http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/03/25/4128.html

*Bersama Sri Mulyani dan Boediono
Presiden Bahas Persiapan untuk Menghadiri KTT G-20 di London Awal April*

*Jakarta*: Plt. Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank
Indonesia Boediono hari Kamis (25/3) sore, bertemu dengan *Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono* di Istana Negara untuk membahas persiapan keberangkatan
Presiden SBY yang akan menghadiri KTT G-20 di London awal bulan depan.
Selain itu, kepada Presiden, *Sri Mulyani* dan *Boediono* juga melaporkan
hasil-hasil setelah menghadiri KTT G-20 di tingkat menteri.

"Apa isu-isu yang dibahas masing-masing negara, perkembangan ekonomi dunia
terkini, reaksi dari ekonomi dunia dan bagaimana sikap Indonesia, serta apa
yang akan disampaikan di sana, didiskusikan secara baik dalam pertemuan kami
dengan Presiden tadi," jelas Sri Mulyani kepada wartawan, didampingi
Gubernur BI.

Kepada Presiden SBY, disampaikan juga mengenai upaya-upaya untuk menjaga
perekonomian dalam menghadapi krisis ekonomi global yang masih berlangsung.
"Upaya yang sedang kita rintis dengan Jepang, China dan berbagai negara agar
bisa memberikan lebih banyak pertahanan bagi perekonomian kita di dalam
mengantisipasi kemungkinan lamanya krisis global ini, karena banyak yang
mengatakan krisis ini akan berlanjut sampai 2010. Jadi berbagai upaya-upaya
bilateral kita lakukan, baik itu pada tataran APBN, budget, maupun pada sisi
kebijakan dan pengelolaan moneter dan neraca pembayaran," jelas Sri Mulyani.

Sementara itu, Gubernur BI Boediono menyampaikan kepada SBY mengenai
berbagai perkembangan terakhir dari sektor moneter dan perbankan. "Agar
beliau mendapatkan gambaran yang utuh nanti dalam pertemuan G20. Kita
sampaikan semua perkembangan terakhir dan kemudian kita bicara juga masalah
swap dan sebagainya, beliau ingin dengar dari kami detilnya bagaimana,"
jelas Boediono.

Sementara itu, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa Global Support Fund yang
disampaikan oleh Presiden SBY dalam pidatonya bulan November pada tingkat
Working Group IV, sudah disetujui. "Mengenai adanya suatu dukungan tambahan
dari bank-bank pembangunan regional dan bank dunia untuk menambah jumlah
support kepada negara berkembang dan income rendah dalam bentuk
pinjaman-pinjaman lunak. Angkanya antara 100-120 milyar dolar AS," kata Sri
Mulyani.

"Namanya tentu saja tidak disebut global support fund, tapi adalah tujuannya
agar negara-negara maju yang mau melakukan counter cyclicle dengan
pembiayaan defisit anggaran melalui lembaga-lembaga tersebut. Yang sudah
disampaikan di dalam tingkat Menteri Keuangan, ADB penambahan capitalnya
sebanyak 200 persen itu sudah disepakati, kemudian support utuk low income
country, emerging country, atau developing country yang diberikan melalui
tambahan pinjaman dari bank-bank pembangunan regional dan bank dunia antara
100-120 milyar dolar AS, tambahan dari resource IMF mencapai 500 milyar
dolar AS. Artinya, bertambah sekitar 230 milyar dolar AS untuk membantu
negara-negara yang menghadapi krisis likuiditas terutama negara-negara Eropa
Timur. Kemudian untuk lembaga pembangunan di Afrika maupun inter Amerika
masih akan dibicarakan lebih lanjut," lanjut Menkeu. (mit)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke