Ini saya cuilkan dr internit bzw. dunianya yg digemari si maya dan sebangsanya. 
.
mungkin ada yg suka.
tapi tdk menutup kmungkinan jg kl ada yg krg suka.
(namanya jg manusia, makhluk yg dianugerahi Allah dg prbedaan bzw. keunikan. 
menganggap diri kita paling benar ketika kebetulan dalam posisi berbeda dg 
orang lain bisa dianggap sbg salah satu indikasi kekurangluasan cara berpikir 
dan kekurangdewasaan kita. dlm hal ini, keseragaman adalah sesuatu yg nyaris 
mustahil bzw. hampir bisa dikatakan sbuah kniscayaan. salah satu yg bisa 
dilakukan smntara orang adalah "memodifikasi" supaya kelihatan seragam (dan itu 
dari satu sisi bisa dikatakan relatif kontraproduktif bzw. nir guna) ).

Sebelum baca, saya selingi lagu nih:))
http://www.youtube. com/watch? v=2Q0HhWu6ZhQ


salam

widi


------------ --------- --------- --------- --------- --------- ------
Sisiphus
 
oleh: Gunawan Muhammad
 
DI atas tuts pianonya, Ibrahim Souss memainkan Le Myth de Sisyphe. Komposisi 
itu mencoba menghidupkan kembali gerak, kepedihan, dan absurditas nasib yang 
dialami manusia setengah dewa yang dihukum Zeus itu: ia, Sisiphus, harus 
mengangkut batu berat ke puncak gunung, dan tiap kali sampai di sana, batu itu 
akan berguling lagi. Dan ia harus kembali ke bawah. Ia harus mengangkutnya 
lagi. Dalam mitologi Yunani kuno itu, nasib itu tak pernah berakhir.
Souss memainkan karyanya itu ketika ia jadi direktur kantor PLO di Paris, 
sekitar 20 tahun yang lalu. Saya tak tahu di mana ia sekarang: seorang pianis 
yang piawai, komponis yang kreatif, yang dengan Le Myth de Sisyphe hendak 
menyatakan sesuatu tentang Palestina.
Ia lahir di Yerusalem pada 1945. Umurnya baru tiga tahun ketika orang Palestina 
diusir dari bagian kota itu setelah perang Arab-Israel tahun 1948. Setelah 
kekalahan Arab yang nista pada 1967, Ibrahim bergabung dengan PLO. Ia memilih 
karena ia harus memilih: ia tahu ia, bagian dari bangsa yang diusir dan 
diabaikan, tak bisa cuma bisa hidup merdeka dengan musik.
Sisiphus-nya pun mengandung ambiguitas. Di satu pihak, di dalamnya tergambar 
nasib orang Palestina yang tiap kali berharap, tiap kali pula kandas. Dari 1948 
sampai 2009, berapa generasi terus hidup terjepit dan dihinakan, berapa usaha 
perdamaian gawal?
Tapi, seperti kata Souss sendiri, Palestina bukan Sisiphus. ”Kami menolak 
menjalankan hukuman itu.” Hakikat Palestina, katanya pula, adalah penampikannya 
untuk dibuang.
Ambiguitas itu pula yang tersirat ketika Albert Camus menulis esainya dengan 
tema yang sama. Saya kira pengaruh Camus pada Souss cukup jelas, meskipun ia 
sampai pada kesimpulan yang berbeda.
Dalam tafsir Camus, kian lama kian tumbuh semacam simbiosis dalam diri Sisiphus 
dengan batu yang diangkutnya. Pada tokoh itu tampak, tulis Camus, sebuah wajah 
yang, seraya bekerja keras dan begitu dekat dengan batu, telah mengeraskan diri 
dan dunianya. Dari keadaan terkutuk dan dipenjara para dewa, ia akhirnya 
mengubah posisinya secara radikal. Kini nasibnya adalah miliknya. Ia lebih kuat 
ketimbang batu karang.
Sebuah sikap yang gagah, tentu—yang dengan itu juga menunjukkan perlawanan 
terhadap Zeus: raja dewa itu hendak menghinanya, tapi Sisiphus-lah yang kini 
menistanya, dengan menganggap hukuman itu tak relevan. Sejak saat itu, alam 
semesta tak punya lagi yang dipertuan.
Tapi kesimpulan Camus yang termasyhur, bahwa kita harus bisa membayangkan 
Sisiphus ”bahagia”, adalah kesimpulan yang bermasalah. Setidaknya bagi Souss. 
Dan yang pasti bagi Palestina. Heroisme yang tampak di sana memang memberikan 
semangat, tapi itu bukan kisah kepahlawanan yang menyenangkan. Di Palestina, 
pahlawan tak mati hanya satu kali, melainkan berkali-kali. Tiap kali sang 
syuhada tewas hidup pun bersinar, tapi sebentar, dan selamanya pedih.
Masalahnya, bisakah yang heroik dan yang pedih itu menggugah, di masa kita 
sekarang? Ketika Camus menuliskan esainya pada awal tahun 1940-an, ia tak 
mempersoalkan itu. Ia bertolak dari asumsi yang lazim pada zamannya: siapa saja 
akan melihat hukuman atas Sisiphus sesuatu yang tak bisa diterima dalam tatanan 
manusia, dan perlawanannya dengan demikian amat dahsyat. Tapi ”manusia”, 
siapakah dia sekarang? Samakah ia dengan ”siapa saja”?
Di Palestina, gerilyawan dan bocah-bocah, aktivis dan kakek-nenek, dengan 
segera tahu apa artinya ketidakadilan. ”Kau burung yang beruntung… ajari aku 
terbang mengatasi peluru, ajari aku merdeka,” begitulah kerinduan diucapkan 
dalam lagu yang digubah Rima Terazi, yang dinyanyikan anak-anak di kamp-kamp 
pengungsi. Kerinduan kepada sesuatu yang absen: keadilan, kemerdekaan, 
perdamaian. Kerinduan yang di sini berlaku bagi ”siapa saja”.
Tapi di Amerika dan Eropa, tampaknya ada kesulitan besar untuk melihat yang 
universal dalam kerinduan itu. Orang menyaksikan bagaimana museum Holocaust 
didirikan di mana-mana di kedua bagian dunia ”Barat” itu, sebagai tanda 
solidaritas kepada orang-orang Yahudi yang dibunuh dan diusir di Eropa pada 
zaman Hitler. Sementara orang bisa mencatat begitu sedikit simpati kepada orang 
Palestina yang ditundung dari tanahnya selama 60 tahun.
Mau tak mau, orang sampai pada kesimpulan bahwa yang-universal tidaklah satu. 
Ada yang menang dan yang kalah, ada yang berada dalam hegemoni dan yang masih 
tersingkir.
Tapi bila yang-universal ternyata tak satu, dan bahwa yang tampak sebenarnya 
akibat posisi hegemonik satu bagian masyarakat manusia dalam menilai, apa 
gerangan yang dapat membuat kita melihat manusia langsung sebagai sesama? Apa 
yang membuat kita tergerak untuk berbuat baik di mana saja dan kapan saja dan 
bagi siapa saja—sesuatu yang lahir dari yang disebut Kant sebagai das Faktum 
der Vernunft?
Atau ”faktum” itu jangan-jangan hanya fiksi? Kini, di Palestina yang diduduki 
Israel, aniaya seperti tak pernah bisa dihentikan. Kini ada bagian dari dunia 
yang tak merasa dituntut untuk berbuat baik ke mereka yang dinistakan. 
Sementara itu, ada juga yang hanya mau berbuat baik buat Palestina tanpa mau 
berbuat baik kepada mereka yang lain yang juga dianiaya.
Bila demikian, manusia akan hilang harap untuk jadi sesama….
Untunglah, compassion—perasaan ikut sakit ketika orang lain menderita—bukanlah 
sesuatu yang mustahil; kita mengalaminya sehari-hari, tanpa kita harus melalui 
pergulatan politik untuk merasa bertugas menolong orang lain.
Yang mencemaskan dari tragedi Palestina ialah bahwa pengalaman sehari-hari itu 
acap kali tenggelam. Yang memberi harapan ialah bahwa yang tenggelam tak pernah 
hilang total. Ia akan selalu kembali.
Mungkin macam Sisiphus.
~


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke