http://www.antara.co.id/arc/2009/3/14/rhenald-kasali-banyak-pelaku-bisnis-salah-strategi-hadapi-krisis/

*Rhenald Kasali: Banyak Pelaku Bisnis Salah Strategi Hadapi Krisis*


*Jakarta* (ANTARA News) - *Pakar bisnis Rhenald Kasali* mengatakan, pejabat
dan pelaku bisnis Indonesia melakukan strategi yang salah dalam menghadapi
krisis global karena terlalu percaya pada data dan mengorbankan keyakinan,
sehingga takut untuk melakukan perubahan.

"Krisis terjadi karena manusia resistance to change, tidak mau melakukan
perubahan," kata Rhenald dalam peluncuran bukunya berjudul "Marketing In
Crisis" di Jakarta, Sabtu.

Menurut Rhenald, pelaku bisnis di Indonesia cenderung panik dan reaktif
terhadap data-data yang menunjukkan bahwa krisis sedang terjadi. Hal itu
dapat dilihat dari beberapa pengusaha yang menghentikan investasi dan
mengurangi pengeluaran.

"Hal itu membuat situasi menjadi `mandeg`, tidak ada perubahan," kata
Rhenald.

Padahal, data krisis yang menjadi konsumsi publik tidak selamanya selaras
dengan kenyataan. Dia mencontohkan, banyak pihak meramalkan Bali akan
ditinggalkan oleh wisatawan pada akhir 2008. "Namun setelah saya kontak
pelaku bisnis di sana, justru pendapatan mereka meningkat," kata Rhenald
menambahkan.

Untuk itu, pria yang kerap mendapat julukan "master of change" itu
mengusulkan agar pelaku bisnis di Indonesia menggabungkan data krisis dengan
pengetahuan serta pengalaman di lapangan.

Pengetahuan dan pengalaman di lapangan akan melatih intuisi dan keyakinan
pengusaha. Pengalaman dan intuisi sangat penting bagi pengusaha sebagai
pembanding data formal yang sering dipaparkan oleh media massa dan para
pengamat.

Menurut Rhenald, bekal intuisi yang digabungkan dengan pengalaman dan
pertimbangan logis data formal akan membuat pelaku bisnis berani mengambil
risiko dan melakukan perubahan ditengah kepanikan.

Lebih lanjut Rhenald mengatakan Indonesia sedang mengalami "Quasy Crisis"
atau krisis semu. Indonesia hanya seakan-akan mengalami krisis akibat
kepanikan masyarakat dan pelaku usaha setelah menyimak berbagai ulasan
tentang krisis global yang berawal dari Amerika Serikat.

Seharusnya pelaku bisnis Indonesia melakukan berbagai inovasi di tengah
krisis global yang bisa jadi tidak "menyerang" Indonesia itu. Rhenald
menyayangkan para pelaku bisnis yang panik dan lebih menggunakan asumsi.

"Asumsi adalah ibu dari segala kekacauan," katanya menegaskan.

Dalam buku "Marketing In Crisis", Rhenald menjelaskan bahwa krisis pasti
menyisakan peluang. Dia mengajak pengusaha untuk jeli mencari dan
memanfaatkan peluang-peluang tersebut.

Buku setebal 206 halaman tersebut juga disertai dengan kuisioner pemantau
keyakinan seseorang terhadap suatu hal. Rhenald berpendapat, semakin yakin
dan semakin positif pikiran seseorang, maka semakin berani orang tersebut
melakukan perubahan dalam situasi krisis.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke