http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009040206134516

      Kamis, 2 April 2009
     
     
'Golden Triangle' ke 'Golden Bridge'! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      "PERTEMUAN Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir dengan JK dan Mega, berkembang 
ke prakondisi terbaru kancah politik nasional, meningkatkan wacana golden 
triangle--Partai Golkar, PDI-P, PPP--menjadi golden bridge, jembatan emas!" 
ujar Umar. "PAN yang orientasi nasionalisnya menonjol sejak awal, memang 
serbafleksibel untuk lebih dekat dengan paguyuban politik yang ideologis 
oriented--untuk menciptakan pemerintahan yang kuat dengan dukungan 
parpol--tanpa koalisi kekuasaan yang rigid demi bagi-bagi kursi!"

      "Setidaknya silaturahmi Soetrisno Bachir ke dua elite parpol papan atas 
hasil Pemilu 2004 itu penting bagi terciptanya situasi lebih kondusif di 
kalangan elite partai, menyusul silaturahmi silang sejumlah elite parpol selama 
ini!" timpal Amir. "Istilah golden bridge juga amat tepat untuk menciptakan 
pemilu yang damai! Artinya, istilah jembatan emas itu mengacu pada kegiatan 
silaturahmi itu sendiri! Dengan begitu, memasuki pemilu yang tinggal sepekan 
lagi perasaan waswas terhadap hal-hal negatif bisa dikurangi!"

      "Kalau semua itu juga dimaksudkan agar suasana hati warga lebih tenang 
menghadapi pemilu, ada baiknya partai-partai established mengajak dialog 
partai-partai baru, terutama yang terancam gugur oleh parliamentary threshold!" 
timpal Umar. "Dengan salah satu fungsi politik sebagai medium aspiratif, 
rangkulan partai established membuat rasa dihormati, penting bagi langkah ke 
depan!"

      "Pendekatan partai besar ke partai-partai baru tak kalah penting dengan 
silaturahmi sesama partai established, mengingat yang membuat aturan 
parliamentary threshold itu pemerintah dan partai-partai established di DPR!" 
tegas Amir. "Memang, seperti kata Ketua MK Machfud M.D. bahwa sesuai konstitusi 
pemerintah dan DPR berhak membuat aturan itu (Elshinta, 31-3), ketegaan pembuat 
aturan menghanguskan perolehan kursi kurang dari 16 di DPR merupakan 
pencundangan yang tragis terhadap suara rakyat pemilih! Tepatnya, ketegaan itu 
harus diberi kompensasi, paling tidak sikap ramah elite partai-partai 
established pada partai-partai yang dikecundangi aturan itu!"

      "Maksudmu seperti di India, the golden bridge bukan cuma perlu dibangun 
antarsesama partai established, tapi juga sejak dini dibangun dengan 
partai-partai kecil hingga ketika partai afiliasinya menang, partai kecil ikut 
parade kemenangan?" tukas Umar. "Apalagi di sini bakal jadi korban 
parliamentary threshold!"

      "Karena pemilu merupakan aktualisasi kedaulatan rakyat sebagai bangsa 
merdeka, menjadi hak setiap warga negara untuk berekspresi melalui pilihannya!" 
tegas Amir. "Maka itu, ketika pilihan warga negara dalam aktualisasi kedaulatan 
itu dikencundangi, harus disiapkan kompensasi agar kedaulatan warga tetap 
dihormati! Pokoknya dibuat pendekatan menang tanpo ngasorake--menang tanpa 
mengalahkan! Konon pula yang dikalahkan rakyat sendiri, dengan penghangusan 
hasil pilihannya!"
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke