http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9070:modal-sosial-budaya-jawa&catid=127:artikel&Itemid=150
Modal Sosial Budaya Jawa
Oleh : Subanindyo Hadiluwih, SH
Lagu 'Lenggang Kangkung', 'Tudung Periuk', kemudian diikuti 'Lancaran
Kebogiro' dengan instrumen gamelan Jawa, 'ngungkung' di Dewan Cancelori (Biro
Rektor) Universiti Malaya (UM) Kuala Lumpur, Malaysia, mengiringi prosesi Senat
Guru Besar Universitas tersebut dalam acara tunggal 'Convokesyen' (wisuda) para
sarjana baru graduan (lulusan) tahun berkenaan. Terus terang, saya sempat
tertegun mendengarnya.
Sebab, di Indonesia sendiri, termasuk seluruh universitas dan perguruan
tinggi di Medan, negara pemilik gamelan dan aneka musik tradisi lainnya, masih
menggunakan lagu Gudeamus Igitur dari Jerman, dengan menggunakan kaset, bukan
lifemusic.
Teringat kembali betapa komponis besar penerima anugerah Bintang
Mahaputra Sri Nararya, Ki Nartosabdho. Dia pernah membangun gendhing Ketawang
Subakastawa Laras Slendro Patet Sanga, menjadi gendhing Ketawang Subakastawa
Winangun dengan accord tri swara, merupakan konsep paduan suara (gerong) musik
Barat.
Begitu pula dengan KRT Wasitodiningrat (Tjokrowasito) yang menggunakan
konsep paduan suara, dengan sistem kejar mengejar bak liuk api yang berkobar,
pada gendhing Pawaka, untuk mengiringi 'Tari Api' berujud Pancaka (api unggun)
pada Sendratari Ramayana yang tampil di bulan purnama (Wulan nDadari-Wulandari)
di panggung terbuka candi Roro Jonggrang Prambanan.
Kolaborasi ternyata bukan hanya dalam musik, bahkan yang berdasar
diatonik dan pentatonik, akan tetapi juga dilakukan antar etnik. Catatan Juwono
Sudarsono tentang Ben Anderson yang dikenal sebagai Indonesianis misalnya,
menuliskan; 'bagi saya, wawasan interdisipliner inilah yang merupakan jasa
terbesar dari pada apa yang dilakukannya untuk memajukan kajian Indonesia
modern.
Dari berbagai tulisannya yang dikemukakan dalam aneka ragam majalah, buku
dan jurnal professional, kita dengan cepat memahami, betapa luas wawasannya
dalam banyak hal: kebudayaan dengan sendirinya, tetapi juga politik, hak-hak
asasi, pergeseran kaidah-kaidah sosial, kehidupan orang-orang kecil maupun
orang-orang besar, kemahasiswaan di ibu kota Jakarta, Bandung dan pusat-pusat
perkotaan lain, juga sampai ke masalah-masalah seperti dampak dan pengaruh
pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat terhadap APBN...' (Juwono Sudarsono,
1994).
Harry Benda pada suatu kesempatan bertanya, mengapa Anderson menyebut
dirinya seorang ilmuwan politik, padahal, menurut Harry Benda sendiri, Anderson
lebih tepat dikatakan sebagai seorang sejarahwan budaya. Menanggapi hal ini,
dengan setengah berseloroh, Anderson menjelaskan, dia telah berkecimpung
sedikit dalam politik, sedikit dalam sejarah dan sedikit dalam budaya, sehingga
hasilnya menjadi campur aduk (Anderson, 1970).
Berkecimpung kok sedikit-sedikit? Saya sendiri yang kebetulan suka
menulis artikel dan kolom, bahkan dibukukan oleh LBH dengan tajuk 'Pisau
Analisis Seorang Kolumnis' (1993), sempat mendapat predikat 'penulis kedai
sampah', justru oleh sikapnya yang dianggap 'generalis', karena menggunakan
pendekatan interdisipliner.
Terhadap sorotan seperti itu, sesungguhnya bisa diajukan beberapa
pertanyaan pokok seperti: rikuhkah kita diamati, dikaji dan dipahami oleh orang
asing ? Orang Indonesia, seperti juga orang India atau orang Jepang (sebenarnya
mungkin masih banyak juga bangsa-bangsa lain) tak pernah merasa tenang dan
senang ditelaah, diteliti, diteropong dan diperiksa sukma dan jiwanya oleh
orang-orang asing?
Reaksi pertama dari sekalian budaya serta peradaban lama, lazimnya untuk
menegaskan bahwa 'hanya orang kita yang bisa memahami budaya dari bangsa kita
sendiri'. Adakah di balik pertanyaan seperti itu terkandung mekanisme
'defensif' terhadap orang luar yang bisa memahami perilaku budaya kita? Kalau
Dia merupakan dampak negatif, mengapa kita tidak memilih dampak positif, yaitu
menjadikan kita bangkit untuk memelihara, mengembangkan, melestarikan atau
merevitalisasi budaya kita sendiri?
Saat ini, banyak orang Batak yang merasa perlu menampilkan kebatakannya,
justru karena generasi mudanya sudah tak paham tentang 'dalihan na tolu';
hagabeon, hamoraon dan hasangapon. Hapalannya hanya maranak sapuluh pitu,
marboru sapuluh onom'. Itupun untuk melawan program KB tempo hari. Atau orang
Minang yang juga merasa harus menampilkan keminangannya, meski generasi mudanya
tak paham lagi hakekat tigo tungku sa jarangan'; tali tigo sapilin atau adat
basandi syarak, syarak basandi adat, kemudian baru kitabullah.
Orang Jawa juga suka menampilkan kejawaannya, antara lain melalui
Pujakesuma, Pendawa, PAS, Arema, Joglo (Jogya-Solo) dan lain-lain meski
generasi mereka tak paham lagi filsafat perang, nglurug tanpo bolo, menang
tanpo ngasorake; mikul duwur mendhem jero; sadhumuk bathuk sanyari bumi, ditohi
pati, ciri wanci lelahi ginawa mati; apalagi konsep kepemimpinan Hasta Brata.
Banyak orang Tionghoa yang mengketarakan Ketionghoaannya, meski tak paham
konsep ying-yang, apalagi konsep strategi perang yang merupakan konsep strategi
dagang di masa damai, sebagaimana pernah dikemukakan oleh Jenderal Sun Tzu,
lebih 2500 tahun lalu. Padahal, ilmu strategi perang dari Sun Tzu ini telah
dipelajari oleh hampir semua taruna Akademi Militer di dunia.
Hendaknya reaksi pertama atas hal sedemikian bukanlah bersikap marah,
curiga dan merasa dimusuhi. Hendaknya dapat mawas diri dan berusaha untuk
mengurangi kelemahan dan kelengahan yang kerap melekat dalam tubuh dan sistem
sosial masyarakat kita (Vedi R. Hadiz, 1994).
Seorang Jepang, Hiromi Kano, dan orang Amerika, Elizabeth, ternyata mampu
menjadi pesinden (solis dalam gamelan orchestra) hanya dalam waktu relatif
singkat, delapan tahun. Ketika saya sebagai anggota dewan juri sebuah lomba
tari, secara obyektif harus memenangkan penari yang kebetulan keturunan China,
dalam Serampang XII, pernah disambut dengan lirikan mata tidak suka.
Tentu sulit saya menyembunyikan keterkejutan saya, ketika tahu bahwa di
Amerika ternyata terdapat 250 unit gamelan. Beberapa nama dosennya antara lain,
selain Prof. Mantle Hood, ethnomusicoloog, juga terdapat Ki Wasitodipuro, kini
sudah almarhum, Prof Sumarsam, Urip Sri Maeny dan lain-lain.
Di Monash University Australia, pengajarnya adalah Pudjiyono dan
isterinya yang orang Bali. Bahkan di Jepang Selatan, konon ada 'Gamelan
Society' yang secara rutin berlatih, dengan anggota dan pelatihnya orang Jepang
asli.
[Non-text portions of this message have been removed]