Salam,

Memperingati Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day) 8 Maret dan 
Hari Kartini 21 April, Komunitas Salihara menyelenggarakan beberapa acara 
seputar perempuan yang masuk dalam program: Pameran Seni Rupa, Sastra, Diskusi, 
Tari, Festival Film, Musik dan Kuliah Umum.

Enam Pekan Perempuan ini diawali dengan pementasan teater-tari Gathik Glindhing 
oleh Kelompok Sahita di akhir Maret lalu.

Selanjutnya rangkaian acara bertema Enam Pekan Perempuan ini dilanjutkan di 
bulan April ini dengan Pameran Seni Rupa 10 Perupa Perempuan sebagai acara 
pembuka. Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 3 hingga 17 April 2009 di 
Galeri Salihara. Pameran ini menampilkan lukisan, patung, obyek, dan instalasi 
karya-karya sepuluh perupa perempuan: Ay Tjoe Christine, Ayu Arista Murti, 
Arahmaiani, Astari, Dolorosa Sinaga, Mella Jaarsma, Theresia Agustina, 
Titarubi, Wara Anindyah dan Yani Mariani, yang kurang lebih dalam kurun satu 
dekade ini  karya-karyanya banyak diperbincangkan. 

Bersama pameran ini kami juga mengundang sejumlah penulis perempuan berlatar 
jurnalis, novelis, aktivis, esais, kurator, untuk menulis dari pelbagai sudut 
mengenai karya-karya yang dipamerkan, seperti: Alia Swastika, Avianti Armand, 
Ayu Utami, Farah Wardani, Isma Sawitri, Kurie Suditomo, Laksmi Pamuntjak, Linda 
Christanty dan Nukila Amal.

Dan anda kami undang untuk menghadiri pembukaannya yang akan digelar pada hari 
Jumat 3 April pukul 19:00 WIB di Galeri Salihara.

Di hari yang sama, pukul 20:00 WIB, (dan keesokan harinya, Sabtu 4 April 2009) 
kami mengadakan pentas 10 Perempuan-Sastrawan Baca Karya di Teater Salihara. 
Mereka adalah: Abidah El-Khalieqy, Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, 
Helvy Tiana Rosa, Inggit Putria Marga, Linda Christanty, Nenden Lilis A., 
Nukila Amal, dan Oka Rusmini. Dengan kecenderungan dan pencapaian 
masing-masing, para sastrawan ini membuktikan bahwa karya mereka telah 
berbicara dengan fasih dan nafas yang panjang kepada khalayak pembaca sastra 
kita.

Pada hari Sabtu tanggal 4 April 2009 pukul 16:00 WIB di Serambi Salihara kami 
akan mengadakan diskusi “Mengkaji Serat Centhini”. Serat ini merupakan sebuah 
mahakarya sastra Jawa abad ke-19, Centhini dalam cetakan aslinya memiliki 4.200 
halaman, 722 tembang, 2.000 bait dalam 12 jilid. Kitab ini memuat dongeng, 
kearifan lokal, sejarah, doktrin agama, erotisme, seksualitas, dan kesenian 
yang tersebar luas dan diyakini masyarakat pada waktu itu yang kemudian 
dikumpulkan oleh para sastrawan Keraton. Namun, karya agung ini lebih banyak 
dicurigai daripada dikaji, disebut buku cabul yang merekam praktik dan moral 
tak luhur.

Tak banyak diketahui, seorang tokoh Masyumi dan cendekiawan muslim H. M. 
Rasjidi memperoleh gelar doktor dari Universitas Sorbonne Prancis dengan 
disertasinya tentang Centhini, Considerations Critique du Livre de Centhini 
(Pertimbangan Kritis tentang Centhini). Melalui H.M. Rasjidi-lah Elizabeth D. 
Inandiak mengenal Serat Centhini dan mempelajarinya selama bertahun-tahun. 
Inandiak kemudian menyadur Serat Centhini—menafsir, meringkas, dan 
menerbitkannya sebagai Centhini, Kekasih yang Tersembunyi yang ia sebut 
“Centhini abad ke-21”. Ikuti diskusinya dengan Elizabeth D. Inandiak—ahli 
sastra asal Prancis, penyusun buku Centhini, Kekasih yang Tersembunyi—yang akan 
mengulas Serat Centhini sebagai warisan karya sastra, dan Dra. Junanah, MIS, 
dosen bahasa Arab Fakultas Ilmu Agama Islam di Universitas Islam Indonesia 
(UII) Yogyakarta yang akan mengulas relasi Islam dan Kejawen dalam Serat 
Centhini dengan moderator Nong Darol Mahmada.

Kegiatan seni lain yang tak kalah menariknya adalah produksi multimedia IMME. 
Berlangsung selama 11 hari (13-23 April 2009), produksi ini melibatkan seniman 
rupa, penulis, pemusik, dan pembuat film; beberapa di antaranya adalah: Marij 
Nielen, Nanette Danckaarts, Sylvia Volkert dan Laksmi Pamuntjak.

Produksi ini bermula dari hasrat menghidupkan sesosok karakter yang bisa 
diidentifikasi oleh khalayak penonton seluas mungkin. IMME adalah “jiwa 
manusia” dari abad ke-21 dan bergerak di sebuah dunia antah-berantah yang tak 
dapat ditentukan. Pertanyaannya di sini adalah apakah para penonton dari 
negeri-negeri dan latar belakang budaya yang berbeda (Belanda, Indonesia, 
Irlandia, Polandia) akan memberi tanggapan serupa. Dengan sendirinya proyek ini 
adalah juga sebuah studi identifikasi-diri orang-orang dari latar belakang 
etnis yang berbeda-beda terhadap sebuah karakter imajiner di luar si 
penciptanya. Proyek IMME di Jakarta—sebagai bagian dari keseluruhan proyek yang 
berlangsung di sejumlah negara—terdiri dari lokakarya, kegiatan melukis dan 
berinteraksi dengan khalayak di ruang publik, serta pembuatan film dokumenter. 
Produksi ini ditutup dengan sebuah pertunjukan multimedia yang diselenggarakan 
pada hari Kamis 23 April 2009 pukul 20:00 WIB di
 Serambi Salihara.

Pada tanggal 14-15 April 2009 pukul 20:00 WIB di Teater Salihara, tampil dua 
nomor tari karya Andara “Anggie” Firman Moeis: “………” dan It’s Me. It’s Me 
(Inilah Aku), yang telah ditampilkan di beberapa festival tari, terinspirasi 
oleh kehidupan remaja perempuan di kota metropolitan, yang mengalami kesulitan 
dalam pertumbuhan menjadi perempuan dewasa. Di balik gaya hidup metropolitan, 
banyak masalah muncul, terutama dari keluarga, yang penyelesaiannya terpulang 
pada diri masing-masing. Sementara itu, “………” merupakan karya terbaru Anggie; 
menggambarkan kekosongan yang terjadi pada manusia modern di tengah kehidupan 
kota Jakarta yang heterogen, yang terilhami pengalaman pribadi sang 
koreografer, dan dikembangkan menjadi pengalaman universal.

Pementasan tari berikutnya adalah Three Sisters, yang dibawakan oleh Pappa 
Tarahumara Dance Company asal Jepang. Karya ini menggambarkan secara manis tiga 
perempuan bersaudara yang sedang bergulat dengan kebosanan dalam menghadapi 
lika-liku keperempuanan; identitas keperempuanan, kematangan pribadi, serta 
obsesi orang-orang Jepang terhadap budaya kaum muda. Tragedi komik eksentrik 
ini, yang dinarasikan melalui koreografi yang dinamis, merupakan sebuah karya 
yang berskala luas dan multidisiplin. Berlangsung pada tanggal 18-19 April 2009 
pukul 20:00 WIB di Teater Salihara, pementasan ini merupakan sebuah kerjasama 
antara Yayasan Kelola dan Komunitas Salihara.

Program Enam Pekan Perempuan akan ditutup dengan sebuah acara besar: V Film 
Festival 2009. Festival film perempuan internasional ini berlangsung pada 
tanggal 21-26 April 2009, meliputi acara pemutaran film dari 10 negara, pameran 
komik dan konser musik, diskusi, kuliah umum serta lokakarya yang melibatkan 
nama-nama besar di dunia film perempuan seperti Nia Dinata. Festival ini 
merupakan sebuah kerjasama antara Kalyanashira Foundation, Jurnal Perempuan, 
Kartini Asia Network, dan Komunitas Salihara.

Di samping Enam Pekan Perempuan, Komunitas Salihara juga menyelenggarakan dua 
program menarik lainnya. Acara pertama, konser jazz bersama “Pitoelas Big 
Band”. Merupakan salah satu grup jazz yang kuat, Pitoelas terdiri dari sejumlah 
pemusik profesional terbaik: pemain saksofon dan penggubah Donny Koeswinarno; 
pemain piano, penyusun aransemen dan penggubah, Irsa Destiwi; pemain 
klarinet/saksofon, Eugen Bounty; pemain trombone, Enggar Widodo; dan mereka 
yang sudah dikenal luas dalam komunitas musik jazz di Indonesia. Saksikan 
sendiri alunan dan ritme segar, cantik sekaligus keras dari Pitoelas, pada 
tanggal 9 April 2009 pukul 20:00 WIB di Teater Salihara.

Acara kedua adalah kuliah umum “Politik Mikro, Pembangkangan Warga, Perubahan”, 
pada tanggal 22 April 2009 pukul 19:00 WIB di Serambi Salihara. Bagaimana 
politik mikro menjadi alternatif bagi politik kepartaian yang kini membawa 
disilusi publik? Bagaimana pula “pembangkangan warga” bisa menjadi unsur yang 
konstruktif dalam proses perubahan sosial-politik secara kualitatif? Bagaimana 
kaitan antara perubahan pada tingkat lokal dengan situasi global saat ini? 
Ikuti paparan Alan Fowler (pengajar di Institute for Social Studies, Den Haag, 
Belanda), penggagas ide Civic-Driven Change (Perubahan Oleh Warga) yang 
menawarkan perspektif alternatif tentang perubahan sosial-politik. Kuliah umum 
yang akan disampaikan dalam bahasa Inggris ini adalah sebuah kerjasama antara 
Komunitas Salihara dan Hivos.

Oleh karena itu, jangan lewatkan program-program menarik Komunitas Salihara 
pada bulan April 2009 ini. Untuk informasi lebih lengkap anda bisa kunjungi 
website kami: www.salihara.org. Atau, bisa langsung hubungi Asty 0817-999-5057, 
Laly 0812-8008-9008, atau Nike 0818-0730-4036 untuk pemesanan tiket.

Salam hangat,

Rama Thaharani

Public Relations Komunitas Salihara

Komunitas Salihara Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520.

Tempat parkir terbatas

http://www.salihara.org/main.php?type=detail&module=news&menu=child&parent_id=4&id=29&item_id=655



      Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih 
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. 
Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke