http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/03/13/10272179/ancaman.krisis.finansial.asia

*Ancaman Krisis Finansial Asia*


Siapa sangka emerging economies Asia yang sebelumnya diyakini relatif akan
mampu bertahan dari dampak krisis keuangan dan ekonomi Amerika Serikat
ternyata kini berpotensi menjadi pesakitan baru dengan kejatuhan ekonomi
yang jauh lebih dalam dari yang dialami AS sebagai episenter dari krisis
keuangan dan krisis ekonomi global.

Beberapa bulan lalu, orang masih bicara probabilitas resesi di negara-negara
maju dan meyakini ekonomi global akan mulai pulih tahun 2010, diawali dengan
pemulihan ekonomi Asia pada triwulan IV-2009. Kini seluruh negara maju sudah
resesi dengan pertumbuhan triwulan IV-2008 untuk AS minus 0,8 persen,
Inggris minus 1,2 persen, Uni Eropa minus 1,8 persen, dan Kanada minus 7
persen.

Orang baru melihat decoupling perekonomian emerging economies Asia hanya
mitos setelah pertumbuhan ekonomi China melambat secara mengejutkan pada
triwulan IV menjadi hanya 6,8 persen, dari sebelumnya 8 persen. Pada saat
bersamaan, seluruh perekonomian negara industri baru yang disebut Macan Asia
juga mengalami kontraksi ekonomi. Singapura, Korea Selatan, Hongkong, dan
Taiwan mencatat pertumbuhan negatif, masing-masing minus 4,2 persen, minus
3,4 persen, minus 2,5 persen, dan minus 8,4 persen.

Berbagai lembaga dan pemerintah pun beramai-ramai merevisi ke bawah prediksi
pertumbuhan ekonomi, dengan perkiraan terakhir ekonomi global 2009 menurut
IMF hanya akan tumbuh 0,5 persen. ASEAN juga mengalami perlambatan ekonomi
yang serius. Malaysia hanya tumbuh 0,2 persen (dibandingkan tahun
sebelumnya/yoy) dan Thailand tumbuh negatif 4,3 persen.

Ketergantungan yang sangat tinggi (rata-rata 37 persen untuk seluruh negara
berkembang Asia) pada ekspor dituding berada di balik keterpurukan Asia ini.
China yang ekspornya menyumbang 40 persen dari PDB dan tahun lalu menggusur
AS sebagai eksportir terbesar dunia mengalami pertumbuhan ekspor negatif
selama tiga bulan berturut-turut (November-Januari), dengan ekspor Januari
turun 17,5 persen dari setahun sebelumnya.

Akibatnya, lebih dari 20 juta pekerja migran kehilangan pekerjaan, yang
angkanya bisa membengkak lagi menjadi 50 juta jika ekonomi terus memburuk.
Impor bahkan anjlok 43,1 persen (yoy), menyusul penurunan Desember sebesar
21,3 persen (yoy).

Ekspor Korsel—perekonomian keempat terbesar Asia— anjlok 32,8 persen Januari
2009 (yoy). Ekspor India juga turun 24 persen, mengakibatkan lebih dari 1
juta pekerja kehilangan pekerjaan. Taiwan yang merupakan perekonomian keenam
terbesar Asia mencatat kejatuhan ekspor hingga 44,1 persen pada Januari 2009
(yoy), dengan impor juga turun 56,5 persen. Kondisi ini sangat memukul
Taiwan yang 70 persen PDB-nya disumbangkan oleh ekspor.

Penurunan produksi industri Taiwan sebesar 32 persen sekarang ini jauh lebih
besar daripada yang dialami AS pada era Depresi Besar 1930-an. Hal serupa
dialami Hongkong yang ekspornya menyumbang 166 persen PDB.

Asia Tenggara sama saja. IMF memprediksikan Filipina hanya tumbuh 2,25
persen tahun ini, turun dari 4,6 persen 2008 dan 7,1 persen 2007, akibat
anjloknya ekspor. Malaysia juga mencatat penurunan ekspor 14,9 persen,
dengan ekspor ke AS turun 30 persen, ini mengakibatkan perekonomian negara
itu diperkirakan hanya akan tumbuh 1-1,5 persen tahun ini, jauh di bawah
target pemerintah yang 3,5 persen. Singapura sebagai trade hub dan financial
hub Asia, yang ekspornya menyumbang sampai 186 persen PDB, juga mengalami
penurunan ekspor hingga 20 persen, terburuk sejak negara itu berdiri.

Ekspor Indonesia sendiri diperkirakan akan mengalami penurunan hingga 20
persen tahun ini, memicu prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di bawah 4
persen.

Permintaan kawasan

Terpuruknya ekonomi Asia ini membuat sebagian kalangan mulai mempertanyakan
ketangguhan strategi pertumbuhan yang didorong ekspor (export-led) yang
selama beberapa dekade terakhir menjadi faktor penting penopang pertumbuhan
ekonomi tinggi Asia yang mencapai rata-rata di atas 7 persen per tahun.

Beberapa kalangan, seperti diangkat dalam laporan The Economist, mulai
melemparkan pandangan mengenai perlunya Asia menggerakkan mesin pertumbuhan
baru di luar ekspor, dengan lebih mengandalkan pada permintaan domestik,
khususnya konsumsi.

Pandangan ini terutama dilatari kenyataan keterpurukan begitu dalam ekonomi
Asia, bukan semata diakibatkan oleh menurunnya impor dari negara maju,
seperti AS, Uni Eropa, atau Jepang, tetapi juga diperparah oleh lumpuhnya
permintaan di kawasan Asia sendiri.

Semula diyakini, ekonomi Asia akan terselamatkan dari dampak krisis karena
keterpurukan permintaan dari negara maju diperkirakan akan bisa dikompensasi
oleh perdagangan intrakawasan yang beberapa tahun terakhir semakin berperan
penting dalam sumbangan terhadap total ekspor Asia.

Namun, hal itu tak terjadi. Yang terjadi, permintaan dari kawasan anjlok
lebih dalam daripada permintaan dari negara maju. Impor China dari Asia,
misalnya, anjlok hingga 30 persen. Ekspor Korea ke China turun sampai 46,4
persen pada Januari 2009, menyusul penurunan 33 persen pada Desember 2008.
Menurut Jong Wha-Lee dari Bank Pembangunan Asia (ADB), selama ini orang tak
melihat bahwa 60 persen permintaan akhir produk ekspor Asia masih datang
dari negara maju Amerika Utara, Eropa, dan Jepang.

Krisis finansial

Sebelumnya, banyak kalangan, termasuk mantan pimpinan Bank Sentral AS
(Federal Reserve) Alan Greenspan dan Direktur Pelaksana IMF Rodrigo Rato
yakin krisis seperti krisis finansial 1997/1998 tak akan terjadi di Asia,
terutama dengan kuatnya cadangan devisa, solidnya sektor keuangan dan
perbankan, serta fundamental makroekonomi Asia.

Namun, dengan memburuknya resesi ekonomi global, fundamental makroekonomi,
keuangan dan sektor riil juga mulai terongrong. Sejumlah kalangan, termasuk
ekonom Bank Dunia Andrew Burns, bahkan mengingatkan, kemungkinan
negara-negara Asia dihadapkan pada kondisi seperti krisis finansial 1997/
1998 dengan berkepanjangannya resesi di negara-negara maju.

Salah satu yang sedang ditunggu-tunggu sekarang ini adalah laporan kinerja
sektor korporasi terbaru, yang antara lain akan tecermin pada laporan
keuangan untuk perusahaan publik. Di Indonesia, laporan teraudit 2008 akan
keluar Maret ini. Namun, dari laporan tiga bulanan terakhir (September 2008)
yang keluar November lalu, sedikit banyak sudah ada gambaran mengenai
kondisi sektor korporasi hingga pertengahan tahun 2008.

Ada kekhawatiran, memburuknya kinerja sektor korporasi ini bisa merembet ke
sektor perbankan, seperti pada kasus krisis finansial 1997/1998, mengingat
karena pembiayaan usaha masih didominasi perbankan. Meski masih dalam batas
wajar, gejala peningkatan kredit bermasalah perbankan (NPL) sudah terjadi,
dengan NPL Januari 2009 meningkat menjadi 4,24 persen, dari bulan sebelumnya
4 persen.

Kesulitan perbankan mulai terlihat di sejumlah negara Asia Timur. Di China,
Fitch melaporkan, melonjaknya kerugian operasional perbankan dengan kerugian
akibat kredit bermasalah meningkat di atas 6 persen akhir tahun ini.

Di Indonesia, dampak krisis juga mulai menampakkan wajahnya pada memburuknya
kinerja operasional bank, tecermin dari kerugian operasional perbankan yang
mencapai Rp 301 miliar pada Januari 2009. Kerugian operasional ini, menurut
Bank Indonesia, antara lain dipicu seretnya penyaluran kredit, meningkatnya
pencadangan kredit bermasalah, dan tergerusnya margin bunga bersih (Kompas,
12/3).

Yang juga harus diwaspadai adalah Korsel yang perbankan dan stabilitas
moneternya juga terancam oleh tingginya utang jangka pendek yang jatuh tempo
dalam waktu dekat. Sekitar 194 miliar dollar AS utang luar negeri Korsel
akan jatuh tempo tahun ini. Dalam artikel berjudul ”Domino Theory” 26
Februari lalu, harian Financial Times mengingatkan kemungkinan Korsel gagal
bayar dan kesulitan me-roll over utang tersebut kendati hal ini dibantah
Kementerian Strategi dan Keuangan Korsel.

Kekhawatiran mengenai utang Korsel ini, ditambah lagi memburuknya
makroekonomi dan keuangan di sebagian besar negara Asia, bisa menempatkan
Korsel dan negara-negara Asia lain sebagai target empuk sentimen negatif dan
spekulasi yang dipicu oleh hilangnya kepercayaan pasar seperti sebelum
krisis 1997/1998. Kalau sampai terjadi, dampak penularan (contagious)-nya
akan sangat sulit dibendung, se- perti pada krisis finansial 1997/1998.

”Ada beberapa alasan untuk khawatir bahwa negara-negara di kawasan (Asia),
terlepas dari kondisi mereka yang jauh lebih kuat (dibandingkan krisis
1997/1998), kemungkinan akan mengalami kesulitan. Sekarang ini kita belum
melihat itu terjadi. Tetapi, akhirnya yang menentukan adalah bagaimana
respons perdagangan dalam beberapa bulan ke depan. Kalau itu terus mengalami
kontraksi seperti sekarang, situasinya akan sangat sulit buat Asia, terutama
negara-negara yang industrialisasinya sudah lebih maju,” ujar Burns.

TAT
Sumber : Kompas Cetak


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke