CINTA BERLATAR BELAKANG KERUSUHAN MEI 1998
(Resensi Film "May")
 
Oleh Satrio Arismunandar
 
Saya berkesempatan menonton film May, yang diputar untuk kalangan terbatas di 
gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 24 Maret 
2009. Film garapan Flix Pictures dan hasil besutan sutradara Viva Westi ini 
memang istimewa. Temanya saja sudah tak biasa, di luar arus komersial utama, 
yang lebih asyik dengan tema horror atau cinta remaja. 
 
Meskipun bercerita soal cinta, setting-nya adalah peristiwa nasional dramatis, 
yang mengawali jatuhnya rezim Soeharto. Yaitu, kerusuhan Mei 1998, yang 
melibatkan aksi pembakaran, perusakan, dan penjarahan terhadap rumah dan harta 
milik warga etnis Tionghoa, sehingga banyak di antara mereka yang mengungsi ke 
luar negeri. Peristiwa tragis sekaligus traumatis ini memisahkan sepasang 
kekasih, gadis etnis Tionghoa, May (diperankan secara apik oleh Jenny Chang) 
dan pemuda pribumi Antares (diperankan oleh Yama Carlos). 
 
Sejumlah pemain kawakan turut memperkuat film ini, seperti Lukman Sardi 
(Gandang), Ria Irawan (istri Gandang), Niniek L. Karim (mertua Gandang), Tio 
Pakusadewo (Harriandja), Tutie Kirana (ibu May), Jajang C. Noer (perawat), 
Andre Pieter (jurnalis asing), dan aktris Malaysia, Zahida Rafiq (teman May). 
Syuting film May ini dilakukan di beberapa kota, seperti: Jakarta, Semarang, 
Yogyakarta, Kuala Lumpur, Malaka, dan Genting Highland (Malaysia).
 
Karena diputar pada masa kampanye pemilu legislatif 2009, dan di antara pihak 
pengundang terdapat institusi seperti CSIS (Center for Strategic and 
International Studies), semula saya mengira acara pemutaran film –yang berlatar 
belakang kerusuhan Mei 1998-- ini bermotif politis. 
 
Soalnya, sudah bukan rahasia lagi, dalam kasus kerusuhan Mei 1998, sejumlah 
petinggi militer --seperti Jenderal TNI Wiranto dan Prabowo Subianto-- dituding 
oleh sebagian kalangan harus bertanggung jawab, atas tidak jelasnya penanganan 
kerusuhan pada waktu itu. Keduanya kini jadi pemimpin parpol yang berlaga di 
pemilu, bahkan dimajukan oleh partainya (Hanura dan Gerindra) sebagai bakal 
calon Presiden.
 
Tetapi, sesudah menonton filmnya, saya tidak berpendapat demikian. Sebabnya 
sederhana. Peran atau ketiadaan peran militer dalam kerusuhan Mei 1998 tidak 
tampak sama sekali di film ini. Bahkan kerusuhan Mei itu sendiri tidak jelas 
sebab musababnya ataupun pokok permasalahannya. Tidak ada dokumenter nyata dari 
kerusuhan Mei yang disisipkan di film ini, yang seharusnya bisa memberi efek 
dramatis. Padahal, saya yakin banyak sekali gambar nyata yang bisa ditampilkan, 
jika sutradara menghendaki. 
 
Penonton  hanya disuguhi gambar-gambar tersirat tentang adanya kerusuhan, 
tetapi itu pun sangat sumir. Jika saya adalah warga asing dan bukan warga 
Jakarta, yang pada Mei 1998 sempat mengalami langsung suasana ketegangan waktu 
itu, pastilah saat menonton film ini saya akan terbengong-bengong, karena tidak 
paham atau tidak bisa menghayati setting cerita.
 
Film yang skenarionya ditulis Dirmawan Hatta ini memang tidak mencoba 
merekonstruksikan kerusuhan Mei, tetapi hanya menjadikan peristiwa kelam itu 
sebagai latar belakang. Pokok ceritanya adalah tentang kehancuran, rasa 
kehilangan, penderitaan, tetapi juga pemaafan, penyembuhan luka, dan kembalinya 
kehidupan melalui cinta. Viva Westi sengaja dipilih menjadi sutradara, karena 
ingin menghadirkan sudut pandang perempuan dalam film ini. Dari segi ini, ada 
poin positif yang layak kita apresiasi.
 
Namun, kelemahan film ini adalah pacing-nya yang sangat lambat. Kalau bukan 
karena saya mantan aktivis mahasiswa, yang sedikit-banyak merasakan keterkaitan 
emosional dengan peristiwa Mei 1998, mungkin saya tak akan sabar menonton film 
ini sampai habis. 
 
Selain itu, terasa ada “kegamangan” dari pembuat film ini. Di satu segi, ada 
keinginan untuk mengangkat kasus tragedi Mei 1998, yang telah memakan banyak 
korban manusia itu, sebagai peristiwa bersejarah yang tidak sepatutnya 
dilupakan dan tidak boleh berulang. Namun, di segi lain, juga ada kekhawatiran 
bahwa jika kasus itu diangkat terlalu nyata, justru akan membangkitkan kembali 
trauma, kepedihan, dan kegetiran, yang terutama dirasakan oleh warga etnis 
Tionghoa. 
 
Karena tarik-menarik dua pendekatan yang tak tuntas ini, maka hadirlah film May 
seperti bentuknya yang sekarang ini. Kisah cinta dengan setting serba samar. 
Film ini mungkin terasa spesial untuk kalangan tertentu , yang secara emosional 
dan fisik pernah menjadi bagian aktual dari setting peristiwa Mei 1998. Namun, 
mungkin tidak akan terasa menggigit bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki 
kenangan historis atau emosional terhadap peristiwa itu. Bagi mereka, ini 
seperti kisah cinta biasa.
 
Film berdurasi sekitar 100 menit ini sebetulnya semula direncanakan dirilis 
pada Juni 2008, tapi sampai saat ini belum diputar di bioskop komersial “karena 
satu dan lain hal.” Tampaknya sejumlah pihak khawatir, tema khusus film ini 
membuatnya masih “terlalu peka” untuk ditayangkan pada 2008. 
 
Namun, sampai resensi ini saya tulis, Maret 2009, juga belum jelas kapan film 
ini akan diputar secara meluas di gedung-gedung bioskop. Sayang sekali. 
Bagaimanapun juga, saya berpendapat, film May sangat layak ditayangkan dan 
diapresiasi oleh masyarakat, karena apapun juga ia mencerminkan wajah kita, 
wajah Indonesia.
 
Jakarta, 31 Maret 2009
 





Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke