Dear saudara/i yang baik, Saya mohon maaf jika e-mail ini tidak berkenan, saya mencoba membagi informasi, mudah-mudahan dapat berguna untuk disikapi bersama.
Berikut di dalam attachment saya lampirkan kronik kasus perburuhan yang saya dapatkan dari e-mail saudara-saudara yang aktif di Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. Bentuk penderitaan kaum pekerja pabrikan seperti ini (kriminalisasi aktivis serikat pekerja) sudah banyak terjadi dan nampaknya akan semakin banyak terjadi lagi. Kasus serupa ini juga terjadi pada kalangan pekerja kantoran, seperti yang terjadi pada karyawan bank. Terlepas dari apa gugatan hukum yang menjerat mereka, saya melihat latar belakang dan atau imbas dari kasus-kasus hubungan industrial adalah adanya usaha untuk memperlemah dan kemudian dapat menghancurkan serikat-serikat pekerja. Krisis ekonomi yang diseabkan oleh sistem ekonomi kapitalistik yang riba itu semakin memperparah kesusahan hidup orang kecil, bukan hanya di Indonesia. Harga Living cost melambung terus menerus sedangkan standar upah/gaji ditekan. Biaya pendidikan semakin mahal sedangkan permintaan kualitas tenaga kerja semakin tinggi/multitasking skill. Banyaknya angkatan kerja yang mengannggur semakin memperlemah posisi tawar pekerja/buruh. Keputusan lembaga-lembaga perdagangan dan keuangan glogal telah memaksa negara-negara agar semakin mengurangi peran tanggungjawabnya untuk melindungi hak-hak warga negaranya. Tren global pada sistem pasar tenaga kerja fleksibel ( misalanya: model perekrutan tenaga kerja dengan cara kontrak ataupun outsourcing ), yang mungkin aman diberlakukan di negara-negara industri maju telah di-adopsi untuk dipaksakan berlaku di negara-negara berkembang. Secara ekonomis, penerapan sistem pasar tenaga kerja yang fleksibel memang menguntungkan bagi pengusaha, biaya produksi untuk pengeluaran pesangon dan hak normatif pekerja dapat ditekan sekecil mungkin sampai nol. Tetapi sebaliknya, akibat dari penerapan sistem pasar tenaga kerja yang fleksibel yang mengaburkan hubungan hukum antara pengusaha dengan pekerja berdampak pada ketakutan para pekerja untuk menjadi anggota serikat pekerja. Dengan semakin kecilnya jumlah anggota serikat maka semakin kecil pula posisi tawarnya untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan pekerja, baik di dalam perundingan bipartit maupun sebagai elemen penyeimbang demokrasi (di luar konteks perusahaannya). "Jangan banyak menuntut, masih banyak yang mengantri mencari pekerjaan", jawaban untuk para pekerja mempertanyakan pelaksanaan aturan ketenagakerjaan di perusahaannya. "Kita harus memikirkan orang-orang yang belum mendapatkan pekerjaan, jadi yang sudah bekerja harap dapat menerima kondisi ini", begitulah kira-kira alasan dari pemerintah dan parlemen ketika mereka hendak me-revisi hukum ketenagakerjaan untuk memperbaiki kondisi perekonomian dalam momentum kebangkitan ekonomi nasional pada tahun 2006 lalu. Sayang sekali, nampaknya semakin sedikit pihak-pihak yang dapat memperjuangkan kondisi para pekerja, selain karena semakin diminatinya budaya "Gue Banget" yang digaungkan oleh kalangan neo-liberal pada era globalisasi ini, mungkin juga karena semakin lemahnya semangat solidaritas (ini pun terjadi di berbagai negara). Sebagai bentuk dukungan pada Mbak Yuli dan Ibu Evi dan untuk perjuangan para pekerja/buruh, saya mengirimkan kabar ini kepada saudar/i dengan harapan ada tindakan dari kemampuan masing-masing kita semua, atau setidaknya ada do'a yang dipanjatkan untuk membantu mereka dan hikmah yang akan membuka semangat solidaritas terhadap sesama. Untuk waktu yang diluangkan membaca e-mail ini dan untuk solidaritas yang terbangkitkan, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. Salam hangat, Iskandar ----- Original Message ----- From: nani kusmaeni Sent: Monday, March 16, 2009 11:53 AM Subject: Aku kangen anak ku mba Dear All Aku kangen anak ku mbak, itu kata yang pertama evi ucapkan dengan mata berkaca kaca menerima kunjungan Bung Iqbal, Arunasalam perwakilan IMF untuk asia pacific dan beberapa teman - teman dari koran peruangan pada tanggal 13 Maret 2009, sekali lagi kawan, saya ingin mengajak semua pekerja dari sektor manapun untuk dapat megunjungi evi dan yuli di rutan pondok bambu, gambar yang terlampir adalah foto yang kami ambil pada saat kunjungan tanggal 13 Maret yang lalu, ringankan langkah teman - teman untuk mengunjunginya. Salam solidaritas NK [Non-text portions of this message have been removed]

