Sastra dan Peradaban (3)





Catatan Lepas Dari Diskusi Sastra dan Pemberadaban yang diselenggarakan Bale 
Sastra Kecapi, Kompas dan Bentara Budaya

 

Pada artikel sebelumnya Adab bukan Adab, Sastra Bukan Sastra
(Sastra dan Peradaban 2) telah dipaparkan satu kriteria untuk menilai bobot
susastra sebuah karya fiksi. Kontekstual, mendasar/mendalam, visioner dan
indah.



Menarik untuk coba meneropong lebih jauh tentang kriteria ini. Misal saja
tentang relativitas atau ambigu dari makna keindahan. Demikian pula perlu juga
diperhatikan bagaimana penilaian/apresiasi karya sastra terkait
kriteria-kriteria diatas



Kekaburan Konsep Keindahan



Chairil Anwar misalnya punya pandangan bahwa di dalam apresiasi karya sastra 
khususnya
sajak kita harus terlebih dulu mengerti pokok sambil mengingatkan jangan kita
melakukan analisa dengan perkakas bahasa saja. Menurutnya kita harus
menangkap pokok-nya dulu kemudian kita melihat bagian-bagian dalam hubungannya
dengan pokok ini. Menurutnya lebih lanjut dengan mengerti pokok kita bisa
menghargai karya seni, meskipun ‘pokok’ tersebut tidak menentukan nilai karya
tersebut. (dalam Membuat Sajak, Melihat Lukisan seperti di kutip Arif Budiman
–Chairil Anwar Sebuah Pertemuan, Wacana Bangsa ).



Saya juga ingin mencatat pandangan Arif Budiman sendiri di dalam buku yang sama 
tentang
makna keindahan. Dari pengakuannya Arif nampaknya tidak percaya lagi kepada
konsepsi-konsepsi tentang indah dan apa yang tidak. Ia bahkan memilih tidak
menggunakan kata tersebut, karena kekaburan artinya.



“Saya melihat bahwa sebuah karya seni menjadi ‘indah’ buat seseorang karena
sudah terjadinya pertemuan yang otentik antara seseorang dan dunia yang
diungkapkan oleh karya seni tersebut”, katanya lebih jauh.

 

Selanjutnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/03/logika-dan-rasa-bahasa-selamat-tinggal.html




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke