http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/04/08/09435115/Waduh.Utang.RI.Meningkat.Rp.80.Triliun.per.Tahun
Waduh! Utang RI Meningkat Rp 80 Triliun Per Tahun
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Koalisi Anti Utang menolak penambahan utang negara karena dinilai akan membuat
Indonesia semakin terpuruk.
/
Artikel Terkait:
* Meski IMF Siapkan Triliunan Dollar AS, Indonesia Emoh Utang
* SBY: Saya Tak Akan Ngemplang Utang!
* Utang Dongkrak Cadangan Devisa
* Tahun Ini Utang Swasta Jatuh Tempo 35 Miliar Dollar AS
* Eskalasi Utang Indonesia, Berbahayakah?
Rabu, 8 April 2009 | 09:43 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
sepanjang tahun 2005-2008, peningkatan utang negara naik rata-rata Rp 80
triliun per tahun. Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan
utang pada era Orde Baru, yakni Rp 1.500 triliun dalam jangka 32 tahun atau
sekitar Rp 46,875 triliun per tahun.
Hal tersebut disampaikan Ketua Koalisi Anti-Utang Dani Setiawan melalui siaran
resminya kepada pers di Jakarta, Rabu (8/4). "Transaksi utang luar negeri
memaksa Indonesia untuk terus membayar pinjaman luar negerinya meskipun sumber
keuangan negara terbatas. Saat ini Indonesia tengah berada dalam posisi
keterjebakan utang (debt trap) yang sangat parah," kata Dani.
Ia mengatakan, sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, pembayaran bunga dan
cicilan pokok utang luar negeri menunjukkan trend yang meningkat. Pada awal
tahun 2005 sampai dengan September 2008 total pembayaran bunga dan cicilan
pokok pinjaman luar negeri sebesar Rp 277 triliun. Sementara total penarikan
pinjaman luar negeri baru dari tahun 2005 sampai dengan September 2008 sebesar
Rp 101 ,9 triliun.
Outstanding utang luar negeri Indonesia sejak tahun 2004 hingga 2009 juga terus
meningkat dari Rp 1.275 triliun menjadi Rp 1.667 triliun. Selain itu, total
utang dalam negeri juga meningkat signifikan dari Rp 662 triliun pada tahun
2004 menjadi Rp 920 triliun pada tahun 2009. "Artinya, pemerintah berhasil
membawa Indonesia kembali menjadi negara pengutang dengan kenaikan Rp 392
triliun dalam kurun waktu kurang lima tahun," ujarnya.
Sebelumnya, fakta-fakta serta temuan Badan Pemeriksa Keuangan dan Komisi
Pemberantas Korupsi menyatakan bahwa sejak 1967 hingga 2005 pemerintah baru
memanfaatkan utang negara sebanyak 44 persen. Sisanya tidak pernah dimanfaatkan
oleh pemerintah untuk pembangunan. "Transaksi utang luar negeri selama ini
justru membebani. Indonesia selama ini dipaksa terus membayar utang," tuturnya.
Ia menilai, pemerintah harus menggenjot upaya untuk mengurangi beban utang
dengan cara menegosiasikan penghapusan utang kepada pihak kreditor. Langkah
tersebut harus diikuti dengan komitmen untuk menghentikan ketergantungan
terhadap utang luar negeri baru.
Ia mencontohkan sejumlah negara, seperti Nigeria, Argentina, Ekuador, dan
Pakistan, telah mengambil langkah-langkah penghapusan utang.
===
Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490
ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam?
Kirim email ke: [email protected]
Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info:
http://agusnizami.wordpress.com
Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis.
Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/