Refeleksi : Pemerintah akan pasti menang, seandainya  digugat  tanggung 
jawabnya, karena alpa melindungi  keselamatan  penduduk dari malapetaka 
berdasarkan  usulan  yang diajukan 3 tahun lalu. Kasus lumpur Lapindo yang 
sampai saat ini tak selesai adalah salah satu contoh.

http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=53946&ik=4


Situ Gintung Jebol, Pemerintah Digugat 

Sabtu 28 Maret 2009, Jam: 9:49:00 
TANGERANG (Pos Kota) - Tanggul penahan Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, 
Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (27/3) subuh, jebol. 
Ratusan juta kubik air tumpah bagaikan banjir bandang menghancurkan dua ratus 
lebih rumah, menenggelamkan sedikitnya 58 nyawa manusia dan menghanyutkan 
puluhan mobil serta sepeda motor. 

Warga menganggap peristiwa tersebut sebagai musibah yang harus diterima. Namun 
tak sedikit pula yang menilai bencana ini seharusnya tak perlu terjadi dan 
mereka siap menggugat pemerintah dan Pemda Kabupaten Tangerang. Pasalnya warga 
sejak 3 tahun lalu telah mendesak pemda setempat untuk memperbaiki situ 
tersebut. 

"Perbaikan tanggul atau pondasi sekeliling situ yang mengaliri air ke anak Kali 
Pesanggrahan sudah diminta warga sejak tiga tahun lalu tapi tak pernah 
ditanggapi serius," tutur Yadi, warga Poncol, Cirendeu. 

Ia pun mendesak pemerintah harus bertanggung jawab terhadap musibah ini. 
Menurut Yadi, kondisi tanggul Situ Gintung yang dibangun tahun 1923 itu memang 
sudah mengkhawatirkan dan mendesak untuk diperbaiki. Terutama saluran air di 
bagian bawah situ yang berperan mengalirkan air dari danau ke anak Kali 
Pesanggrahan. 

"Kondisi tanggul susah sangat mengkhawatirkan karena sejak jaman Belanda belum 
pernah diperbaiki," kata Maruf, warga RT 01/08, Kel. Gintung, Ciputat, yang 
sudah 28 tahun lebih tinggal di pinggir situ. 

Saluran air di bawah situ menjadi satu-satunya jalan mengalirkan air ke anak 
Kali Pesanggrahan jika debit air telah melampaui batas. Maka ketika hujan deras 
pada Kamis (26/3) melanda kawasan tersebut, danau yang berkapasitas 625 juta M3 
itu tak lagi mampu menampungnya. Saluran di bawah situ pun amblas dan tanggul 
penahan situ setinggi 25 meter jebol. 

Warga mengaku heran mengapa pemerintah tak tanggap dengan kondisi tanggul yang 
sudah dilaporkan itu. Parahnya, kata Ma'ruf, sejak setahun lalu sekeliling situ 
dibangun jalan setapak untuk jogging dan rekreasi yang diduga membuat tanggul 
semakin lemah. 

"Dulu jika situ meluap, air bisa mengalir ke irigasi warga. Tapi akhir-akhir 
ini tak bisa lagi. Air hanya bisa keluar lewat satu jalan yaitu gorong-gorong 
di bagian bawah yang kondisinya sudah tua," katanya. 

Warga di tiga kampung yang terkena terjangan air bah dari Situ Gintung ini 
yakni Kampung Gunung, Poncol dan Situ Gintung, juga meminta Pemda Kabupaten 
Tangerang bertanggung jawab atas segala kerugian yang diderita warga. 

"Kami siap menuntut Pemda Kabupaten Tangerang agar secepatnya membangun 
rumah-rumah kami, tentunya setelah tanggul itu diperbaiki," kata Ny. Intan, 
warga perumahan Pratama Hill, Cirendeu, Ciputat. 

Intan mengaku seluruh perabot rumahnya baik elektronik maupun kendaraan pribadi 
terendam air. "Untuk mobil mungkin masih bisa melalui asuransi, tapi rumah dan 
barang-barang lain bagaimana?" imbuhnya. 

Slamet Daryoni, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, 
mengatakan berbagai bencana yang ada akibat kelalaian manusia. "Alam 
dieksploitasi sedemikian rupa tanpa memperhatikan lingkungan,"katanya. 

Ia menyebut berubahnya fungsi lahan hijau untuk bisnis dan permukiman mewah 
menyebabkan bencana di mana-mana. "Kita juga melihat betapa hutan di hulu 
sungai dibabat untuk pemukiman. Akibatnya ya banjir di mana-mana. Sudah 
saatnya, pemerintah mengatur masalah tersebut,"tandasnya. 

Kasus jebolnya tanggul Situ Gintung, harus menjadi pelajaran berharga bagi 
pemerintah 

86 TAHUN BELUM PERNAH DIRENOVASI 
Walikota Tangerang Selatan HM Shaleh yang ditemui di lokasi musibah menuturkan 
seputaran situ yang memiliki luas 21,4 hektar sejak tahun 2008 telah 
ditinggikan dan ditanami pohon oleh pemerintah pusat dengan memanfaatkan dana 
pencegahan banjir. Dananya mencapai Rp125 miliar untuk seluruh wilayah 
Jabodetabek. Namun, diakuinya, tanggul Situ Gintung yang usianya sudah 86 tahun 
itu tidak direnovasi. Sementara pejabat PU Pengairan Propinsi Banten, Win 
Maryono, mengutarakan sesuai perintah Menteri PU pintu air Situ Gintung yang 
jebol akan dibangun kembali. "Besaran anggarannya belum tahu, tetapi yang 
penting segera diperbaiki dahulu." 

Menanggapi peristiwa ini, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, mengatakan 
pihaknya telah menugaskan tim pengaman bendung untuk mengevaluasi kondisi 
seluruh situ yang ada di kawasan Jabodetabek. 

"Jumlah situ yang berada Jabodetabek mencapai lebih dari 200 buah," kata 
menteri usai meninjau Situ Gintung kemarin. 

Djoko menegaskan tidak ada persoalan terkait dana penanganan darurat maupun 
permanen. "Departemen PU mempunyai cukup dana untuk melakukan kedua hal 
tersebut," jelasnya. 

Menurut Kepala Balai Wilayah Sungai Cidurian-Cisadane Provinsi Banten, Djoko 
Suryanto, Situ Gintung tahun 2008 termasuk dari 11 situ yang direhabilitasi. 
Hanya saja, dalam skala kecil berupa perkuatan tepi situ, sebagai pengamanan 
dari longsor. 

Menurutnya, Situ Gintung ini sedikit berbeda dengan kebanyakan situ-situ yang 
ada di Jabodetabek. Bedanya situ-situ lain tidak didesain sebagai bendungan, 
melainkan hanya tempat penampung air. 

Perbaikan darurat terhadap jebolnya Situ Gintung dilakukan dengan menggunakan 
bronjong dan karung pasir. Sedangkan perbaikan permanen diperkirakan akan 
selesai dalam waktu satu tahun. "Saat ini karung-karung pasir dan bronjong 
sudah ada di lapangan, upaya penanganan darurat akan mulai dilakukan hari ini 
juga," kata Djoko Kirmanto. 

BAGAIKAN TSUNAMI DI ACEH 
Musibah jebolnya tanggul Situ Gintung digambarkan warga bagaikan tsunami kecil. 
"Saya merasa seperti tsunami di Aceh saja," kata Ny. Kardiah, 40, warga Poncol. 

Wanita ini mengaku saat air bah meluluhlantakkan rumahnya, ia baru saja 
menunaikan salat subuh. "Habis salat saya bikin nasi goreng buat sarapan anak. 
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras sekali." 

Ia sambil menggandeng anaknya lalu berlari menyelamatkan diri. Dari tempat yang 
lebih tinggi ia melihat arus air sangat deras dan tingginya mencapai 3 meter 
langsung menyapu apa saja yang ada di depannya. 

Terjangan ratusan juta kubik air itu bahkan langsung meruntuhkan rumah 
bertingkat 2 milik Mulyadi yang berjarak 50 meter dari Situ Gintung. 
Selanjutnya ratusan rumah di RT01, 02, 03, dan 04 di RW 08 Kelurahan Cirendeu, 
Kecamatan Ciputat, yang berada di bawah situ sepanjang 2 kilo meter lebih itu 
tersapu begitu saja bagaikan sampah sungai. 

TK Paud Muhammadiyah, Kampus STIE Ahmad Dahlan dan gedung rektorat dan sejumlah 
fakultas di Universitas Muhammadiyah juga diobrak-abrik oleh derasnya air bah 
termasuk rumah-rumah mewah di kompleks Cirendeu Permai, Perumahan Permata Hill 
dan Cirendeu Elok. 

Teriakan minta tolong yang memilukan pun menggema bersamaan dengan menerobosnya 
air ke rumah-rumah penduduk. Setengah jam kemudian, ketika matahari mulai 
menampakkan sinarnya, barulah terlihat pemandangan yang menyedihkan. 

Mayat-mayat terlihat nyangkut di pepohonan dan tertimpa reruntuhan rumah. Mobil 
dan motor terbawa arus hingga ratusan meter dan nyangsang di berbagai tempat 
seperti pohon atau atap rumah warga. Ratusan warga terlihat panik dan berlarian 
meyelamatkan diri. 

Di antara puing-puing bangunan dan lumpur serta batu yang berserakan itu, dua 
buah mesjid yakni Attaqwa, Al Muhajirin, dan satu musala Nurul Iman ternyata 
masih berdiri kokoh. 

Kerugian akibat musibah ini diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah. Korban 
yang meninggal dunia hingga pukul 21:00 tercatat 58 orang, 170 luka-luka dan 
puluhan orang masih dalam pencarian. 

"Bagi warga yang rumahnya rusak akan diberi bantuan dana oleh pemerintah pusat. 
Untuk rumah permanen Rp30 juta dan rumah semi permanen Rp15 juta. Kita akan 
data dulu," kata Walikota Tangerang Selatan HM Shaleh. 

KRONOLOGI KEJADIAN 
o Pukul 14:00 - 18:00 Kamis (26/3) hujan deras mengguyur sekitar lokasi 

o Pukul 19:00 air mulai naik memenuhi situ 

o Menjelang malam, debet melimpasi tanggul 

o Pukul 00:00 tanggul mulai tergerus dan retak 

o Pukul 03:00 tanggul jebol, jembatan penahan ambrol. Sekitar satu juta meter 
kubik air bah dari Situ Gintung menerjang ratusan bangunan yang ada di 
bawahnya. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke