http://www.antara.co.id/arc/2009/4/1/g20-berpacu-dengan-laju-krisis-global/

*G20 Berpacu dengan Laju Krisis Global*


*London* (ANTARA News/AFP) - Pertemuan para pemimpin G20 di London, Kamis,
harus menyingkirkan perbedaan-perbedaan besar mengenai rencana pemberian
paket stimulus dan segera mengambil langkah cepat untuk mengakhiri krisis
keuangan global terburuk dalam beberapa dekade terakhir, demikian para
analis mengingatkan.

Mendahului pertemuan Grup 20 yang akan dihadiri *Presiden AS Barack
Obama*dalam lawatan internasional pertamanya,
*Perdana Menteri Gordon Brown* telah menyerukan kontrak baru (new deal) di
lingkup global untuk mentransformasikan keadaan perekonomian dunia yang
kekeringan likuiditas ini.

"G20 perlu mengambil langkah tandas mengingat krisis masih jauh dari
berakhir dan perekonomian dunia yang retak ini tengah menghadapi tekanan
penurunan yang signifikan," kata Gerard Lyons, kepala ekonom pada Standard
Chartered bank.

Krisis keuangan global yang merebak akhir 2007 dan bermuara dari investasi
beracun pada pasar kredit perumahan di AS, telah mengantarkan perekonomian
dunia ke kondisi terburuk sejak Depresi Besar 1930an.

Dengan begitu banyaknya kepentingan yang akan diperdebatkan pada Pertemuan
G-20 di London itu, perbedaan-perbedaan tajam mengenai bagaimana cara
terbaik mengatasi penurunan ekonomi yang tak pernah terjadi sebelumnya,
diperkirakan bermunculan.

Pertemuan akan dibuka Gordon Brown dan Obama menyatakan mendukung setiap
program stimulus bersama untuk memacu kembali perekonomian dunia, sedangkan
Dana Moneter Internasional menginginkan jumlah stimulus global setara dengan
2 persen output ekonomi global.

Namun pertemuan ini juga menghadapi tantangan keras dari sejumlah negara,
khususnya Jerman, yang menginginkan rencana yang sudah ada dikerjakan
dahulu, sehingga tekanan ini akan menghambat turunnya paket stimulus baru
yang lebih segar.

Minggu ini, Brown mengajukan aksi global yang lebih menyeluruh dengan
membangun fondasi-fondasi baru bagi sistem keuangan yang diatur lebih ketat.

"Selama berminggu-minggu, Pertemuan G20 digadangkan sebagai peluang besar
bagi negara-negara berperekonomian besar untuk bersama mengatasi krisis
global tapi realitasnya jauh dari harapan karena ada perbedaan besar
mengenai stimulus fiskal dan pengaturan sistem keuangan," kata ekonom IHS
Global Insight, Nariman Behravesh.

Pertemuan kali ini akan menjadi pertemuan internasional besar yang dihadiri
Obama dan sangat diharapkan menghasilkan new deal di abad 21 dan bisa
mendorong munculnya aksi global yang tak pernah terjadi sebelumnya bagi
terciptanya sistem keuangan yang benar, tambahnya.

Para menteri keuangan G20 yang bertemu di luar kota London belum lama di
bulan ini, menyepakati landasan bersama bagi dinaikannya modal IMF dan
memperketat pengaturan pasar, namun pada bagian yang krusial mereka terpecah
dalam soal skala paket stimulus ekonomi.

Para menteri keuangan ini juga menyatakan bahwa prioritas tertinggi mereka
adalah memulihkan kredit bank untuk menjinakkan dampak krisis keuangan
global.

"Pertemuan G20 pastinya akan menciptakan landasan, tapi harus menghadapi
dulu ancaman proteksionisme, penambahan modal IMF, pengaturan kepajakan yang
lebih keras dan pemajuan signifikan dalam pengaturan keuangan," kata
Behravesh.

G20 yang terdiri dari gabungan negara-negara industri maju dan berkembang,
perlu mencapai tiga komitmen kunci, demikian Lyons dari Standard Chartered.

Dia menyatakan, G20 perlu mempertegas sikapnya dalam mengartikulasikan lebih
kuat lagi kebijakan mengenai stimulusnya untuk mendorong permintaan dan
mencegah naiknya pengangguran.

Oleh karena itu, G20 harus konsisten menumbuhkan perdagangan dan menghindari
proteksionisme mengingat negara-negara lebih miskin membutuhkan baik
perdagangan bebas maupun akses pasar untuk menghentikan kembalinya
kemiskinan.

Akhirnya, demikian Lyons, para pemimpin G20 perlu tegas pada pengaturan
pasar dan mempromosikan transparansi untuk mendapatkan lagi kepercayaan dan
mengalirnya kembali pinjaman.

Julian Jessop, ekonom pada Capital Economics consultancy, mengingatkan G20
akan bahaya jika terlalu banyak memberi janji namun sulit diaplikasikan.

"Peluang-peluang bagi stimulus fiskal global tambahan tampaknya kecil dan
tidak ada isyarat akan lahirnya kesepakatan mengenai cara-cara terbaik dalam
mendorong dan mereformasi sistem keuangan.

Meskipun begitu masih terlalu dini untuk bisa menyaksikan munculnya
prakarsa-prakarsa bagi perbaikan sistem pendanaan perdagangan dan memulai
lagi perdagangan global dari awal," kata Julian.

G20 terdiri dari tujuh negara industri maju meliputi Inggris, Kanada,
Prancis, Itali, Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat, ditambah Argentina,
Australia, Brazil, China, India, Indonesia, Mexico, Russia, Saudi Arabia,
Africa Selatan, Korea Selatan dan Turki. Uni Eropa menjadi anggota ke-20.
(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke