http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=6380

2009-03-28 
Sang Demagog


Mikhael Dua 



Pada Februari 2009, Michael Signer menerbitkan buku berjudul Demagoge: The 
Fight to Save Democracy from Its Worst Enemies. Signer adalah penasihat senior 
pada Center for American Progress. Pada pemilihan umum tahun lalu, ia 
dinominasi Partai Demokrat untuk menjadi Gubernur Virginia. Ia pernah 
menyelesaikan studi pada bidang politik di Berkeley dan buku ini merupakan 
hasil penulisan kembali disertasinya.

Buku ini ditulis sebagai kritik atas pelaksanaan demokrasi modern kita, dewasa 
ini. Istilah kunci buku ini adalah 'sang demagog' sebagai simbol dari pelaku 
politik dewasa ini yang membawa demokrasi ke arah yang tidak seharusnya. 
Sebagaimana halnya Socrates dan Plato, Signer mengidentifikasi 'sang demagog' 
sebagai sebuah nama yang tidak begitu harum. Ia identik dengan sekelompok 
pemimpin masyarakat yang muncul secara mendadak mengisi kekosongan kekuasaan 
yang ditinggalkan oleh elite negarawan yang berdedikasi. 

Dalam analisisnya mengenai perkembangan demokrasi dewasa ini, Signer menilai 
'sang demagog' menjadi ciri dari para pemimpin demokrasi kita. Dengan beberapa 
pengecualian seperti Boris Yeltsin di Russia yang berhasil menjatuhkan sistem 
Soviet, Lech Walesa yang menjatuhkan komunisme di Polandia, Hugo Chavec yang 
mengembangkan demokrasi sosialis menentang Amerika Serikat, sang demagog 
dinilai sebagai seseorang yang berbakat tiran. Cleon dari Athena dan George W 
Bush yang memaksakan proses demokrasi di Irak adalah dua contoh dari mereka 
yang berbakat tiran tersebut. Para demagog selalu berbicara tentang tuntutan 
kemanusiaan untuk kebebasan, namun dalam kenyataan mereka justru mengabaikan 
kebebasan itu sendiri.

Di tengah keraguan terhadap sang demagog, Signer mengajak kita untuk kembali 
pada inti pemikiran Plato, Alexis de Tocqueville, Leo Strauss, dan Hannah 
Arendt tentang demokrasi. Yang paling penting adalah Hannah Arendt, karena dia 
yang menegaskan bahwa demokrasi harus berkembang dalam kerangka sebuah 
konstitusi. Tanpa basis konstitusi, sang demagog yang menjadi pelaku dan 
sekaligus pendukung demokrasi dapat menjadi anarki.


Komunikasi Politik

Dalam perspektif Hannah Arendt inilah Signer mencemaskan munculnya demagog 
totaliter. Sama seperti gurunya, Signer yakin bahwa demagog yang totaliter 
selalu mematikan prinsip natalitas; prinsip yang menegaskan bahwa setiap orang 
memiliki kemampuan kreatif untuk melahirkan sesuatu yang baik bagi 
masyarakatnya. Sang demagog yang totaliter selalu mengalahkan natalitas dan 
membuatnya tidak berkembang. Mengutip apa yang dikatakan Arendt, ia menulis: 
"Siapa saja yang merindukan dominasi total akan melikuidasi semua spontanitas, 
yang menganggap setiap orang sebagai berbahaya." Setiap demagog memiliki 
kecenderungan tirani. Memang tidak semua tirani berangkat dari demagog, seperti 
Stalin, tetapi seseorang seperti Hitler memulai dirinya sebagai demagog kawakan.

Peringatan Signer ini memiliki relevansi, karena kita sedang berada pada masa 
kampanye. Dalam suasana multipartai seperti sekarang ini, setiap orang memiliki 
hak dan kesempatan yang sama untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, mulai 
dari mantan pejabat publik hingga penganggur. Komunikasi politik pun dibangun 
dengan cara bermacam-macam. Kunjungan dan silaturahmi menjadi agenda komunikasi 
politik yang memberi kesan tertentu kepada masyarakat. Politik dinilai sebagai 
sesuatu yang mulia. Semua orang seakan-akan terhipnotis dengan satu pandangan, 
kita adalah sama dalam politik, sama dalam berbicara, dan sama dalam demokrasi. 

Namun, politik di mana pun adalah sebuah kecerdikan yang menawan. Secara tak 
tersadarkan semua menjadi terpesona terhadap politik. Tuannya adalah hasrat 
akan kekuasaan yang dapat menyusup masuk dalam celah-celah nilai, gagasan, dan 
opini. Sang demagog yang ingin mengemukakan pikiran dan perasaan tentang bangsa 
yang sudah lebih dari setengah abad merdeka ini pun tak kuasa menyembunyikan 
hasrat akan kekuasaan tersebut. 

Dalam logika kekuasaan inilah rekayasa politik menjadi tak terhindarkan. Wacana 
atau kata-kata dapat menunjukkan peranannya menggantikan kekuasaan. Dengan 
memanfaatkan informasi, sang pemburu kekuasaan membangun citra. Dengan tingkat 
kecerdasan tertentu, ia meyakinkan pendengarnya bahwa ia selalu berpikir dan 
merasakan seperti mereka. Ia dapat meminjamkan suaranya kepada rakyat dan 
berperilaku sebagai perayu massa. Ia tidak akan pernah menegaskan pendapat 
pribadinya, tetapi pernyataan-pernyataannya mengalir bersama dengan pendapat 
pendengarnya. 


Ia memiliki kelenturan yang dibangun melalui konstruksi khazanah politik yang 
ambigu, supaya kata yang sama bisa ditafsirkan sesuai harapan pendengar yang 
menerimanya (Haryatmoko, 2007: 70)

Akibatnya, media tidak lagi independen. Dalam memberitakan kejadian, ia dapat 
menjadi kaki dan tangan 'sang demagog'. Meminjam konsep Jacques Ellul, pemikir 
asal Prancis, kita dapat mengatakan, informasi adalah sarana propaganda, sarana 
untuk merayu dan sekaligus menghancurkan kebebasan dan resistensi para 
pendengarnya. Informasi tidak pernah netral lagi, tetapi selalu menjebak. 
Merayu tidak lagi menghidupkan, melainkan mematikan dan berubah menjadi tipu 
daya. Oleh karena itu, tidak heran jika rakyat dan para pendengar dengan 
nada-nada penuh kecemasan bertanya: siapa dan partai apa yang akan kami dukung 
yang tidak lagi membuat kami terlempar dari Bumi Pertiwi ini tanpa menikmati 
hasil kerja keras kami?


Peranan Media

Sejak pertumbuhan pemerintahan dan negara-negara demokratis, warga negara 
memiliki kebebasan penuh. Rakyat memiliki logika dan pilihan sendiri. 
Kecondongan turunnya partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum hampir di 
seluruh negara maju menunjukkan bahwa politik dalam arti pergulatan 'sang 
demagog' tidak lagi menjadi prima. Sebaliknya, menjadi sebuah arena transaksi 
gagasan antara warga.

Dalam suasana baru ini, media dapat memainkan peranan sebagai pembentuk opini. 
Namun, membentuk opini dalam suasana munculnya para demagog perlu diterjemahkan 
dalam perannya membangkitkan sikap kritis. Berita harus mencerminkan peran juru 
bicara keprihatinan masyarakat terhadap para pemimpin mereka. Maka toleransi 
perlu diciptakan. Toleransi dalam situasi tanpa harapan adalah memberikan 
kepada masyarakat harapan bahwa suatu ketika sang pemimpin akan muncul di 
tengah pergumulan para demagog.

Untuk itu, media harus adil dalam pemberitaannya. Semua diperlakukan sama. 
Ketidaksamaan perlakuan bisa ditoleransi sejauh menguntungkan bagi yang paling 
tidak beruntung. Korban bisa dikenali dengan menjawab pertanyaan berikut: siapa 
paling tidak diuntungkan dari setiap pemberitaan? Memang jawabannya tidak 
sesederhana itu, karena dalam media bukan hanya idealisme informasi yang benar, 
namun juga berbagai kepentingan ikut mencampuri pengambilan keputusan.


Penulis adalah Kepala Pusat Pengembangan Etika Atma Jaya, Jakarta



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke