http://groups.yahoo.com/group/tionghoa-net/message/70659

Terima Kasih Kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Dalam Refleksi Kasus Nirmala Bonat di Kuala Lumpur, Malaysia

Nirmala Bonat adalah perempuan NTT yang merantau ke Malaysia sebagai
pembantu
rumah tangga, untuk menghidupi keluarga di Kupang. Ini cerita yang umum,
sebagaimana jutaan TKW migran yang bekerja di LN demi gaji yang lebih tinggi
:
di Singapore, Malaysia, Hongkong, Arab Saudi dll.

Nasib membawanya ke keluarga Hii Ik Ting and Yim Pek Ha, dengan 4 orang
anak, di
Villa Putera, apartemen kelas menengah atas di jl. Tun Ismail. Si suami
adalah
direktur perusahaan di KL, si istri adalah perempuan Cina pensiunan
pramugari
yang cantik semampai.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Nirmala Bonat, sampai ketika suatu
hari Nirmala keluar dari unit majikannya dan ditemukan satpam, lalu dibawa
ke
kantor polisi. Kala itu Nirmala luka sangat parah, nyaris seluruh badannya
melepuh, tangannya luka dan mukanya bengkak lebam. Jika ingin melihat
kondisi
Nirmala saat itu, ketik saja 'Nirmala Bonat' dan search dengan Google
Images.

Pada Mei 2004, kasus itu menjadi perhatian luas di Malaysia. Tak kurang dari
PM
Abdullah Badawi terkejut dengan kondisi Nirmala Bonat. Banyak pendapat dan
spekulasi bertebaran. Meskipun kondisi tubuh Nirmala sudah bisa menjadi
bukti
yang sulit dibantah, namun banyak pihak yang menyebarkan opini bahwa semua
luka
itu dilakukan oleh Nirmala sendiri.

Kebanyakan Cina Malaysia, apalagi yang pernah gondok dengan pembantunya yang
bolot, yang males, yang nyolong dll; didukung oleh koran2 berbahasa Cina
macam
Sin Chew Jit Poh, Nan Yang Xiang Bao dll - kukuh mendukung Yim Pek Ha,
bahkan
bersimpati pada si majikan ketimbang si pembantu yang sudah babak belur.

Di antaranya teori2 mereka :

- Nirmala Bonat gila. Maknya sendiri ngomong demikian.
- Nirmala saat gilanya kumat, menempelkan setrika panas ke badannya sendiri,
menyiram badannya sendiri dengan air mendidih. Membenturkan mukanya sendiri
ke
tembok sampai gigi2nya copot.
- Nirmala memalsukan umurnya dari 19 menjadi 25 tahun saat mengisi formulir
aplikasi kerja.
- Keluarga yang sebelumnya mempekerjakan Nirmala di Ipoh, memecatnya karena
suka
nyolong dan suka mencederai diri sendiri.

Meskipun dengan kondisi sakit jiwa begitu, nyatanya Nirmala dipekerjakan Yim
Pek
Ha berbulan2 di sekitar ke empat anaknya (2 balita), dan takkan lepas dari
keluarga itu jika dia tidak berani keluar dan ditemukan satpam.

Ketika banyak donasi mengalir untuk Nirmala sampai ratusan ribu Ringgit,
banyak
mereka mengatakan Nirmala sengaja melukai diri untuk cari donasi. Bahwa
sekarang
dia bisa hidup kaya tak usah kerja lagi dengan duit yang tak pernah bisa dia
bayangkan apalagi memilikinya.

Asal tahu saja, sebegitulah mentalitet mayoritas keluarga Malaysia itu
terutama
yang Cina, terhadap pekerja2 migran terutama pembantu. Mereka tak bisa hidup
tanpa pembantu, tapi menganggap pembantu setara budak yang tak perlu diberi
simpati.

Yim Pek Ha pada awalnya hendak ditahan di Kajang Prison, tapi menangis
meraung2lah serupa mau disembelih. Ditambah dukungan dari kelompok
masyarakat
pembelanya, akhirnya jaminan yang tadinya ditolak akhirnya disetujui sebesar
RM
85,000 sehingga dia tetap menghirup udara bebas.

Sidang di Magister Kuala Lumpur ini berjalan tertatih2 sejak 2004 sampai
akhir
2007 tanpa ada kejelasan. Sampailah ketika Presiden SBY tertarik mengikuti
kasus
ini dan minta bertemu dengan Nirmala Bonat dalam kunjungannya ke Kuala
Lumpur.

Pres. SBY dan ibu Ani Yudhoyono akhirnya bertemu Nirmala Bonat di Hotel
Marriot
pada Jan 2008. Presiden minta agar Pemerintah Malaysia menuntaskan kasus ini
dan
memberi keadilan bagi Nurmala. Sejak komentar itu, seolah2 pengadilan baru
balik
on track.

Pada April 2008, pihak terdakwa menghadirkan saksi ahli yang dicomot dari
klinik
di Melbourne, Dr. John Andrew Munro Gall, yang pernah memeriksa Nirmala
Bonat
selama beberapa jam. Dalam waktu singkat, sang Doktor bisa menyimpulkan
bahwa
Nirmala penderita personality disorder dengan kebiasaan membuat
self-inflicted
wound, dan semua lukanya yang mengerikan itu dia buat sendiri dengan bantuan
setrika panas, air panas, rokok menyala dll.

Sayangnya, majelis Hakim sudah tampak memihak korban akibat apa yang disebut
para pendukung Yim Pek Ha sebagai 'konspirasi tingkat tinggi untuk memuaskan
big
brother' (mungkin yang dimaksud adalah SBY atau bangsa Indonesia). Pada saat
Juli 2008, Hakim menolak kesaksian bahwa Nirmala Bonat membuat laporan palsu
soal majikannya - dari indikasi ini saja sebenarnya cukup jelas bahwa Hakim
sudah memihak Nirmala Bonat.

Akhirnya pada 27 Nov 2008, Hakim memutuskan bahwa luka2 tersebut tak mungkin
dilakukan sendiri oleh Nirmala dan menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara
untuk
Yim Pek Ha. Hukuman ini memang mengagetkan karena untuk kasus pembunuhan
banyak
yang lebih ringan daripada itu.

Yim Pek Ha, yang sampai detik ini tak menunjukkan penyesalan maupun rasa
bersalah, menangis sesenggukan lalu menyatakan naik banding. Meski hukuman
berat, tuntutan masyarakat menyebabkan hakim memberikan bebas dengan jaminan
sebesar RM 200,000. Suaminya ngga cukup cepat membayar jaminan itu sehingga
sang
mantan pramugari cantik terpaksa menginap semalam di penjara.

Pada 28 Nov 2008, sehari sesudahnya, Pres SBY memuji pengadilan Malaysia
atas
keputusan tersebut.

Kasus Yim Pek Ha dan Nirmala Bonat ini, meskipun terlihat sebagai kasus
penganiayaan PRT oleh majikan yang bukanlah hal baru; sebenarnya sarat
dengan
kepentingan politik.

Ada politik soal migran, dimana para pro migran worker menuntut perlindungan
lebih baik untuk buruh migran. Ada anti migran worker yang membuat opini
majikan2 macam Yim Pek Ha yang justru tersakiti.

Ada politik soal pemilih Cina, dimana pemerintah mesti memuaskan para
chinese
voters yang mayoritas adalah pendukung si ibu RT sadis ini.

Ada politik hubungan antar negara, karena status warga negara Nirmala dan
apalagi setelah campur tangannya SBY.

Dilihat dari situasi yang sedemikian panas dan banyaknya pro Cina Yim Pek
Ha/majikan, sebenarnya harapan keadilan untuk Nirmala sudah nyaris sirna
ditelan
opini semakin kuat bahwa Nirmala gila, suka nyiksa diri; dan banyak yang
yakin
Yim Pek Ha bakal lolos jika bukan karena SBY.

Sama dengan kasus David Hartanto Widjaja ini, meskipun magnitudenya ngga
besar,
juga anak ini hanya mahasiswa bukanlah pahlawan devisa macam Nirmala dan
para
pekerja migran di LN; tidak selayaknya kita biarkan satu nyawa hilang sia2.

Meskipun negara kita ini sudah sangat underdog, tapi semakin kita tidak
perjuangkan nama bangsa serta warga negara kita sendiri - negara2 lain akan
semakin bebas memperlakukan kita dengan seenaknya.

Terima kasih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas perhatian yang sudah
anda
berikan kepada kasus Nirmala Bonat. Efeknya sangat besar bagi para pekerja
migran kita di luar negeri sehingga para majikan akan berpikir seribu kali
sebelum dengan enteng menyakiti mereka.

Saat ini David Hartanto Widjaja mati dengan mengenaskan dengan cap pembunuh
dan
orang tuanya bagaikan semut kecil menghadapi institusi Nanyang Tech
University,
Kepolisian Singapura dan Negara Singapura yang sangat besar.

David Hartanto, sebagaimana Nirmala, adalah anak bangsa ini; dan siapa lagi
membela mereka jika bukan Presidennya.


Hormat Saya,

Kirim email ke