http://www.sinarharapan.co.id/berita/0904/03/sh04.html

Caleg "Prasejahtera" Kebingungan

Oleh
Iman Nur Rosyadi



SERANG - Sebuah pesan singkat atau SMS masuk ke handphone (HP). "Katanya, saya 
calon anggota legislatif provinsi. Tetapi sumpah, sampai sekarang saya hanya 
pegang uang Rp 73.000. Bingung, dah menghadapi pemilih. Believe or not." SMS 
lainnya berbunyi; "Kang, pinjam uang Rp 200.000 aja, buat ngongkosin relawan, 
nih."

Pengirim SMS itu Puji Susanto, tercatat sebagai calon anggota legislatif 
(caleg) No 1 Partai Matahari Bangsa (PMB) untuk DPRD Provinsi Banten. 
Sehari-hari, dia dikenal sebagai aktivis buruh dan pengurus di Serikat Pekerja 
Nasional (SPN) Banten. Dia mencalonkan diri dengan semangat hendak 
memperjuangkan nasib buruh dalam kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, 
terutama pemerintah daerah."Selama saya menjadi aktivis buruh, saya merasakan 
betul, betapa kebijakan pemerintah daerah lebih banyak mengabaikan kepentingan 
buruh. Oleh karena itu, saya bertekad maju, dan kalau sudah jadi anggota 
legislatif bisa memainkan peran melalui fungsi-fungsi legislatif daerah," kata 
Puji bersemangat.


Semula dia sangat optimistis. Perhitungannya jelas, dia mengandalkan anggota 
SPN se-Banten yang mencapai 60.000 orang. Sementara itu, untuk menjadi anggota 
DPRD Banten dari Daerah Pemilihan I (Serang dan Cilegon), dia harus berhasil 
meraih suara 30.000 orang. Keoptimistisannya muncul karena sebagai aktivis, 
Puji banyak mengadvokasi buruh ketika menghadapi masalah dengan perusahaan, 
seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), pelecehan dan intimidasi, serta 
kenaikan upah minimum yang dilakukan setiap tahun.

Pemilih Pragmatis
Keoptimisan itu memudar ketika bersosialisasi dengan calon pemilihnya. Sikap 
pragmatis dari calon pemilihnya sangat kental, antara lain pembicaraan lebih 
banyak berkutat soal berapa banyak uang yang bisa diberikan caleg pada 
pemilihnya. "Bentuknya macam-macam. Ada yang minta sumbangan untuk masjid, 
perbaikan jalan, acara anak yatim piatu, pondok pesantren, dan sebagainya. 
Jaringan di kalangan buruh pun sama. Padahal, saya ini mau memperjuangkan 
aspirasi mereka," ujarnya. 


Urusan ini membuat Puji stres. Dia berupaya mencari sponsor, atau lebih 
tepatnya dana untuk kampanye, tidak pernah berhasil. Alhasil, Puji hanya mampu 
membuat stiker dan kartu nama dalam jumlah terbatas. Sementara itu, brosur 
dicetak dengan printer komputer. Hasilnya difotokopi dan disebarkan ke calon 
pemilih. Dia tidak pernah memasang baliho dalam ukuran besar atau sedang karena 
tak ada dana. Puji mengaku mengubah strategi kampanyenya. Dengan menggunakan 
sepeda motor bebek, dia berkeliling mengunjungi daerah-daerah yang sudah 
memiliki hubungan emosional. 

"Capeknya luar biasa, tapi mau apa lagi. Saya sudah kadung (terlanjur) maju, 
enggak mungkin mengundurkan diri." katanya. Puji memang nekad, tetapi sikapnya 
masih lebih baik dibandingkan UZA, caleg dari partai baru. UZA, caleg untuk 
anggota DPRD Kabupaten Lebak ini nekad mengerahkan "orang-orangnya" untuk 
menjarah kelapa sawit di Banten Selatan, Jumat (27/2). Lebih 50 ton kelapa 
diunduh dan diangkut dengan truk. Rencananya, kelapa sawit ini akan dijual ke 
pabrik pengolahan di Bantarjaya, Kabupaten Lebak. Aksi ini diketahui pemilik 
pohon kelapa sawit dan melaporkan ke Kepolisian Resor (Polres) Lebak. Polisi 
meringkus pelaku dan menyita kelapa sawit itu. UZA pun ditangkap dan diperiksa 
secara intensif. Tetapi KPU setempat belum mencoret namanya dari daftar caleg.


Lain lagi dengan Mujahid Chudari atau dipanggil Mumu, caleg No 3 Partai Amanat 
Nasional (PAN) untuk DPRD Provinsi Banten. Dia mengaku tak memiliki modal cukup 
untuk melakukan sosialisasi. Dia merasa tertolong dengan usaha keluarga 
besarnya di bidang percetakan. "Saya mengintip order cetak baliho, stiker atau 
brosur dari caleg lain. Kan, biasanya ada kelebihan bahan. Di atas kelebihan 
bahan itu saya memasang desain. Jadi, ketika pesanan caleg lain dicetak, 
berarti punya saya juga tercetak. Memang, jumlahnya enggak banyak, kan hanya 
kelebihan bahan dari ukuran yang didesain calon lain," kata Mumu. Dengan cara 
itu, Mumu leluasa menyebarkan alat sosialisasi ke calon pemilihnya. 

Tidak Punya Dana
Tidak heran, istilah caleg prasejahtera pun beredar di kalangan pemilih dan 
orang-orang yang terlibat untuk menyukseskan caleg. Ini untuk menunjukan caleg 
yang tidak memiliki dana cukup untuk sosialisasi, mulai dari penyebaran stiker, 
baliho, dan spanduk, serta untuk membiayai berbagai kegiatan.  "Ketika sistem 
pemilihan masih berlandaskan pada parpol, banyak caleg menyetorkan biaya ke 
partai. Jumlahnya bisa terukur. Sekarang ini berdasarkan jumlah suara 
terbanyak. Artinya, si caleg harus turun langsung memikat pemilih. Biaya 
kampanye tidak bisa terukur alias sulit diprediksi," kata Gandung Ismanto, 
pengamat politik dari Universitas Agung Tirtayasa (Untirta) Serang. 


Kondisi ini diperparah dengan menjamurnya parpol sehingga jumlah caleg 
membengkak. Pemilu Legislatif 2009 ini diikuti 5.370 caleg, mulai dari tingkat 
kabupaten/kota, provinsi, dan DPR-RI asal Banten. Ini belum termasuk 71 calon 
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk memperebutkan empat kursi. Suara 
yang diperebutkan berkisar tujuh juta suara. Tingkat persaingan antara caleg 
makin sengit. Persaingan itu bukan hanya antara caleg yang berbeda partai, 
tetapi sesama caleg yang satu partai dan berada di daerah pemilihan (dapil) 
sama. "Tidak ada lagi istilah bahu-membahu antara caleg yang sama partainya. 
Kami harus mengurus diri sendiri agar perolehan suaranya di atas yang 
disyaratkan," kata Mabrur, caleg DPRD Kota Serang dari Partai Serikat Indonesia 
(PSI). 


Mabrur mengaku, sangat sesak napas dengan cara-cara yang diambil caleg yang 
memiliki uang melimpah untuk menarik perhatian dan mengajak memilih dirinya. 
Pembagian uang, sambako, bantuan kemanusian, dan bentuk-bentuk lainnya, 
dilancarkan dengan deras. 
"Coba lihat keluarga yang menjadi Gubernur Banten sekarang. Semuanya turun 
dengan cara yang meriah dan melimpah," katanya.
Persaingan sengit membuat waspada pengelola Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) 
Serang. Rumah sakit ini secara khusus menyiapkan diri untuk menerima para caleg 
yang tidak berhasil meraih suara untuk menjadi anggota legislatif. "Kalau 
tempat khusus tidak disiapkan, seluruh dokter dan para medis sudah menyiapkan 
diri merawat mereka. Memang, ada ruangan yang nanti sengaja tidak dipakai untuk 
pasien biasa," kata dr Budi, Kepala RSUD Serang.


Budi memperkirakan, penyakit yang diderita caleg yang kalah antara lain stres 
dan peningkatan tekanan darah. Pemicunya boleh jadi keletihan dan tekanan 
masalah yang ditimbulkan selama kampanye, termasuk lenyapnya dana yang relatif 
besar untuk membiayai kampanye. n


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke