Contohlah sikap tak berkompromi terhadap ketidak adilan penjajahan dan 
kondisi kebodohan masyarakat. Kyai Saleh ini telah melaksanakan sunnah 
rasulullah dalam arti yang haq. Demikianlah seseorang yang pantas digelari 
'ulama Muslim.


----- Original Message ----- 
From: "Ananto" <[email protected]>
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>
Sent: Tuesday, April 07, 2009 5:14 AM
Subject: [ppiindia] (Tokoh Indonesia) KH. Saleh Lateng, Banyuwangi


KH. SALEH LATENG BANYUWANGI

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama



Banyuwangi sebagai salah satu basis masyarakat santri di tapal kuda (pesisir
timur pulau Jawa) menyimpan berbagai kisah heroik yang belum banyak
diketahui oleh masyarakat luas. Dan sebagai daerah yang cukup jauh dari
pusat kekuasaan, Banyuwangi menyimpan kharismanya sendiri. Banyuwangi
merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kesaktian para kyainya.
Salah satu di antara kyai-kyai sakti tersebut adalah KH Saleh Lateng, salah
seorang pendekar sakti keturunan raja-raja Palembang Sumatera.


*Sejarah Keluarga*


Pada kisaran perempat perteama abad ke-19, Kerajaan Palembang Darussalam
telah kehilangan kendali atas wilayahnya sendiri. Sultan Najamuddin dibuang
oleh Belanda ke Banda Aceh dan pemerintahan palembang dikendalikan oleh
seorang Residen Belanda. Banyak para bangsawan menyingkir keluar daerah,
salah satunya adalah Kiagus Abdurrakhman, kakek Kyai Saleh Lateng. Kiagus
Abdurrakhman ini kemudian menetap di Sumenep dan menikah dengan seorang
perempuan setempat bernama Najihah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang
anak. Namun hanya seorang yang kemudian meneruskan silsilah keturuanan,
yakni Kiagus Abdul Hadi -ayahanda Kyai Saleh, yang kemudian pindah dan
menetap di Banyuwangi.


Terlahir di Kampung Mandar Kota Banyuwangi pada hari Ahad, 6 Ramadhan 1278
H. bertepatan dengan 07 Maret 1862 M. dengan nama Kiagus Muhammad Saleh.
Ibunya berasal dari Panderejo Banyuwangi bernama Aisyah. Nama Kyai Saleh ini
yang terkenal selama hidup hingga sepeninggalnya. Meski setelah berhaji,
namanya berganti menjadi H Muhammad Syamsuddin, namun dalam keseharian
Beliau selalu menuliskan namanya dengan Saleh saja. Dengan demikian ia tetap
dikenal oleh masyarakat sebagai Kyai Saleh saja.


Banyuwangi pada masa kecil Kiagus Muhammad Saleh berada dalam kondisi yang
sangat memprihatinkan, baik dari sisi material maupun secara spiritual.
Rakyat miskin akibat penjajahan dan suasana pertengkaran antar kelompok
masyarakat menjadikan suasana semakin menakutkan. Gank-gank yang terbukti
tidak berdaya melawan kekuatan asing, saling terlibat permusuhan dan
pertikaian untuk menaikkan gengsi pribadi dan golongan. Belum lagi hasutan
politik adu domba Belanda yang menjadikan kondisi ini terus berlarut-larut.


Kendati terlahir di tengah kemerosotan moral masyarakat, namun masa kecil
Kiagus Muhammad Saleh dilalui dengan cara-cara sangat islami. Sedari kecil
Muhammad Saleh belajar mengaji kepada ibu dan bapaknya, serta lingkungan
keluarganya. Pada usia remaja Saleh mulai belajar mengaji ke luar daerah.
Pada usia 15 tahun, Saleh mondok di Kyai Mas Ahmad, Kebon Dalem, Surabaya.
Tak lama kemudian, ia meneruskan pelajarannya ke Bangkalan Madura, kepada
Kyai Kholil. Di Bangkalan ini, Saleh menjadi khodim (pelayan) Kyai Kholil.
Termasuk bersedia menemani anak Kyai kholil, Hasan mencari uang, untuk
keperluan berangkat Haji.


Selama di bangkalan ini pula Saleh belajar berbagai ilmu, termasuk ilmu-ilmu
kesaktian yang kelak akan digunakan secara langsung untuk memperbaiki
masyarakatnya. Selain di bangkalan, Saleh juga meneruskan pencarian ilmunya
hingga ke Bali, yakni kepada Tuan Guru Muhammad Said Jembrana Bali.


Selepas menuntut ilmu di Bali, Saleh bertekad meneruskan pelajarannya ke
Tanah Suci. Saleh menghabiskan masa belajarnya di Mekkah selama enam tahun
sebelum diminta pulang oleh gurunya, Kyai Kholil Bangkalan. Kala itu, selain
belajar, Saleh juga telah mengembangkan ilmunya kepada para pelajar lainnya
di sana. Saleh telah membuka pengajian di Mekkah dengan menggunakan empat
bahasa. Namun Saleh meminta waktu satu tahun lagi untuk Belajar di sana.
Permintaan ini pun diijinkan oleh gurunya tersebut.


Setahun kemudian, kira-kira tahun 1900 M. sekitar umur 38 tahun, Kiagus
Saleh kembali ke kampung halamannya di Banyuwangi. Kiagus Saleh kemudian
menetap di kampung Lateng Banyuwangi, dan selanjutnya terkenal sebagai Kyai
Saleh Lateng. Kyai Saleh secara resmi mendapatkan ijin mengajar di
langgarnya di Lateng dari Bupati Banyuwangi, Koesoemonegoro pada 4 Maret
1909 M. Dari sinilah Beliau mulai mengabdikan dirinya untuk perbaikan
kualitas masyarakat Banyuwangi. Sedikit-demi sedikit, wilayah dakwahnya
semakin meluas hingga ke seluruh penjuru Banyuwangi.


Dalam pengajaran kepada murid-muridnya, Kyai Saleh Lateng sangat menjunjung
sikap tegas terhadap penjajahan. Ia sering berpesan kepada santri-santrinya
untuk berusaha keras menjadi orang pintar agar tidak terus dijajah oleh
bangsa lain. Selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, Kyai Saleh juga mengajarkan
kesaktian-kesaktian yang dipelajarinya sejak mondok di Bangkalan. Dengan
demikian, murid-murid Kyai Saleh bukan hanya terdiri dari kaum santri yang
taat beribadah. Melainkan juga para jagoan dan bromocorah-bromocorah
setempat yang ingin menambah kesaktian. Sehingga banyak sekali algojo dan
tanjak seblang di seluruh wilayah Banyuwangi yang menjadi santrinya.


Dari sinilah kemudian Kyai Saleh lateng muncul sebagai tokoh pemersatu
masyarakat Blambangan. Kelompok-kelompok yang tadinya bertikai, mulai
disatukan dengan alasan sesama murid dari lateng dilarang saling bermusuhan.
Lambat laun para jagoan lokal dan para penyamun jalanan mulai menghentikan
operasianya, karena mematuhi perintah Kyai Saleh Lateng. Semboyan "satu guru
jangan saling mengganggu" rupanya mampu meredam perpecahan di antara
masyarakat Banyuwangi kala itu. Sebagai sesama murid Kyai Saleh Lateng,
mereka mulai mengehentikan pertikaian dan permusuhan.


Kepada masyarakatnya, Kyai Saleh sangat mengayomi dan membuka konsultasi
seluas-luasnya. Mengedepankan saling silaturrahim dan mendamaikan mereka
yang sedang terlibat pertengkaran. Dengan demikian berangsur-angsur
terbangunlah persatuan dan kesatuan Banyuwangi.


*Kehidupan Keorganisasian*


Sebagai salah satu tokoh kunci persatuan masyarakat Banyuwangi, Kyai Saleh
memegang peranan cukup penting dalam membidani kelahiran Nahdlatul Ulama
(NU), terutama di Wilayah Blambangan. Demi menyambung perjuangan keagamaan
dan perjuangan kemerdekaan pada taraf yang lebih luas, Kyai Saleh bergabung
dengan para ulama dari daerah lain. Baik melalui jaringan pertemanan sewaktu
masih menjadi santri di Surabaya dan Madura maupun jalinan persaudaraan
dengan teman-temannya selama menuntut Ilmu di Tanah Suci.


Dalam berorganisasi, Kyai Saleh Lateng bergabung dengan Sarekat Islam. Pada
tahun 1913 Beliau memimpin Rapat Umum Sarekat Islam yang diadakan di
Kawedanan Glenmere Banyuwangi. Selanjutnya, pada 16 Rajab 1344 H. bertepatan
dengan 31 Januari 1926 M. bersama dengan tokoh-tokoh ulama Nusantara
lainnya, Kyai Saleh Lateng juga merupakan salah seorang yang naik di atas
panggung (podium) untuk turut memberikan kontribusi dan dukungan pada
pertemuan Komite Hijaz.


Pada hari yang kemudian dikenal sebagai hari kelahiran Nahdlatul Ulama ini,
Kyai Saleh Lateng ditunjuk oleh KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Hasbullah
untuk menjadi anggota Muassis-Mukhtasar (formatur) pembentukan pengurus
Nahdlatul Ulama yang pertama.


*Sikap Anti Penjajahan*


Dalam mendidik para santri dan masyarakatnya untuk menentang penjajahan,
Kyai Saleh Lateng bersikap keras. Beliau memilih sikap konfrontatif hingga
melarang anak-anaknya belajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh
pemerintah penjajahan. Kyai Saleh melarang keluarga dan para santrinya untuk
memakai celana, melepas Kopyah dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan Belanda.
Kyai Saleh juga mengutus beberapa anaknya ke medan perang gerilya dalam
perjuangan kemerdekaan Indonesia.


Selama masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Kyai Saleh aktif
mengikuti perkembangan perjuangan rakyat Indonesia melalui siaran Radio
Republik Indonesia (RRI) dan surat kabar. Hal ini dilakukan untuk mengecek
keberadaan santri-santrinya yang sedang dikirim ke garis depan pertempuran
dan medan gerilya. Kyai Saleh menyokong perjuangan bersenjata melalui
dukungan dana dan doa kepada santri-santrinya yang akan dikirim ke medan
laga.


Karena tindakan-tindakannya membantu perjuangan kemerdekaan, Kyai Saleh juga
sempat menghadapi kejaran Belanda dan harus menghindar keluar dari Lateng ke
Pakistaji. Di sinilah, Beliau bertemu dengan salah seorang anggota pasukan
yang pernah dipimpinnya. Anggota pasukan ini juga sedang di kejar-kejar oleh
intel Belanda. Kyai Saleh pun kemudian menolongnya. Anggota inilah yang
kemudian menceritakan bahwa sebenarnya, Kyai Saleh Lateng terlibat secara
langsung di garis depan ketika memimpin sepasukan laskar rakyat dalam
penyerbuan terbuka (saat berkumandangnya Resolusi Jihad) ke Surabaya.


Kyai Saleh lateng juga termasuk orang yang sangat tegas dalam menolak
kompromi dengan pemerintah penjajah. Pernah pada masa-masa akhir penjajahan
Belanda di Indonesia, Kyai Saleh ditawari oleh bantuan oleh Belanda untuk
pembangunan pesantrennya. Bahkan konon, Van Der Plass sendiri yang datang
menemui Beliau. Namun bantuan ini ditolak mentah-mentah oleh Kyai Saleh.


Kyai Shaleh juga memiliki andil dalam pembentukan awal awal kementrian
Republik Indonesia. Menurut cerita, suatu ketika, Menteri Agama Republik
Indonesia pertama KHA Wahid Hasyim mencari kitab yang akan digunakan sebagai
pedoman pembentukan organ kementrian. Konon menteri agama mencarinya ke
seluruh pondok pesantren kenalannya, namun belum juga menemukannya.


Maka KHA Wahid Hasyim kemudian mengutus seorang kurir untuk menanyakannya
kepada Kyai Saleh Lateng yang pada waktu itu masih berada di tempat
persembunyian di Pakisaji Kabat. Kurir tersebut meminta dengan membeli atau
mengganti harga atas kitab tersebut. Maka Kyai Saleh Lateng pun kemudian
memberikan kitab bernama Mu'jamul Buldan tersebut dengan bersedia menerima
separo harga dari harga semestinya. Kitab ini merupakan salah satu sumbangan
Kyai Saleh Lateng dalam pembangunan organ Departemen Agama Republik
Indonesia.


*Kehidupan Bermasyarakat*


Sebagai seorang ulama yang telah dididik dalam norma-norma agama yang kuat,
baik di lingkungan keluarga maupun di pesantren, Kyai Saleh selalu
mengamalkan prinsip-prinsip pergaulan islami dalam bermasyarakat. Beliau
memiliki sikap yang tegas dan berani dalam menyatakan kebenaran dan
keadilan. Bahkan meski sering hal tersebut dianggap merugikan.


Sifat budi baik lainnya adalah, Kyai Saleh tidak memilih-milih dalam
pergaulan kemasyarakatan. Beliau banyak memiliki santri dari berbagai
kalangan, baik dari masyarakat santri yang taat maupun dari kelompok
keluarga para bromocorah. Termasuk pula, Kyai Saleh tidak membeda-bedakan
tingkat ekonomi para muridnya. Kyai Saleh tidak membedakan antara santri
anak orang kaya, pejabat dan rakyat miskin kebanyakan.


Sebagaimana umumnya para ulama, Kyai Saleh sangat gemar membaca al-Qur'an
ketika sedang sendirian dan sedang tidak mengajar santri. Kyai Saleh juga
senantiasa mentradisikan pengadaan peringatan-peringatan hari besar Islam.
Termasuk peringatan Haul gurunya, Kyai Kholil Bangkalan.


Kebiasaan-kebiasaan amar ma'ruf nahi mungkar dan disertai dengan keteladanan
dalam mentradisikan kebajikan serta tolong-menolong antar sesama senantiasa
melekat dalam diri Beliau, hingga akhir hayatnya.

Kyai Saleh Lateng berpulang ke Rahmatullah pada malam Rabu, tanggal 29
Dzulqo'dah 1371 H. bertepatan dengan 20 Agusrus 1952 dalam usia 93 tahun.
Atas Izin bupati Banyuwangi, Usman, maka jenazahnya disemayamkan pada jarak
kurang lebih sepuluh meter di sebelah selatan langgar, tempat Beliau biasa
memberikan pengajian kepada santri-santrinya.


Dan untuk mengenang jasa-jasa beliau, maka pada tahun 1956 DPRD Kabupaten
Banyuwangi menyepakati adanya seruas jalan dengan nama Jalan Kyai Saleh
Lateng. Meski jasad Kyai Saleh Lateng telah tertimbun di tanah, namun
jasa-jasanya senantiasa dikenang oleh seluruh masyarakat, dan perjuangannya
akan senantiasa dilanjutkan oleh santri-santri penerusnya. Semoga Allah SWT
mengampuni segala dosa-dosanya dan melimpahkan rahmat untuk kemuliaan
ruhnya.



*Amin Wallahu A'lam bisshowab*

* *

*Disadur dari buku Biografi Kyai Saleh, karya H. Abd, Manan Syah oleh
**Syaifullah
Amin***


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links



Kirim email ke