AGH. Abdurrahman Ambo Dalle

Mengayuh Sepeda 70 km Demi Berdakwah



Gurutta Ambo Dalle dilahirkan dari keluarga bangsawan yang masih kental,
sekitar tahun 1900 M, di Desa Ujung Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo,
sekitar 7 km sebelah utara Sengkang. Ayahnya bernama Andi Ngati Daeng Patobo
dan ibunya bernama Andi Candara Dewi.


Kedua orang tua beliau memberi nama Ambo Dalle yang berarti bapak yang
memiliki banyak rezeki. Diharapkan anak itu kelak hidup dengan limpahan
rezeki yang cukup. Adapun nama Abd. Rahman diberikan oleh seorang ulama
bernama K.H. Muhammad Ishak, pada saat usia beliau 7 tahun dan sudah dapat
menghapal Al Qur’an.


Sebagai anak tunggal dari pasangan bangsawan Wajo, Gurutta tidak dibiarkan
menjadi bocah yang manja. Sejak dini beliau telah ditempa dengan jiwa
kemandirian dan kedisiplinan, khususnya dalam masalah agama. Bersekolah di
Volk School (Sekolah Rakyat) pada pagi hari dan belajar mengaji pada sore
dan malam harinya. Dalam dunia permainan anak-anak, Ambo dale adalah seorang
penggiraing bola handal sehingga digelari “Si Rusa.”


Selama Belajar, Ambo Dalle tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu Alquran seperti
tajwid, qiraat tujuh, nahwu sharaf, tafsir, dan fikih saja.. melainkan juga
mengikuti kursus bahasa Belanda di HIS dan pernah pula belajar di Sekolah
Guru yang diselenggarakan Syarikat Islam (SI) di Makassar.


Pada masa kecilnya, Ambo Dalle mempelajari ilmu agama dengan metode sorogan
(sistem duduk bersila); guru membacakan kitab, murid mendengar dan menyimak
pembicaraan guru. Pada tahun 1928, ketika H. Muhammad As’ad bin Abdul Rasyid
Al-Bugisy, seorang ulama Bugis Wajo yang lahir dan menetap di Mekkah pulang
kembali ke negeri leluhurnya, Ambo dale segera berangkat ke Sengkang untuk
menimba ilmu dari guru besar tersebut.


Peluang untuk menuntut ilmu semakin terbuka tatkala telah banyak ulama asal
Wajo yang kembali dari Mekkah. Di antaranya Sayid Ali Al Ahdal, Haji
Syamsuddin, Haji Ambo Omme, yang bermaksud membuka pengajian di negeri
sendiri, seperti tafsir, fikhi, dan nahwu sharaf. Sementara itu, pemerintah
Kerajaan Wajo (Arung Matoa) bersama Arung Ennengnge (Arung Lili), sangat
senang menerima tamu ulama. Karena itu, lingkungan kerajaan tempat beliau
dibesarkan sering kedatangan ulama dari Mekkah. Diantara ulama itu adalah
Syekh Muhammad Al-Jawad, Sayid Abdullah Dahlan dan Sayid Hasan Al-Yamani
(Kakek Dr. Zaki Yamani, mantan menteri perminyakan Arab Saudi).


*Keberuntungan dalam Belajar*

*
*Suatu ketika, AGH. Muhammad As’ad yang biasa  disapa oleh masyarakat Bugis
dengan Anregurutta Puang Aji Sade, menguji secara lisan murid-muridnya,
termasuk Ambo Dalle. Ternyata jawaban Ambo Dalle dianggap yang paling tepat
dan sahih. Maka, sejak saat itu ia diangkat menjadi asisten. Sehingga pada
tahun 1935, beliau berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan
menetap beberapa bulan di sana untuk memperdalam ilmu agama pada para syeikh
di Mekkah.


Sejak Gurutta diangkat menjadi asisten AGH. Muhammad As’ad, beliau mulai
meniti karier mengajar dan secara intens menekuni dunia pendidikan ini. Pada
saat yang sama, Arung Matowa Wajo beserta Arung Lili sepakat menyarankan
kepada Anregurutta H. Muhammad As’ad agar pengajian sistem sorogan (duduk
bersila) ditingkatkan menjadi madrasah. Saran tersebut diterima dengan
terbuka, maka madrasah pun didirikan atas bantuan dan fasilitas pemerintah
kerajaan. Maka dibukalah pendidikan awaliyah (setingkat taman kanak-kanak),
ibtidaiyah (SD) dan tsanawiyah (SMP). Perguruan itu diberi nama Madrasah
Arabiyah Islamiyah disingkat MAI Sengkang, yang lambangnya diciptakan oleh
Ambo Dalle dengan persetujuan AGH. As’ad dan ulama lainnya. Ambo Dalle
bahkan kemudian diserahi tugas memimpin lembaga itu. Dalam waktu singkat,
popularitas MAI Sengkang dengan sistem pendidikannya yang modern (sistem
madrasah), menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.


Salah seorang yang tertarik dengan sistem pendidikan MAI Sengkang adalah
H.M.Yusuf Andi Dagong, Kepala Swapraja Soppeng Riaja yang berkedudukan di
Mangkoso. Maka ketika H.M.Yusuf Andi Dagong  ini diangkat sebagai Arung
Soppeng Riaja pada tahun 1932, ia pun lalu mendirikan mesjid di Mangkoso
sebagai ibukota kerajaan. Namun, mesjid itu selalu sepi dari aktivitas
ibadah akibat rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap agama
yang dianutnya.


Untuk mengatasi hal tersebut, atas saran para tokoh masyarakat dan pemuka
agama, diputuskan untuk membuka lembaga pendidikan (angngajiang: pesantren)
dengan mengirim utusan untuk menemui Anregurutta H.M.As <http://h.m.as/>’ad
di Sengkang. Utusan itu membawa permohonan kiranya Anregurutta H.M. As’ad
mengizinkan muridnya, yaitu Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle untuk memimpin
lembaga pendidikan yang akan dibuka di Mangkoso.


Ketika itu, di Sulawesi Selatan sudah ada beberapa tempat yang merupakan
pusat pendidikan Islam dan banyak melahirkan ulama. Tempat-tempat tersebut
adalah Pulau Salemo di Pangkep, Campalagian di Polmas, dan di Sengkang Wajo.
Namun, bila dibandingkan dengan Salemo dan Campalagian yang menerapkan
sistem tradisional berupa pengajian halakah (mangaji tudang), MAI Sengkang
memiliki kelebihan karena telah menerapkan sistem modern (madrasi/klasikal)
di samping tetap mempertahankan pengajian halakah. Dan, itulah agaknya
menarik minat pemerintah Swapraja Soppeng Riaja untuk membuka lembaga
pendidikan dengan sistem yang sama dengan MAI Sengkang.


Awalnya, permohonan itu ditolak karena Anregurutta HM.As’ad tidak
menghendaki ada cabang madrasahnya. Beliau kuatir keberadaan madrasah yang
terpencar menyulitkan kontrol sehingga dapat mempengaruhi kualitas
madrasahnya. Namun, setelah melalui negosiasi yang alot, akhirnya keputusan
untuk menerima permohonan Arung dan masyarakat Soppeng Riaja itu diserahkan
kepada Gurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle.


Hari Rabu, tanggal 29 Syawal 1357 H atau 21 Desember 1938 Anregurutta H.
Abdurrahman Ambo Dalle beserta keluarga dan beberapa santri yang mengikuti
dari Wajo hijrah ke Mangkoso dengan satu tujuan, melanjutkan cita-cita dan
pengabdian. Hari itu juga Gurutta memulai pengajian dengan sistem halakah
karena calon santri memang sudah lama menunggu. Kelak momen ini dianggap
bersejarah karena menjadi cikal bakal kelahiran DDI. Sambutan pemerintah dan
masyarakat setempat sangat besar, terbukti dengan disediakannya segala
fasilitas yang dibutuhkan, seperti rumah untuk Gurutta dan keluarganya serta
santri yang datang dari luar Mangkoso.


Setelah berlangsung tiga minggu, Gurutta kemudian membuka madrasah dengan
tingkatan tahdiriyah, ibtidaiyah, iddadiyah, dan tsanawiyah. Fasilitas
pendidikan yang diperlukan serta biaya hidup mereka beserta guru-gurunya
ditanggung oleh Raja sebagai penguasa setempat. Di dalam mengelola pesantren
dan madrasah, Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle dibantu oleh dua belas
santri senior yang beberapa diantaranya ikut bersama beliau dari Sengkang.
Mereka adalah : Gurutta M. Amberi Said, Gurutta H. Harun Rasyid Sengkang,
Gurutta Abd. Rasyid Lapasu, Gurutta Abd. Rasyid Ajakkang, Gurutta
Burhanuddin, Gurutta M. Makki Barru, Gurutta H. Hannan Mandalle, Gurutta
Muhammad Yattang Sengkang, Gurutta M. Qasim Pancana, Gurutta Ismail Kutai,
Gurutta Abd. Kadir Balusu, dan Gurutta Muhammadiyah. Menyusul kemudian
Gurutta M. Akib Siangka, Gurutta Abd.Rahman Mattammeng, dan Gurutta M. Amin
Nashir. Lembaga itu diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso,
namun bukan cabang dari MAI Sengkang.


Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle, berbekal pengalaman mengajar yang
ada, diberi amanah untuk memimpin MAI Mangkoso. Berkat dukungan dan simpati
dari pemerintah dan masyarakat Mangkoso, pertumbuhan dan perkembangan
madrasah ini sangat pesat, terbukti dengan banyak permintaan dari luar
daerah untuk membuka cabang. Anregurutta merespon permintaan itu, maka
dibukalah cabang MAI Mangkoso di berbagai daerah.


*Zaman Jepang*


Namun, masalah mulai mengintai ketika Jepang masuk dan menancapkan kuku-kuku
imperialis di bumi Sulawesi Selatan. Proses belajar dan mengajar di madrasah
ini mulai menghadapi kesulitan karena pemerintah Jepang tidak mengizinkan
pengajaran seperti yang dilakukan di madrasah. Untuk mengatasi masalah ini,
Guruta Ambo Dalle tidak kehilangan siasat. Beliau mengambil inisiatif agar
pelajaran yang sebelumnya dilakukan di dalam kelas, dipindahkan ke masjid
dan rumah-rumah guru. Kaca daun pintu dan jendela masjid dicat hitam agar
pada malam hari cahaya lampu tidak tembus ke luar. Setiap kelas dibagi dan
diserahkan kepada seorang guru secara berkelompok dan mengambil tempat di
mana saja asal dianggap aman dan bisa menampung semua anggota kelompok.
Sewaktu-waktu pada malam hari dilarang menggunakan lampu. Ajaib, dengan cara
itu justru mengundang peminat yang kian bertambah dan luput dari pengawasan
Jepang. Malah, ada beberapa petinggi Jepang yang telah mengenal Gurutta Ambo
Dalle secara dekat dan bahkan ada yang menaruh hormat yang sangat dalam
sehingga menganggap Gurutta sebagai guru dan orang tuanya. Demikianlah
kharisma Gurutta Ambo Dalle menembus sekat bangsa, suku, golongan dan strata
dalam masyarakat sehingga beliau bisa merengkuh hati massa pendukungnya.


Dunia Gurutta adalah lautan ilmu dan pengabdian yang tak habis-habisnya.
Masyarakat akan selalu terkesan bagaimana Sang Anregurutta selama
bertahun-tahun mengayuh sepeda dari Mangkoso ke Pare-Pare yang berjarak 30
km dan menjadi 70 km pulang pergi. Perjalanan panjang dan melelahkan itu
dilakoninya tanpa mengeluh, karena beliau juga menjalankan tugas sebagai
Kadhi di Pare-Pare. Bagi orang lain, hal itu mejadi sesuatu yang sangat
menguras tenaga. Namun, bagi Gurutta Ambo Dalle, jiwanya telah terbungkus
dengan jiwa pengabdian dan kecintaan agama yang kukuh sehingga semua
dijalani dengan ikhlas dan ridha.


Mulanya, setelah beberapa tahun memimpin MAI Mangkoso, beliau dihadapkan
pada kondisi bangsa Indonesia yang sedang dalam masa merebut dan
mempertahankan kemerdekaan. Di mana-mana gema perjuangan bergelora di
seluruh pelosok tanah air. Gurutta Ambo Dalle terpanggil untuk membenahi
sistem pendidikan yang menurutnya nyaris terbengkalai. Dia sadar selain
bertempur melawan penjajah dengan senjata, berperang melawan kebodohan pun
sama pentingnya. Sebab, kebodohanlah salah satu yang menyebabkan Indonesia
terbelenggu dirantai kolonialisme selama berabad-abad.


Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 ternyata tidak
serta merta mendatangkan ketentraman dan kedamaian bagi rakyat. Ancaman
datang lagi dari Belanda melalui agresi Sekutu/NICA. Rakyat dari berbagai
pelosok bangkit mengadakan perlawanan. Terjadilah peristiwa yang dalam
sejarah dikenal sebagai Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan.
Tentara NICA di bawah komando Kapten Westerling mengadakan pembunuhan dan
pembantaian terhadap rakyat yang dituduh sebagai ekstrimis.


Peristiwa tersebut membawa dampak bagi kegiatan MAI Mangkoso. Banyak
santri-santri yang ditugaskan oleh Anregurutta H.Abdurrahman Ambo Dalle
untuk mengajar di cabang-cabang MAI di berbagai daerah, menjadi korban
keganasan Westerling. Diantara yang menemui syahid itu tercatat nama M.
Saleh Bone dan Sofyan Toli-Toli, dua santri MAI Mangkoso yang ditugaskan
mengajar di Baruga Majene, gugur ketika menjalankan tugasnya.


Namun, situasi itu tidak menyurutkan semangat Anregurutta H Abdurrahman Ambo
Dalle untuk mengembangkan MAI. Bahkan, dalam situasi seperti itu bersama
beberapa ulama lepasan MAI Sengkang, diantaranya AG.H.Daud Ismail dan
AG.H.M.Abduh Pabbajah, AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle melakukan pertemuan alim
ulama/kadhi se Sulawesi Selatan di Watang Soppeng. Pertemuan itu diadakan
pada hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H / 5 Februari dan berakhir pada
hari Jumat tanggal 16 Rabiul Awal 1366 H / 7 Februari 1947. Pertemuan itu
menyepakati membentuk organisasi yang diberi nama Darud Da’wah Wal Irsyad
(DDI), yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial
kemasyarakatan. AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle dipilih sebagai ketua dan
AG.H.M.Abduh Pabbajah sebagai sekretaris organisasi itu. Setelah pertemuan
tersebut, MAI Mangkoso beserta seluruh cabang-cabangnya berubah nama menjadi
DDI. Mangkoso pun ditetapkan sebagai pusat organisasi.


Pasca proklamasi kemerdekaan gairah rakyat untuk mengejar segala
ketertinggalan utamanya dalam bidang pendidikan bagai tak terbendung. Hal
ini membuat pimpinan pusat DDI sangat kewalahan melayani permintaan untuk
mengirimkan guru-guru untuk cabang-cabang DDI yang baru. Maka, suatu
kebijaksanaan segera diambil oleh ketua umum melalui suatu keputusan rapat
adalah dengan menugaskan siswa-siswa kelas tertinggi untuk mengajar di
madrasah-madrasah yang tersebar di mana-mana. Mereka diwajibkan mengabdi
selaku pendidik dalam jangka waktu tertentu. Setelah selesai, barulah mereka
dipanggil kembali untuk meneruskan pelajarannya. Prakarsa ini ternyata
bermanfaat ganda. Kesulitan tenaga pengajar dapat ditanggulangi tanpa
memerlukan biaya besar. Sedangkan bagi para siswa, kegiatan tersebut berguna
sebagai wahana mempraktikkan ilmu yang telah mereka dapatkan di madrasah.
Selanjutnya, bila mereka berada di tengah masyarakat, tidak canggung lagi
dalam melanjutkan pengabdiannya.


*Hijrah Ke Pare-pare*


Tahun 1950, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle yang berusia 50 tahun itu akhirnya
pindah ke Parepare meninggalkan Mangkoso yang sarat kenangan yang semakin
meneguhkan sosok Gurutta dalam kiprah menegakkan agama Islam lewat media
pendidikan. Beliau membangun rumah dan menetap di Ujung Baru bersama
keluarganya dan pada tahun itu pula pusat Darud Da’wah Wal Irsyad diboyomg
ke Parepare, dengan menempati sebuah gedung yang cukup representatif di
sebelah selatan Masjid Raya. Gedung tersebut adalah pemberian Arung
Mallusetasi. Tak berapa lama kemudian, dibangun perguruan di Jalan Andi
Sinta Ujung Baru Parepare (depan Masjid Al Irsyad, bersebelahan dengan rumah
kediaman Gurutta). Setelah itu, Gurutta pindah ke Ujung Lare (Lereng Gunung)
yang diperuntukkan bagi santri putra. Sedangkan untuk santri putri, tetap di
Ujung Baru. Sementara DDI di Mangkoso tetap berjalan seperti biasa dan
dikelola oleh pemimpin yang baru, yakni KH. Muhammad Amberi Said.


Secara geografis kota Parepare amat strategis untuk menjadi pusat kegiatan
organisasi dan pendidikan. Terletak di tepi pantai, kota itu memiliki
pelabuhan alam yang sarat dilabuhi kapal-kapal berbagai ukuran, baik dari
dalam negeri maupun dari manca negara. Kondisi ini menunjang perkembangan
DDI dalam kiprah pengabdiannya. Untuk itu, manajemen organisasi DDI
disempurnakan sesuai dengan kebutuhan. Muktamar sebagai institusi tertinggi
organisasi ditetapkan dua tahun sekali. Badan-badan otonom didirikan, antara
lain : Fityanud Da’wah wal Irsyad (FIDI), bergerak di bidang kepanduan dan
kepemudaan, Fatayat Darud Da’wah wal Irsyad (FADI), untuk kaum putri dan
pemudi, Ummahatud Da’wah wal Irsyad (Ummmahat), bagi para Ibu. Dibentuk pula
dewan perguruan yang mengatur pengelolaan madrasah dan sekolah, termasuk
pengangkatan guru-guru dan penyusunan kurikulum. Sistem pendidikan
disesuaikan dengan kemajuan zaman.


Dalam kesibukannya memimpin organisasi dan perguruan itu, AG.H.Abdurrahman
Ambo Dalle tidak melalaikan kewajibannya sebagai warga negara yang taat. Ia
bersama KH. Fakih Usman dari Departemen Agama Pusat dipercayakan oleh
pemerintah RI membenahi dan merealisasi pembentukan Departemen Agama
Propinsi Sulawesi. Tugas itu dapat dilaksanakan dengan baik berkat ketekunan
dan kesabarannya. Sebagai Kepala Depag yang pertama, diangkat KH.Syukri
Gazali, sedangkan beliau sendiri diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama
Kabupaten Parepare pada tahun 1954, menggantikan KH. Zainuddin Daeng Mabunga
yang dialihtugaskan ke Makassar.


*Diculik Kahar Muzakkar*

*
*Perjalanan hidup terus bergulir dengan segala dinamika yang mengiringinya.
Hingga pada suatu hari, tepatnya tanggal 18 juli 1955, mobil yang
dikemudikan oleh Abdullah Giling, sopir (sebelumnya adalah pembonceng)
merangkap sekretaris Gurutta, dicegat sekelompok orang bersenjata lengkap di
Desa Belang-Belang Kab. Maros. Awalnya, Abdulllah Giling mengira pasukan
tersebut adalah tentara yang sedang latihan perang-perangan. Ketika mobil
berhenti, anggota pasukan bersenjata itu membuka topi bajanya dan
berhamburanlah rambut panjang melampaui punggung pemiliknya, ciri khas
pasukan pemberontak. Yakinlah mereka kalau sedang dihadang oleh gerombolan
separatis DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Waktu itu DI/TII memang banyak
mengajak kaum ulama untuk dibawa masuk ke hutan dan dijadikan penasehat
Kahar Muzakkar. Yang menolak akan diambil secara paksa (diculik) seperti
yang terjadi pada Gurutta KH. Abd. Rahman Mattammeng. Pasukan gerombolan
tersebut tidak memberikan kesempatan Gurutta Ambo Dalle untuk berbicara dan
langsung dinaikkan ke atas usungan. Gurutta lalu dibawa masuk ke hutan yang
menjadi basis perjuangan mereka untuk bergabung dengan anak buah Kahar
Muzakkar. Niat pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia itu untuk
menculik Gurutta Ambo Dalle memang sudah lama. Ketika Gurutta dihadapkan
kepada Kahar Muzakkar, tokoh pemberontak ini tampak gembira, “Alhamdulillah,
Pak Kiai sudah di tengah-tengah kita, Insya Allah dengan doa Pak Kiai,
perjuangan kita akan mencapai kemenangan,” kata Kahar Muzakkar.


Di dalam hutan, dengan pengawalan yang cukup ketat dari para gerilyawan,
Gurutta sama sekali tidak punya peluang untuk keluar dari hutan dan kembali
ke kota. Maka, terbersitlah pikiran Gurutta agar lebih baik melanjutkan misi
pendidikan Islam seperti yang ia cita-citakan sejak kecil. Pengajian
dilakukan pada anggota DI/TII dan keluarganya di hutan. Gurutta Ambo Dalle
dengan faham Ahlusunnah Wal Jamaah tampaknya mendapat benturan dengan
sebagian anggota Kahar Muzakkar yang menganut faham Wahabi dan sebagiannya
lagi tidak menghiraukan mazhab. Maka tidak mengherankan jika sering terjadi
konflik antara beliau dengan Kahar Muzakkar dan pengikut setianya.


Selama delapan tahun Gurutta berada di hutan di tengah kancah perjuangan
idealisme kaum gerilyawan DI/TII, selama itu pula Kahar Muzakkar tidak
pernah jauh dari Gurutta. Kemana ia pergi Gurutta selalu diikutkan. Kalau
ada pasukan yang terluka kena tembakan dari serangan TNI, Gurutta mengobati
hanya dengan air putih yang ia doakan, berangsur-angsur luka itu sembuh dan
sang prajurit itu berguru dan menjadi murid Gurutta.


Pada tahun 1963, Operasi Kilat yang dilancarkan oleh pemerintah (TNI)
semakin menekan kaum pemberontak itu sehingga kekuatan mereka kian lemah dan
terpecah-pecah. Gurutta pun tidak pernah lagi mendapatkan pengawalan seperti
sebelumnya. Hal itu digunakan oleh Gurutta untuk mencari kontak dengan TNI
dan berusaha keluar dari hutan. Beliau dijemput oleh TNI dipimpin A.
Patonangi yang memang sudah lama mencarinya dan langsung dibawa menghadap
Panglima Kodam XIV Hasanuddin- waktu itu Kolonel M.Yusuf. Pertemuan itu
sangat mengharukan dan suasana hening pun terjadi dalam ruangan, layaknya
pertemuan seorang anak dengan orang tuanya yang sudah lama memendam rindu,
baru berjumpa setelah berpisah sekian lama. Sungguh banyak hal yang bisa
dipetik dari pengalaman selama di hutan, namun yang pasti Gurutta lebih
menuai kebijaksanaan dan kearifan dalam menilai semua itu.


*Kiprahnya dalam Perjuangan*


Keteguhan sikap Anregurutta tak lekang di setiap peristiwa dan pergolakan
yang beliau lalui dalam perjalanan hidupnya. Ketika terjadi pemberontakan
G-30 S/PKI, Gurutta Ambo Dalle yang ketika itu berdomisili di Parepare, tak
bergeming dan tetap kukuh dengan prinsip dan keyakinannya. Pada waktu itu
Anregurutta berpesan pada santrinya agar tetap berpegang teguh pada akidah
Islam yang benar, jangan terpengaruh dengan gejolak yang terjadi dalam
masyarakat.


Secara fisik, Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle tidak pernah secara
langsung memanggul senjata melawan penjajah. Namun, kediamannya tak pernah
sepi dari para pejuang yang minta didoakan keselamatannya. Misalnya, ketika
Lasykar Pemuda Pejuang Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Tentara
Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) di bawah pimpinan Andi
Mattalatta hendak melakukan ekspedisi ke Jawa pada tahun 1946, mereka
menemui Anregurutta untuk didoakan keselamatannya dalam memperjuangakan
bangsa dan negara. Demikian juga saat mereka kembali dari Jawa dan hendak
melakukan Konferensi Kelasykaran di Paccekke pada tanggal 20 Januari 1947
atas mandat Jenderal Sudirman. Kebetulan, letak Mangkoso bersebelahan dengan
Paccekke, tempat berlangsungnya konferensi yang melahirkan Divisi TRI
Sulawesi Selatan/Tenggara sebagai cikal bakal Kodam XIV Hasanuddin (sekarang
Kodam VII Wirabuana).


*Hijrah Ke Kaballangan Pinrang*


Pada tahun 1977, pemilu kedua berlangsung selama zaman orde baru. Pada waktu
itu, kondisi politik Indonesia terasa sangat panas. Baranyanya pun bergulir
sampai ke kampus DDI Ujung Lare Parepare. Berkaitan dengan peristiwa pemilu
ini, Gurutta berada dalam kondisi yang cukup dilematis. Keadaan memaksa
beliau untuk memilih. Atas dasar demi menyelamatkan organisasi dari tekanan
pemerintah yang cukup refresif, akhirnya AG.H.Abdurrahman Ambo Dalle
menyatakan diri bergabung dengan Golongan Karya (Golkar), partai politik
yang berkuasa saat itu. Itupun setelah melalui perenungan dan kontemplasi
yang matang dan didahului dengan shalat istikharah, untuk memohon petunjuk
Illahi Rabbi agar dapat menentukan dan memilih jalan yang terbaik. Gurutta
KH. Ambo Dalle memilih ikut bersama dengan pemerintah membangun bangsa dan
negara daripada harus berseberangan jalan.


Meskipun pilihan politik itu bersifat pribadi, tidak membawa DDI sebagai
lembaga, tapi tampaknya sikap ini tidak menghembuskan angin segar dalam
internal warga DDI? Diantara tokoh DDI dan murid-muridnya banyak yang tidak
setuju dengan sikap yang diambil Gurutta. Sikap itu dianggap sudah keluar
dari garis perjuangan DDI. Hal itu berdampak pada keterpecahan sikap dari
para santri tempat beliau memimpin. Peristiwa ini memberi dampak serius
terhadap mekanisme pendidikan di Pesantren DDI Ujung Lare dan Ujung Baru
Parepare yang dipimpin langsung oleh Gurutta. Kedua kampus itu nyaris kosong
ditinggalkan oleh santri-santri yang tidak bisa menerima sikap politik
Gurutta. Akhirnya para santriwati yang tadinya tinggal di Ujung Baru ditarik
ke Ujung Lare untuk bergabung dengan santri putra yang masih bertahan.


Peristiwa tersebut membuat Gurutta sangat kecewa sehingga hampir saja
membuatnya hijrah ke Kalimantan Timur. Ketika itu, pemerintah daerah dan
masyarakat di sana menunggunya. Issu ini sempat tercium oleh Bupati Pinrang
(Andi Patonangi). Beliau lalu menawarkan kepada Gurutta sebuah kawasan di
daerahnya untuk dijadikan pesantren. Tahun 1978, akhirnya Gurutta hijrah
lagi ke Pinrang, tepatnya di desa Kaballangan. Itulah awal berdirinya
Pesantren Kaballangan Kabupaten Pinrang yang dipimpin langsung oleh beliau.
Sedangkan pesantren di Parepare diserahkan kepada KH. Abubakar Zaenal.


Namun, satu hal yang perlu dicatat bahwa kedekatan Gurutta dengan Golkar dan
pemerintah orde baru, selain telah menorehkan pengalaman pahit bagi DDI,
harus diakui pula telah mendatangkan kebaikan bagi DDI. Tidak ada lembaga
pendidikan dan organisasi Islam, khususnya di Sulawesi Selatan, yang
demikian diperhatikan oleh pemerintah melebihi perhatian terhadap DDI.
Pembangunan Pondok Pesantren DDI Kaballangan, misalnya, tidak lepas dari
perhatian dan bantuan pemerintah. Pesantren putra yang dipimpin langsung
oleh Gurutta itu tidak pernah sepi dari kunjungan pejabat, sipil dan
militer, baik dari provinsi maupun pusat. Tentu saja, kunjungan itu membawa
sumbangan untuk pesantren. Meskipun begitu, hubungan baiknya dengan
pemerintah tidak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi. Juga kedekatan
itu tidak mengorbankan kharismanya sebagai ulama anutan yang disegani.


*Kitab-kitab Karya Gurutta*



Sebagai ulama, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle banyak mengurai masalah-masalah
kesufian di dalam karya-karya tulisnya. Tapi, tidak sebatas saja, melainkan
hampir semua cabang-cabang ilmu agama beliau kupas dengan tuntas, seperti
akidah, syariah, akhlak, balaghah, mantik, dan lain-lain. Kesemua itu
tercermin lewat karangan-karangannya yang berjumlah 25 judul buku. Kitab
Al-Qaulus Shadiq fi Ma’rifatil Khalaqi, yang memaparkan tentang perkataan
yang benar dalam mengenali Allah dan tatacara pengabdian terhadap-Nya.
Menurut Gurutta, manusia hanya dapat mengenal hakikat pengadian kepada Allah
jika mereka mengenal hakikat tentang dirinya. Untuk mengagungkan Allah,
tidak hanya berbekalkan akal logika saja, tapi dengan melakukan zikir yang
benar sebagai perantara guna mencapai makripat kepada Allah. Meskipun harus
diakui bahwa logika harus dipergunakan untuk memikirkan alam semesta sebagai
ciptaan Allah swt.


Dikemukakan bahwa cara berzikir mesti benar, sesuai yang diajarkan
Rasulullah berdasarkan dalil-dalil naqli. Hati harus istiqamah dan tidak
boleh goyah. Pendirian dan sikap aqidah tercermin dalam kitab Ar-Risalah
Al-Bahiyyah fil Aqail Islamiyah yang terdiri dari tiga jilid. Keteguhan
pendiriannya tentang sesuatu yang telah diyakini kebenarannya, tergambar
dalam kitabnya Maziyyah Ahlusunnah wal Jama’ah.


Yang membahas bahasa Arab dan ushul-ushulnya tertulis dalam kitab Tanwirut
Thalib, Tanwirut Thullab, Irsyadut Thullab. Tentang ilmu balagha (sastra dan
paramasastra) bukunya berjudul Ahsanul Uslubi wa-Siyaqah, Namuzajul Insya’I,
menerangkan kosa kata, dan cara penyusunan kalimat Bahasa Arab. Kitab
Sullamul Lughah, menerangkan kosa kata, percakapan dan bacaan. Yang paling
menonjol adalah kitab Irsyadul Salih. yang menerangkan penjelasan rinci
(syarah atas bait-bait kaidah ilmu Nahwu)


AG.H. Abd. Rahman Ambo Dalle juga mengarang pedoman berdiskusi dalam Bahasa
Arab, yakni kitab Miftahul Muzakarah dan tentang ilmu mantiq (logika) dalam
kitab Miftahul Fuhum fil Mi’yarif Ulum. Aktivitas tulis menulis yang
dilakukan oleh Gurutta kiranya tidak terlalu berat, karena panggilan untuk
mengukirkan gagasan dalam kanvas sudah beliau lakoni sejak berumur 20 tahun.


*Kepribadian Gurutta*


Sebagai ulama yang menyimpan kharisma yang dalam, Gurutta KH. Abd. Rahman
Ambo Dalle dikenal dekat dengan semua kalangan, baik santrinya maupun dengan
masyarakat dan pemerintah. Pengabdiannya yang total dan kepemimpinannya yang
adil, lekat di jiwa pencintanya. Akan sulit menemukan figur ulama seperti
beliau dalam sepak terjang perjuangannya di dalam menegakkan syiar agama dan
meletakkan dasar pondasi yang kokoh untuk menegakkan berdirinya pendidikan
pesantren, yang kini memiliki jaringan cabang yang sangat luas hingga keluar
negeri. Kedekatannya dengan semua golongan terkadang membuat beliau
mempunyai “banyak anak” sebagai anak angkat yang tidak dibedakan dengan anak
kandungnya sendiri. Seperti pengakuannya dalam sebuah media, “Bagi saya,
semua orang seperti anak sendiri, semua harus diperlakukan secara adil tidak
peduli apa anak kandung atau bukan”. Contohnya, Try Sutrisno (mantan Wapres)
ketika menjabat sebagai Panglima ABRI datang menyerahkan diri sebagai anak.
Gurutta pun menerimanya dan menyerahkan sehelai tasbih sebagai bukti dan
mengajarkan beberapa doa sekaligus mendoakan. Sejak itu, bila Try Sutrisno
ke Sulawesi Selatan, selalu meluangkan waktunya untuk bertemu dengan
Gurutta.


Demikian pula beberapa santri yang pernah belajar di Pesantren DDI,
khususnya di Mangkoso, Parepare, dan Kaballangan, diperlakukan sama, baik
santri laki-laki maupun perempuan. Beliau selalu menaruh rasa cinta dan
sayang kepada siapapun yang dianggap memiliki kemampuan belajar tanpa
memandang latar belakang keluarga. Sebagai contoh, beliau pernah memberikan
sebuah kitab Kifayah al-Akhyar yang ada ditangannya sebagai hadiah kepada
santrinya, karena bisa menjawab pertanyaan yang diajukan Gurutta.


Dalam kegiatan kemasyarakatan, Gurutta sangat intens dalam memberikan
perhatian dan meluangkan waktunya untuk membahas dan menyelesaikan
persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ditemui ataupun yang diajukan
kepadanya. Namun, dengan segudang kesibukan yang mendera waktunya, Gurutta
tak pernah melupakan tugas sehari-hari untuk mengajar di pesantren dan juga
kegiatan dakwah yang diembannya hingga sampai ke pelosok-pelosok daerah.
Apalagi jika memasuki hari-hari besar Islam seperti pada peringatan maulid
Nabi Muhammad SAW. atau peringatan Isra’ Mi’raj Nabi, beliau jarang dijumpai
di rumah karena kesibukan berdakwah untuk kepentingan syiar Islam.


Dengan Pemerintah, Gurutta senantiasa menjalin kerja sama yang sangat akrab.
Beliau mempunyai pandangan bahwa ulama dan umara keduanya merupakan dwi
tunggal yang mutlak diperlukan dalam membangun kehidupan berbangsa dan
bernegara.


Namun, di balik semua kharisma dan keseriusan beliau itu, sesungguhnya
Gurutta juga adalah seorang yang menyimpan jiwa seni yang cukup kuat.
Orang-orang terdekatnya paham betul akan kemampuan Gurutta dalam melukis,
dekorasi, dan menciptakan lagu-lagu yang bernafaskan Islam. Gurutta Ambo
Dalle pernah melukis potret dirinya yang nyaris sama dengan yang asli.
Sedangkan untuk lagu-lagu ciptaannya, sampai sekarang masih tersimpan
sebagian di tangan santrinya.


*Detik-detik Terakhir*


Gurutta KH. Abd. Rahman Ambo Dalle berpulang dalan usia senja mendekati satu
abad. Namun, tahun-tahun menjelang beliau dipanggil Tuhan, tetap dilalui
dengan segala kesibukan dan perjalanan-perjalanan yang cukup menyita waktu
dan tanpa hirau akan kondisi beliau yang mulai uzur. Misalnya, dalam usia
sekitar 80 tahun beliau masih aktif sebagai anggota MPR dan MUI pusat. Dalam
rentanya dan kaki yang sudah tidak mampu menopang tubuhnya, beliau masih
sempat berkunjung ke Mekkah untuk melakukan Umrah dan memenuhi undangan Raja
Serawak (Malaysia Timur), meskipun mesti digendong.


Demikianlah perjalanan hidup seorang hamba Allah SWT yang telah melalui
berbagai zaman dalam perjuangannya menegakkan dan mensyiarkan agama Islam.
Di setiap era yang dilewatinya, dia tetap tampil sebagai sosok yang selalu
tegar dan tegas. Ibarat pohon bakau ditepi pantai, ia tak pernah luruh dan
tetap kukuh menghalau deburan ombak yang menghantamnya. Dia tak mau takluk
pada perhitungan manusia akan kondisi dan kemampuan fisiknya di usia senja.
Dimana keadaan sebagian tubuhnya sudah tidak berfungsi lagi, mata yang kabur
dan nyaris tak melihat, tubuh ringkih yang tidak kuat berjalan. Semuanya
tidak membuatnya untuk berhenti dari misi pengabdiannya. []


Disadur kembali oleh Syaifullah Amin, dari berbagai sumber.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke