status golput, tidak ada pihak mana pun yang bisa melarang kita bersikap demikian. * Namun, tentu saja, pertanyaan yang perlu kita jawab adalah apakah sikap kita terhadap pemilu sepenuhnya kita sandarkan pada rasa kecewa yang kita alami akibat kekurangan dan kelemahan yang kita temukan berlimpah di negeri ini? Juga, apakah sikap kita terhadap pemilu seutuhnya kita pasrahkan pada rasa pesimistis yang kita hayati sepenuh hati, karena sederet kecurangan dan ketidakbenaran yang dilakukan tanpa segan, apalagi sungkan, oleh para petinggi negeri? Jika cara pandang dan sikap yang kita ambil terhadap pemilu semata ditentukan oleh kekecewaan dan pesimisme, maka sesungguhnya kita menempatkan dan menjadikan diri kita sekadar objek alias korban. Dengan menempatkan serta pula menjadikan diri kita sebagai objek, sama sekali tidak mengherankan jika kemudian kita merasa tidak berdaya terhadap situasi, lalu memilih untuk tidak terlibat dan berpartisipasi dalam apa pun yang terjadi. Tentu saja, dengan bersikap seperti di atas, apa pun dan bagaimana pun yang terjadi di negeri ini akan selalu kita lihat buruk dan negatif. Lha wong, memang cara pandang seperti inilah yang kita pilih untuk kita hidupi! * Hadir dan hidup dalam negeri yang akrab dengan ketidakbenaran bukan hanya pengalaman kita. Bahkan, Tuhan Yesus pun hadir di tengah bangsa yang sejak dulu kerap membuat kesal dan jengkel Allah. Misalnya saja untuk urusan bersedekah, yang tidak dilakukan demi orang yang disedekahi tersebut, melainkan agar si pelaku sedekah mendapat nama baik. Sikap pamer kemurah- hatian seperti ini segera mendapat kecaman dari Tuhan Yesus. Kata-Nya, Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu." (Matius 6:2-3) Menelusuri ayat-ayat dalam Kitab-kitab Injil, kita akan dipertemukan dengan kasus-kasus dan kisah-kisah tentang Tuhan Yesus yang berhadapan dengan situasi dan kondisi bangsa-Nya yang melakukan bermacam-macam ketidakbenaran, baik dalam hal keagamaan maupun urusan kenegaraan. Namun, satu hal yang sangat nyata, tidak dalam satu kasus pun Tuhan Yesus menunjukkan ketidakpedulian atau sikap masa bodoh terhadap situasi. Sebaliknya, dalam setiap dan seluruh situasi dan kondisi yang dihadapi, Yesus menunjukkan kepedulian besar dan Ia pun menyatakan sikap-Nya yang menolak ketidakbenaran serta mendukung kebenaran tanpa ragu-ragu. Belajar dari pengalaman dan sikap Tuhan Yesus, kita disadarkan, betapa sekalipun kita pernah dikecewakan oleh pemilu, atau sekalipun kita saat ini merasa tidak berharap banyak dari kondisi, bersikap tidak peduli dan masa bodoh mestinya tidak menjadi sikap kita. Demikian pula merasa putus asa atau "kapok" mestinya bukan menjadi pilihan kita. Sebaliknya, meneladani Tuhan, berpartisipasi dan mengambil bagian dalam perjalanan hidup berbangsa dan bernegara adalah sikap yang sepatutnya kita ambil. Dan, dalam konteks pemilu, turut memilih salah satu bentuknya. Kata Tuhan mengingatkan, Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. (Yohanes 9:4) Soli Deo Gloria! [Non-text portions of this message have been removed]

