Dalam 10 tahun terakhir 2 kali Indonesia terpuruk akibat kebijakan Ekonomi 
Kapitalis Neoliberalis yang membiarkan kekayaan alam kita dinikmati oleh asing 
dan ekonomi yang bertumpu pada hutang dan investor luar negeri.

Indonesia kaya raya dan tidak pantas miskin jika para pemimpinnya tidak 
membiarkan kekayaan alam kita dirampas oleh asing.

Oleh karena itu kita harus memilih parpol dan capres yang mengusung Ekonomi 
yang pro rakyat dan Kemandirian nasional sehingga kekayaan alam bisa dinikmati 
100% oleh rakyat Indonesia.

Sebaik apa pun capres atau parpol, jika sistem ekonomi yang diambil salah, maka 
ekonomi Indonesia akan hancur seperti sekarang ini. Ini sama dengan orang 
pintar yang mengambil bis dengan jurusan salah, ya akan nyasar.

Sebaiknya meski kualitas biasa saja, tapi jika sistem ekonomi yang diambil 
benar, insya Allah hasilnya akan lebih baik.



===

Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490

ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900

Informasi selengkapnya ada di:

http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam?

Kirim email ke: [email protected]





Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info: 
http://agusnizami.wordpress.com

--- Pada Sel, 31/3/09, andre andreas <[email protected]> menulis:

Dari: andre andreas <[email protected]>
Topik: [ekonomi-nasional] G20: Skenario Menyelamatkan Krisis Kapitalisme 
Neoliberal
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 31 Maret, 2009, 1:01 PM











    
            



Indonesia Kembali dalam Jebakan Utang dan Pasar Bebas



Pernyataan

Sikap



Gerakan

Rakyat Lawan Neokolonialisme- Imperialisme (GERAK LAWAN) 



 



Lampiran 1



The London

Summit :  Sebuah Rencana Kejahatan



http://lenteradiata sbukit.blogspot. com/2009/ 03/gerak- lawanthe- 
london-summit- sebuah.html



 



Lampiran 2



Pilihan Metode

Penyelesaian Krisis 



http://lenteradiata sbukit.blogspot. com/2009/ 03/gerak- lawan-pilihan- 
metode-penyelesa ian.html



 



Pertemuan

negara-negara G-20 dalam The London

Summit akan segera diselenggarakan pada tanggal 1 – 2 April 2009.. Tentunya 
agenda forum 20 pemimpin

negara-negara maju dan berkembang tersebut punya banyak tawaran. Beberapa pihak

pun akhirnya berharap banyak akan adanya solusi berbagai macam krisis melalui

forum ini. Namun karena secara garis besar masih tetap dalam kerangka kebijakan

kapitalisme- neoliberal, tawaran dan harapan sepertinya akan jauh api dari

panggang. 



Hal tersebut kami tuangkan dalam pernyataan sikap kami di bawah ini: 



Pertama, kami menyatakan bahwa G-20 tidak memiliki

legitimasi sebagai forum pengambilan keputusan untuk rakyat di seluruh dunia,

khususnya yang berada di negara-negara miskin dan berkembang. Liberalisasi

investasi, perdagangan dan keuangan (pasar bebas) yang menjadi agenda utama

G-20 adalah rangkaian kebijakan yang telah dan akan mendorong krisis menjadi

semakin parah. 



Selanjutnya

kami mendorong suatu upaya penyelesaian krisis di tingkat global yang lebih

representatif dan sah, salah satunya melalui mekanisme PBB. Berbagai inisiatif

yang sudah dilakukan dengan pembentukan High Level Task Force (HLTF), yang

merupakan koordinasi global dalam rangka mengatasi krisis pangan. Kemudian ada

pula usulan untuk pembentukan Global

Economic Council (yang diinisiasi oleh Joseph Stiglitz), yakni sebuah

sistem penyimpanan global yang skupnya diperluas. Cara-cara alternatif dan

partisipatif merupakan jalan keluar yang lebih demokratis dalam mengambil

keputusan yang dapat mempengaruhi seluruh dunia.



Kedua, kami mendesak negara-negara maju untuk tidak memperalat negara-negara

berkembang dalam pertemuan G-20 untuk merevitalisasi Putaran Doha Organisasi

Perdagangan Dunia (WTO), dan pembukaan investasi dalam rangka eksploitasi

kekayaan alam negara berkembang dan perdagangan karbon/offset dalam 
penyelesaian krisis. Sebagai bagian dari masalah

krisis global, terutama krisis pangan, mekanisme pasar dalam WTO sudah sejak

lama diprotes oleh rakyat di seluruh dunia. Hal tersebut telah menimbulkan: 1)

Ketergantungan yang sangat besar terhadap pasar internasional, yang pada saat

krisis ini menyebabkan pertanian di berbagai negara kolaps; 2) Eksploitasi

secara besar-besaran sumber daya perikanan negara-negara berkembang via 
negosiasi

NAMA (Non-Agriculture Market Access);

3) Subsidi domestik dan ekspor yang tidak adil dan merusak pasar domestik

(terutama negara miskin dan berkembang); 4) Keuntungan sejumlah perusahaan

transnasional (TNCs) besar pertanian, pemerintah negara sponsornya, serta

spekulator di pasar internasional pangan dan pertanian. 



Kami juga

mendesak sebuah strategi ekonomi domestik yang melindungi kepentingan rakyat

dari serangan utang, eksploitasi sumber daya alam dan liberalisasi pasar..

 



Ketiga, Pertemuan G-20 tidak digunakan untuk

mempromosikan utang baru bagi negara-negara berkembang melalui reformasi

Lembaga Keuangan Internasional (IFIs). Agenda tersebut semakin menguatkan

kembali  peran Bank Dunia dan IMF dalam penyebaran utang luar negri yang

semakin memiskinkan negara-negara berkembang. 



Kami juga menolak utang baru dan

penggunaan anggaran negara untuk restrukturisasi perbankan dan lembaga keuangan

yang mengalami kebangkrutan akibat krisis. 



Transaksi

utang luar negeri memaksa Indonesia

untuk terus melaksanakan kewajiban pembayaran utang luar negerinya meskipun

sumber keuangan negara terbatas. Sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008,

pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri menunjukkan tren yang

meningkat. Sejak awal masa pemerintahan presiden SBY di tahun 2005 sampai

dengan September 2008 total pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman luar

negeri sebesar Rp 277 triliun. Sedangkan total penarikan pinjaman luar negeri

baru dari tahun 2005 sampai dengan September 2008 sebesar Rp 101,9

triliun. 



Reformasi

terbatas terhadap IMF dan Bank Dunia bukanlah jalan keluar. Sebab dua lembaga

tersebut  sejak lama beroperasi sesuai dengan selera negara-negara kaya

yang menjadi pemilik saham mayoritas. Institusi finansial ini seharusnya

berfungsi mendukung pembangunan. Namun, institusi finansial yang ada sekarang

merupakan pengejawantahan ideologi kapitalisme- neoliberal yang malah mereduksi

makna pembangunan hanya pada pertumbuhan ekonomi semata. Selanjutnya, terjadi

legalisasi praktek akumulasi kapital tanpa batas oleh TNCs dengan

mengesampingkan kerusakan sosial dan ekologi. 



Keempat,

dibutuhkan tanggung jawab dan kewajiban negara (state obligation) secara 
langsung serta perubahan kebijakan

secara mendasar dalam rangka penyelamatan rakyat. Menolak model penyelesaian 
krisis

apalagi hanya dalam bentuk stimulus

“pemicu” dalam bentuk insentif bagi penanaman modal, pembebasan pajak dan

keringanan tarif bea masuk yang merugikan perekonomian nasional.  



Konsep

stimulus ekonomi sebagaimana yang direncanakan pemerintah Indonesia, tidak 
berkontribusi

langsung terhadap pekerja dan masyarakat miskin yang justru terkena dampak

paling parah. Stimulus hanya berkontribusi terhadap para pelaku usaha, yang

itupun tidak akan dapat langsung diharapkan dapat mempertahankan kondisi

keuangan perusahaan yang tergerus akibat pelemahan pasar global.



Langkah

yang mesti diambil oleh pemerintah/negara dalam mengatasi krisis harus

merupakan langkah koreksi total dari mekanisme pasar.  Krisis yang

sedemikian akut tidak akan dapat diatasi dengan cara-cara yang konservatif

seperti rangsangan/stimulus yang terkesan masih mengharapkan pasar dapat

bekerja secara alamiah. Paradigma penyelesaian krisis sebagai bagian dari

paradigma pembangunan ekonomi harus diubah secara progresif  yaitu

menggantikan pasar  dengan ekonomi perencanaan yang menuntut peran

langsung negara dalam melibatkan rakyatnya untuk membangun stabilitas ekonomi

yang riil. Hal ini tentunya berhubungan erat dengan amanat konstitusi RI yang

menyatakan bahwa  produksi

dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau penilikan

anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan

kemakmuran orang seorang. Sebab itu, perekonomian disusun sebagai usaha bersama

berdasar atas azas kekeluargaan. 



Kelima, Kami menuntut penyelesaian krisis sumber daya alam (energi, pangan,

air dan perikanan), krisis lingkungan (pencemaran, perubahan iklim), dengan

pengarusutamaan hak-hak rakyat terutama buruh, petani dan konsumen kecil.. 



Kehancuran

sistem ekonomi kapitalisme- neoliberal, di mana produksi terkonsentrasi pada

segelintir individu dan korporasi, harus menjadi momentum perubahan mendasar.

Perekonomian nasional ke depan haruslah menjamin terpenuhinya hak ekonomi,

sosial, dan budaya seluruh masyarakat. Sekaligus melakukan koreksi atas

pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi ekspor demi kepentingan Negara

kapitalisme maju menjadi lebih mengedepankan kepentingan nasional dan

kesejahteraan rakyat banyak dengan mempertimbangkan aspek sosial-ekologi.. 



Keenam, Presiden SBY agar tidak membuat kebijakan yang merugikan rakyat dengan

penciptaan utang baru yang dapat menjadi beban bagi pemerintahan berikutnya.

Mengingat utang indonesia

yang sudah terlampau besar dan menjadi beban ekonomi nasional dan perekonomian

rakyat. Selain itu penggunaan utang untuk restrukturisasi (bantuan keuangan)

untuk pengusaha di tengah kemiskinan rakyat adalah tidak dibenarkan. Kebijakan

utang baru hanya akan melanggengkan ketergantungan Indonesia pada IMF, World 
Bank, dan

ADB. Tiga lembaga yang harus bertanggung jawab terhadap krisis berkepanjangan

yang dihadapi Negara ini.



Di tengah kritik yang tajam atas

kegagalan sistem ekonomi kapitalisme neoliberal saat ini, pemerintah justeru

sangat aktif mengusulkan agenda-agenda penyelamatan/ pemulihan ekonomi yang

berorientasi pasar. Kebijakan liberalisasi pasar yang luas hanya akan menjadi

beban bagi pemerintah berikutnya dalam memulihkan krisis ekonomi dan menjadi

beban bagi perekonomian nasional dan ekonomi rakyat saat ini dan di masa yang

akan datang.



Jakarta, 31 Maret 2009



Serikat Petani Indonesia, Serikat Buruh Indonesia,

Koalisi Anti Utang, Institute for Global Justice, Koalisi Rakyat untuk Keadilan

Perikanan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sarekat Hijau Indonesia



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox 3
http://downloads.yahoo.com/id/firefox/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke